Desapenari.id – Kamis malam yang mencekam! Direktorat jenderal pemasyarakatan (ditjenpas) kementerian imigrasi dan pemasyarakatan (kemenimipas) secara dramatis memindahkan paksa 263 warga binaan (narapidana) kategori berisiko tinggi alias super bahaya dari enam provinsi ke lapas super maximum security nusakambangan, jawa tengah. Bayangkan, malam itu juga, operasi senyap ini berlangsung penuh ketegangan.
Mengapa ini penting? Sebab, direktur jenderal pemasyarakatan (dirjenpas) mashudi dengan tegas mengungkapkan bahwa pemindahan massal ini merupakan instruksi panas langsung menteri imipas agus andrianto. Tujuannya apa? Satu: membersihkan lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) dari jaringan narkoba kakap! Bukan sekadar imbauan, ini perang terbuka.
“Kami tegaskan kembali, tidak ada satu pun ruang atau celah untuk narkoba,” seru mashudi dengan lantang dalam keterangannya, jumat (24/4/2026). “Kami cegah, kami tangkal, dan apabila kami temukan, pasti kami berantas habis!” tegasnya penuh otoritas. Sikap ini langsung membuat nyali para bandar narkoba di balik jeruji bergetar.
Siapa saja yang dijemput paksa? Ini daftar lengkapnya!
Lalu, dari mana saja 263 napi super berbahaya ini diamankan? Mari kita bedah satu per satu. Ternyata, mereka berasal dari enam provinsi dengan rincian yang mencengangkan:
- Sumatera utara menyumbang 44 orang gembong narkoba.
- Riau menjadi kontributor terbesar dengan jumlah 103 orang.
- Dari jambi, petugas menjemput paksa 42 napi berisiko tinggi.
- Sumatera selatan melepas 11 orang bandar.
- Lampung mengirimkan 18 tahanan kelas kakap.
- Dki jakarta tak mau kalah, menyetor 45 napi paling berbahaya.
“Kamis malam ini sekitar pukul 21.50 wib, seluruhnya telah kami terima dengan aman oleh petugas lapas di nusakambangan,” ujar mashudi dengan napas lega. Operasi senyap ini sukses total tanpa kebocoran sedikit pun.
Proses menegangkan! Semua sesuai sop kungli
Bagaimana proses pemindahannya? Jangan bayangkan seperti piknik. Mashudi menuturkan bahwa pemindahan dan penerimaan warga binaan di masing-masing lapas dijalankan dengan super profesional sesuai sop yang berlaku. Artinya, setiap gerak-gerik napi diawasi super ketat.
Selanjutnya, apa yang menanti mereka di nusakambangan? Suram. Sebab, pemerintah akan menerapkan pengamanan dan pembinaan dengan tingkat maksimum dan super maksimum. Bisa dibilang, ini hotel bintang minus bagi para bandar narkoba. Tidak ada lagi kongsi-kongsi gelap, tidak ada lagi ponsel mewah, semuanya kena kurungan total.
Menteri agus andrianto: Zero toleransi! Bandar narkoba di lapas, kami buru!
Dia juga mengingatkan bahwa menteri imipas agus andrianto berulang kali meneriakkan komando perang: zero narkoba dan zero ponsel di lapas dan rutan. Ini bukan isapan jempol belaka.
“Siapapun yang terbukti terlibat, sanksi hukuman berat pasti kami jatuhkan,” ujar dia dengan nada mengancam. Kalimat ini seharusnya membuat merinding semua oknum petugas maupun napi yang masih main mata dengan setan narkoba.
Bukan reaksi buru-buru! Ini program massif sejak 2020
Perlu kamu tahu, komitmen memberantas narkoba dari lapas dan rutan dengan memindahkan narapidana beresiko tinggi ini bukanlah langkah mendadak. Sebab, ditjenpas sudah menjalankan strategi jitu ini sejak tahun 2020, lalu berlanjut secara intensif hingga 2025 dan bahkan awal 2026 ini. Jadi, ini perang panjang.
“Total 2.554 warga binaan high risk sudah kami pindahkan ke nusakambangan,” ungkap dia dengan bangga. Bayangkan, lebih dari dua ribu bandar narkoba sudah diamankan di penjara super maksimum. Ini rekor yang mencengangkan.
Tindakan triple power: Represif, rehabilitatif, preventif!
Mengapa langkah ini begitu genius? Mashudi menekankan bahwa langkah ini merupakan tindakan represif (penghancuran), rehabilitatif (perbaikan), dan preventif (pencegahan) secara simultan. Tujuannya tunggal: agar lapas dan rutan terlindungi total dari peredaran gelap narkoba.
“Sekali lagi saya sampaikan bahwa pemindahan ini bukan hanya tindakan represif,” terang dia dengan gaya komunikatif. “Tetapi juga langkah rehabilitatif sekaligus preventif agar lapas dan rutan seoptimal mungkin terlindungi dari penyebaran perilaku melanggar. Concern kami adalah memberantas pelanggaran terkait penyalahgunaan dan peredaran narkoba.”
Bukan hanya narkoba! Ini juga bahan bakar pelanggaran lain
Selain narkoba, apakah ada alasan lain? Jelas. Mashudi menyebut bahwa warga binaan atau napi berisiko tinggi yang dipindahkan ke nusakambangan juga dipicu oleh penyebab perilaku melanggar lainnya. Jadi, mereka ini multi-kejahatan.
“Intinya, semua perilaku yang mengganggu keamanan dan ketertiban dalam kategori high risk, salah satu tindakan tegas yang kami lakukan adalah memindahkan mereka ke nusakambangan,” ujar dia. Jadi, bagi siapa pun yang masih berani membuat onar di dalam, waspadalah. Kalian akan menyusul.
Ada harapan? 6 bulan lagi mereka bisa turun kasta?
Menariknya, perwira tinggi polri itu juga menyebutkan bahwa warga binaan dapat segera berperilaku lebih baik usai pemindahan. Jadi, tidak selamanya mereka merana.
“Setelah 6 (enam) bulan, mereka akan kami asesmen,” ujar dia optimistis. “Dan apabila terjadi perubahan perilaku yang lebih baik, mereka akan kami pindahkan ke lapas dengan tingkat pembinaan dan pengamanan yang lebih rendah.” Artinya, pintu perbaikan masih terbuka lebar.
Sukses story! Sudah ada napi yang lolos ke level minimum
Buktinya? Mashudi menambahkan dengan bangga bahwa sudah ada beberapa warga binaan yang sebelumnya masuk kategori berisiko tinggi berhasil turun ke level pengamanan sampai dengan minimum di lapas terbuka nusakambangan. Ini membuktikan sistem ini benar-benar berjalan.
Kolaborasi super tim: Ditjenpas + polri = perang narkoba total
Terakhir, pemindahan warga binaan ini dilakukan oleh ditjenpas melalui direktorat pengamanan and intelejen serta direktorat kepatuhan internal. Mereka berkolaborasi secara sinergis dengan aparat kepolisian dan petugas pemasyarakatan dari kantor wilayah direktorat jenderal pemasyarakatan masing-masing wilayah. Tanpa kerja sama mulus ini, operasi sebesar ini pasti gagal.
Kesimpulan mencengangkan: Perang terhadap narkoba di indonesia kini memasuki babak baru yang lebih kejam dan terukur. Nusakambangan bukan lagi sekadar pulau angker, tetapi tempat pertobatan paksa bagi para bandar. Apakah ini efektif? Waktu yang akan menjawab. Namun yang jelas, mereka tidak akan bisa bermain lagi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

