JAKARTA, Desapenari.id – Pemerintah Indonesia benar-benar serius menggenjot kerja sama dagang dengan Amerika Serikat. Dalam waktu dekat, porsi impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Negeri Paman Sam akan melonjak signifikan hingga menyentuh angka 70 persen. Bayangkan, saat ini porsi impor LPG kita dari AS masih berkisar 57 persen. Artinya, terjadi lompatan besar yang akan segera terealisasi!
Keputusan berani ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Langkah ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kesepakatan dagang atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (19/2/2025) lalu. Kedua pemimpin negara sepakat untuk mempererat hubungan dagang yang saling menguntungkan.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan detail mengejutkan di balik kesepakatan monumental ini. Ia menjelaskan, dalam perjanjian bersejarah tersebut, Indonesia berkomitmen membeli produk energi dari AS dengan nilai fantastis, yakni 15 miliar dollar AS. Jika dikonversi dengan kurs Rp 16.880 per dollar AS, nilainya mencapai Rp 253 triliun! Angka yang sungguh luar biasa, bukan?
“Selama ini kita memang sudah mengimpor porsi yang cukup besar dari Amerika Serikat, kurang lebih sekitar 57 persen. Nah, dengan adanya kesepakatan dagang yang baru ini, tentunya kita akan meningkatkan impor hingga bisa mencapai 70 persen,” ujar Simon dalam konferensi pers secara virtual di Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (20/2/2026) malam. Ia menyampaikan pernyataan ini dengan penuh optimisme.
Simon menuturkan, Pertamina sesungguhnya terus berupaya mati-matian meningkatkan produksi dan lifting migas nasional. Berbagai upaya eksplorasi dan eksploitasi gencar dilakukan. Namun, realitas di lapangan berkata lain. Akibat penurunan alamiah (natural decline) yang terjadi di sejumlah lapangan migas tua, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan energi masyarakat. Oleh karena itu, impor masih menjadi opsi yang tak terhindarkan untuk menjaga pasokan tetap aman.
Bukan hanya LPG, ternyata komoditas lain juga masuk dalam daftar belanja energi Indonesia ke AS. Simon menegaskan, volume impor minyak mentah (crude) dari AS juga akan ditingkatkan secara signifikan. Langkah ini diambil dengan perhitungan matang.
Menurut Simon, kebijakan menggenjot impor dari AS ini sekaligus menjadi bagian strategis dari diversifikasi sumber energi. Tujuannya jelas, yakni untuk menjamin ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Dengan strategi ini, Pertamina tidak lagi hanya bergantung pada pasokan energi dari negara-negara Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Kini, mereka memperluas sayap hingga ke AS.
“Begitu juga untuk crude (minyak mentah) yang berasal dari Amerika Serikat, kita juga akan dorong untuk peningkatan volumenya,” tegas Simon.
Setelah penandatanganan kesepakatan tingkat tinggi ini, proses finalisasi kini memasuki tahap krusial. Pemerintah menargetkan seluruh proses rampung dalam 90 hari ke depan. Artinya, dalam waktu kurang lebih tiga bulan, detail teknis kesepakatan ini akan tuntas dibahas.
Simon memastikan, seluruh proses akan dijalankan sesuai prosedur dan prinsip tata kelola yang baik. Ia berjanji tidak akan ada celah kecurangan dalam implementasinya nanti. Pertamina berkomitmen menjalankan amanat negara dengan penuh tanggung jawab.
“Dengan demikian kami berharap bahwa semua proses dari kesepakatan dagang ini dapat berlangsung dengan baik. Tentu ini akan memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia dan mitra kami di AS,” ucap dia penuh harap.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga buka suara terkait kesepakaran dagang ini. Ia menyatakan Indonesia akan membeli elpiji, bahan bakar minyak (BBM), dan minyak mentah (crude oil) dari AS senilai 15 miliar dollar AS. Namun, ada poin penting yang perlu diluruskan.
Bahlil menegaskan, alokasi pembelian senilai 15 miliar dollar AS tersebut bukan berarti menambah volume impor energi Indonesia secara keseluruhan. Masyarakat tidak perlu khawatir. Pemerintah hanya mengalihkan sebagian sumber impor dari sejumlah negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika ke AS. Jadi, total volume impor energi secara nasional tetap sama. Yang berubah hanyalah negara asalnya. Terjadi pergeseran portofolio, bukan penambahan beban impor.
Meski begitu, Bahlil belum bersedia mengungkapkan secara detail berapa besaran volume impor yang akan dialihkan ke AS. Ia masih merahasiakan angka pastinya. Namun, ia berjanji akan memberikan kejelasan dalam waktu dekat.
“Berapa persen yang kita switch (geser) dari Middle East (Timur Tengah) atau Asia Tenggara, dan Afrika, nanti saya akan sampaikan tiga minggu terhitung sekarang,” ucap dia dalam kesempatan yang sama. Kita tunggu saja pengumuman resminya.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

