MUBA, Desapenari.id – Bencana kembali melanda Jembatan P6 Lalan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Dua tiang pancang jembatan yang sedang dalam proses pembangunan ulang itu roboh setelah sebuah kapal tongkang pengangkut batubara menabraknya dengan keras. Padahal, kita semua masih ingat bagaimana tragedi serupa pada Agustus tahun lalu merenggut nyawa lima pemancing yang sedang asyik memancing di atas jembatan.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu (15/2/2025). Sebuah video amatir yang diunggah akun Instagram @sekayuinformasisumsel dengan cepat menyebar luas. Rekaman itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana sebuah tongkang besar oleng lalu membentur tiang Jembatan P6 Lalan hingga roboh seketika. Tentu saja, kejadian ini sontak menyita perhatian publik. Bukan hanya karena mengulang sejarah kelam, tetapi juga karena jembatan tersebut seharusnya sedang diperbaiki setelah insiden serupa pada 13 Agustus 2024 lalu yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia.
KSOP Angkat Bicara, Nakhoda Langsung Diperiksa
Mendengar kabar ini, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Palembang, Laksamana Pertama TNI Idham Faca, segera angkat bicara. Ia membenarkan kejadian nahas tersebut. Tanpa membuang waktu, pihaknya langsung mengambil tindakan tegas.
“Kami sudah panggil nakhoda kapalnya untuk dilakukan pemeriksaan secara intensif,” ungkap Idham saat dikonfirmasi pada Rabu (18/2/2026). Pemeriksaan ini, jelasnya, merupakan langkah awal untuk mengusut tuntas apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Namun, ia belum mau berspekulasi mengenai penyebab pasti tabrakan tersebut. “KSOP Palembang akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap nakhoda kapal guna mengetahui penyebab pasti insiden,” ujarnya tegas.
Publik pun bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah tongkang sebesar itu menabrak jembatan yang jelas-jelas terlihat dan sedang dalam masa perbaikan? Apakah ini murni kelalaian navigasi, atau ada faktor teknis lain yang bermain? Kita tunggu saja hasil investigasi dari KSOP.
Ini Kronologi Singkatnya:
- Korban Jiwa Sebelumnya: Insiden pertama pada 13 Agustus 2024 menewaskan 5 pemancing.
- Tabrakan Kedua: Minggu, 15 Februari 2025, tongkang batubara kembali menabrak.
- Tindakan: Nakhoda kapal langsung diperiksa KSOP Palembang.
Gubernur Sempat Beri Ultimatum Keras, Dana Rp35 Miliar Baru Terkumpul
Kejadian ini semakin memanas mengingat Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, sebelumnya telah mengeluarkan ultimatum keras kepada para pengusaha batubara. Pasca robohnya jembatan pada Agustus 2024, ia memperingatkan Asosiasi Pengguna Alur Sungai Lalan (AP6L) untuk segera bertanggung jawab. Herman Deru bahkan sempat menutup lalu lintas di Sungai Lalan dan melarang semua kapal batubara berlayar. Ia memberikan tenggat waktu yang ketat: dana perbaikan sebesar Rp35 miliar harus segera terkumpul.
“Ifalnya hingga 31 Desember pukul 24.00 WIB uang tidak terkumpul sesuai dengan pembiayaan yang sudah dihitung atau pekerjaan tidak selesai, kita sepakat akan menghentikan alur itu untuk dilalui batubara,” tegas Herman Deru pada Selasa (30/12/2025). Ultimatum ini jelas membuat para pengusaha batubara bergerak cepat. Mereka sadar, jika jalur Sungai Lalan ditutup total, aktivitas bisnis mereka akan lumpuh total.
Ternyata, ultimatum tersebut berhasil. Keesokan harinya, tepat di hari terakhir tenggat waktu, dana sebesar Rp35 miliar akhirnya disetorkan ke pemerintah daerah. Dengan demikian, aktivitas tongkang batubara kembali diizinkan berlayar pada Senin (12/1/2026). Namun, baru sebulan lalu lintas dibuka, tragedi tabrakan ini kembali terjadi. Ironis, bukan?
Pertanyaan Besar Menggantung
Dengan adanya tabrakan kedua ini, kita semua pasti bertanya-tanya: apakah uang Rp35 miliar itu sudah digunakan untuk perbaikan yang memadai? Apakah sistem navigasi di alur Sungai Lalan sudah benar-benar aman? Atau justru kelengahan awak kapal yang kembali menjadi biang kerok?
Yang jelas, KSOP Palembang kini memiliki pekerjaan rumah yang besar. Mereka harus mengusut tuntas tabrakan ini dan memastikan tidak ada lagi nyawa melayang sia-sia. Pemeriksaan terhadap nakhoda kapal menjadi kunci utama. Sementara itu, masyarakat Muba dan sekitarnya hanya bisa berharap agar proses perbaikan jembatan kali ini berjalan lancar dan tak lagi diganggu oleh insiden serupa. Sungai Lalan seharusnya menjadi urat nadi ekonomi, bukan kuburan bagi para pengguna jalan dan pemancing yang tak bersalah.
Kita akan terus memantau perkembangan kasus ini. Yang pasti, insiden ini menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk lebih mengutamakan keselamatan daripada sekadar kecepatan dan keuntungan bisnis. Jangan sampai sejarah kelam terus berulang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

