MURATARA, Desapenari.id – Bayangkan, pagi-pagi buta Anda hendak ke kebun, tiba-tiba melihat delapan bangkai kerbau berserakan dengan bekas gigitan mengerikan! Itulah mimpi buruk yang kini menghantui warga Desa Kuto Batu Tanjung, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Kemunculan harimau yang diduga merangsek hingga ke area perkebunan dan bahkan mendekati permukiman warga telah membuat suasana desa menjadi tegang luar biasa.
Apa yang terjadi? Dalam beberapa pekan terakhir, sedikitnya delapan ekor kerbau milik warga ditemukan tewas dengan luka mengerikan. Tidak perlu banyak tebak-tebakan lagi, warga langsung menduga bahwa ternak-ternak itu menjadi santapan empuk bagi satwa buas yang tengah “berlibur” ke pemukiman mereka. Kesimpulan ini semakin kuat setelah didukung oleh bukti fisik yang sulit dibantah.
Jejak Besar di Kebun Warga Bikin Merinding!
Rasa was-was warga meledak menjadi kepanikan nyata ketika beberapa orang menemukan jejak kaki berukuran besar dan menyeramkan di sekitar kebun milik mereka. Jejak itu jelas bukan milik anjing atau kucing hutan biasa—ukurannya terlalu besar, cakarnya terlalu tajam, dan polanya terlalu khas. Tanpa buang waktu, warga langsung melaporkan temuan ini ke pihak berwenang. Merespon laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan pun langsung mengerahkan tim khusus untuk melakukan pengecekan di lokasi kejadian.
BKSDA Buka Suara: “Besok Kemungkinan Besar Harimau!”
Kepala BKSDA Sumatera Selatan, Yusmono, menjelaskan bahwa pihaknya sama sekali tidak meremehkan laporan masyarakat. Setelah tim melakukan pengecekan awal di lapangan, kesimpulan sementara pun diambil. “Kami sudah menerima informasi lengkap dari warga dan tim investigasi kami langsung tancap gas turun ke lokasi,” ujar Yusmono dengan nada serius, Minggu (26/4/2026).
Ia menambahkan dengan tegas, “Berdasarkan bentuk, ukuran, dan pola langkahnya, kemungkinan besar jejak itu benar-benar milik harimau. Apalagi, lokasinya hanya berjarak selemparan batu dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang memang merupakan habitat asli mereka.” Jadi, bukan isapan jempol belaka—harimau sungguhan sedang berkeliaran di dekat rumah warga!
Kenapa Harimau Berani Turun Gunung? Ini Penyebab Mencengangkan!
Lantas, apa yang membuat sang raja hutan ini nekat keluar dari kawasan konservasi dan “bertamu” ke perkebunan warga? Yusmono memberikan penjelasan yang membuat kita semua berpikir keras. “Penyebab utamanya bisa jadi karena kondisi di dalam kawasan TNKS sudah terganggu parah,” ungkapnya tanpa basa-basi.
Dengan gaya bicara yang lugas, ia melanjutkan, “Bisa jadi ada aktivitas perambahan hutan liar yang merusak rumah mereka, atau mungkin perburuan satwa buruan yang mengurangi sumber makanan alami harimau. Akibatnya, mereka terpaksa keluar untuk mencari nafkah—eh, mencari makan—hingga ke kebun warga.” Jadi, sebenarnya harimau ini bukan sekadar “nakal”, melainkan mungkin sedang putus asa karena habitat aslinya sudah tidak lagi ramah.
Peringatan Keras BKSDA: Jangan Coba-coba ke Kebun di Jam-Jam Ini!
Menyadari betapa gentingnya situasi, BKSDA langsung mengeluarkan imbauan yang tidak bisa dianggap enteng. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan berkali-kali lipat, terutama saat hendak beraktivitas di kebun pada pagi buta, sore menjelang maghrib, atau bahkan malam hari.
“Kami minta warga agar ekstra hati-hati dan mulai sekarang kurangi aktivitas di kebun pada waktu-waktu yang rawan tersebut. Dari jejak yang kami temukan, berdasarkan polanya, diduga hanya seekor harimau yang beroperasi di area ini,” tegas Yusmono. Meski hanya satu ekor, namun tetap saja—satu harimau lapar sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh desa ketakutan!
Kadus Angkat Bicara: “Kejadian Serangan Sudah Berulang Kali, Warga Trauma!”
Ahmad Syukri, Kepala Desa Kuto Batu Tanjung, juga tidak bisa menutupi kekhawatirannya. Dengan suara bergetar, ia membenarkan semua laporan tentang ternak warga yang menjadi korban keganasan satwa buas ini. “Dalam beberapa bulan terakhir, serangan terhadap ternak sudah terjadi berkali-kali,” tuturnya dengan nada prihatin.
Ia merinci, “Dalam beberapa kejadian terakhir, total sudah delapan ekor kerbau milik warga yang mati dengan cara yang sama—diduga kuat dimangsa harimau. Warga di sini tentu sangat ketakutan dan khawatir untuk beraktivitas di kebun, apalagi saat menggembalakan ternak. Rasanya seperti hidup di bawah ancaman yang bisa datang kapan saja.”
Pesan Moral: Ini Bukan Cuma Masalah Harimau, Tapi Masalah Kita Semua!
Kejadian ini bukan sekadar berita horor biasa, melainkan alarm keras bagi kita semua. Kemunculan harimau hingga ke pemukiman adalah cermin nyata bahwa ekosistem kita sedang tidak baik-baik saja. Di saat warga Muratara harus berjuang melindungi ternak dan keselamatan mereka, di saat yang sama, harimau ini juga hanya berjuang untuk bertahan hidup.
Pangkal masalahnya jelas: habitat mereka rusak. Jika perambahan hutan dan perburuan liar terus dibiarkan, maka konflik antara manusia dan satwa liar seperti ini akan semakin sering terjadi. Bukan tidak mungkin, korban berikutnya bukan lagi kerbau, melainkan manusia itu sendiri.
BKSDA dan aparat desa saat ini terus berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik. Namun, tanpa dukungan semua pihak—mulai dari masyarakat, pemerintah, hingga aktivis konservasi—maka siklus teror ini tidak akan pernah berakhir.
Jadi, bagi Anda yang tinggal di sekitar kawasan konservasi atau sekadar pencinta alam, mari mulai sadar: Jaga hutan, maka hutan akan menjaga kita. Biarkan harimau hidup di rumahnya, maka mereka tidak akan pernah “mampir” ke rumah kita. Tetap waspada, tetap aman, dan jangan lupa dukung upaya konservasi!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

