DUBAI, Desapenari.id – Iran benar-benar menghajar habis-habisan wilayah Uni Emirat Arab pada Sabtu (28/2/2026) malam. Mereka tidak main-main dalam serangan udara kali ini. Pasukan Iran secara langsung menghancurkan sejumlah destinasi wisata paling mewah sekaligus infrastruktur paling vital di Dubai.
Ledakan dahsyat pertama kali mengguncang pulau buatan Palm Jumeirah. Tak lama berselang, api langsung berkobar melalap hotel paling ikonik di dunia, Burj Al Arab. Situasi berubah menjadi mimpi buruk di kota metropolitan yang selama ini dikenal sebagai surga wisata itu.
Namun, serangan ternyata tidak berhenti di kawasan wisata saja. Bandara Internasional Dubai yang merupakan salah satu bandara tersibuk di planet ini ikut babak belur. Demikian pula dengan Pelabuhan Jebel Ali yang merupakan pusat logistik terbesar di kawasan Teluk. Semuanya hancur dalam satu malam.
Ledakan Bertubi-tubi Hantam Palm Jumeirah
Saksi mata di Palm Jumeirah menceritakan suasana mencekam kepada AFP, Minggu (1/3/2026). Mereka mendengar suara ledakan super keras yang memekakkan telinga. Segera setelah itu, mereka melihat kepulan asap hitam tebal membumbung tinggi dari salah satu hotel bintang lima di kompleks perumahan eksklusif berbentuk pohon palem tersebut.
Kantor Media Dubai akhirnya angkat bicara. Mereka mengonfirmasi bahwa sebuah gedung memang terkena insiden. Akibat kejadian itu, empat orang harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka.
Belum reda kepanikan warga, beberapa jam kemudian situasi kembali memanas. Saksi mata lain melaporkan sebuah benda mirip drone jatuh dari langit. Benda tersebut kemudian meledak dan memicu ledakan kedua di lokasi yang persis berdekatan dengan titik pertama. Masyarakat pun semakin kalang kabut.
Burj Al Arab dan Bandara Dubai Ikut Tersapu Serangan
Otoritas UEA segera merilis pernyataan resmi. Mereka mengungkapkan bahwa Iran telah meluncurkan rudal dan drone dalam jumlah yang sangat mencengangkan. Tercatat, sedikitnya 137 rudal dan 209 drone mereka kerahkan untuk menghantam wilayah UEA.
Meskipun sistem pertahanan udara UEA bekerja keras dan berhasil mencegat sebagian besar serangan, puing-puing yang berjatuhan tetap menimbulkan malapetaka. Puing-puing tersebut jatuh tepat di area padat penduduk dan infrastruktur kritis.
Salah satu puing dari drone yang berhasil dilumpuhkan jatuh menghantam dasar bangunan Burj Al Arab. Hotel mewah berbentuk layar yang dikenal sebagai hotel “bintang tujuh” pertama di dunia itu langsung diselimuti api. Kebakaran kecil menjalar pada fasad luar bangunan ikonik tersebut.
Namun, tim penyelamat bergerak cepat. “Tim Pertahanan Sipil segera merespons dan mengendalikan insiden tersebut. Tidak ada laporan korban luka di lokasi tersebut,” tulis Kantor Media Dubai melalui akun resmi di X, berusaha menenangkan publik.
Sementara itu, situasi di Bandara Internasional Dubai jauh lebih mengkhawatirkan. Empat orang staf bandara dilaporkan terluka setelah sebuah ruang tunggu penumpang rusak ringan terkena puing. Manajemen bandara pun mengambil langkah drastis dengan menutup seluruh wilayah udara UEA. Penumpang berduyun-duyun dievakuasi meninggalkan bandara, meninggalkan terminal yang biasanya ramai menjadi sunyi.
Di Pelabuhan Jebel Ali, situasi tak kalah panas. Pelabuhan yang selama ini menjadi tempat bersandarnya kapal perang dan kapal induk kebanggaan Amerika Serikat itu tiba-tiba dilalap api. Puing-puing hasil pencegatan rudal jatuh dan membakar sebagian area pelabuhan strategis tersebut.
Abu Dhabi juga tidak luput dari amukan serangan ini. Di Bandara Internasional Zayed, insiden serupa memakan korban jiwa. Satu orang dinyatakan tewas di tempat, sementara tujuh lainnya harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi luka-luka.
Para analis langsung menghitung dampak ekonomi dari serangan ini. Sektor bandara dan pelabuhan selama ini menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan negara UEA. Serangan ini jelas menghancurkan jantung perekonomian mereka.
Lebih dari itu, citra Dubai sebagai kota global yang identik dengan kemewahan dan keamanan mutlak kini tercoreng. Para wisatawan dan investor pasti akan berpikir ulang untuk datang ke negara yang tiba-tiba berubah menjadi medan perang.
Iran memang melancarkan serangan brutal ini ke semua negara Teluk yang kaya minyak dan gas. Mereka sengaja menghindari Oman yang selama ini menjadi mediator dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Tindakan ini merupakan aksi balas dendam atas serangan sebelumnya yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

