SURABAYA, Desapenari.id – Seorang calon jemaah haji asal Embarkasi Surabaya dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci. Apa penyebabnya? Bukan karena masalah visa atau kuota, melainkan karena terdeteksi positif tuberkulosis (TBC) saat menjalani skrining terakhir oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya. Bayangkan, gagal di detik-detik akhir menjelang keberangkatan.
Proses Skrining Super Ketat, Tak Ada yang Luput dari Mata BBKK
Setibanya di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, BBKK Surabaya langsung menggelar pemeriksaan kesehatan menyeluruh kepada setiap calon jemaah. Tim medis tidak main-main. Mereka mengukur tekanan darah, melakukan tes urine khusus untuk perempuan usia subur, hingga mengintensifkan skrining TBC. Bahkan, mereka juga memeriksa kondisi kehamilan setelah mengetahui ada satu jemaah yang mengandung di bawah 14 minggu dan otomatis tidak diberangkatkan.
Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, mengungkapkan data mengejutkan saat dikonfirmasi pada Kamis (7/5/2026). Ternyata, tidak hanya satu orang yang bermasalah. Sebanyak 21 calon jemaah haji terpaksa dirujuk ke rumah sakit karena mengalami gangguan kesehatan serius dan terindikasi kuat mengidap TBC. Namun, setelah melalui pemeriksaan tahap dua yang lebih teliti di kabupaten dan kota, hasil akhirnya hanya satu orang yang benar-benar positif TBC.
Rosidi menjelaskan dengan tegas, “Dari 21 jemaah yang kami skrining ulang untuk TB, hasil akhirnya satu orang positif dan dipastikan tidak laik terbang. Kami tidak bisa mengambil risiko, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ribuan jemaah lainnya.”
Nasib 20 Jemaah Lainnya: Negatif TBC Tapi Belum Tentu Berangkat
Lalu, bagaimana dengan 20 jemaah lainnya yang hasil skrining TBC-nya negatif? Jangan senang dulu! Meskipun bebas dari TBC, keberangkatan haji mereka bisa tetap ditunda jika kondisi kesehatan secara umum belum stabil. BBKK Surabaya tidak ingin setengah-setengah. Mereka memprioritaskan keselamatan jemaah di atas segalanya.
Untungnya, Rosidi memberikan secercah harapan. Ia menyatakan bahwa beberapa jemaah yang hasil skriningnya negatif dan kondisinya sudah membaik, sudah diperbolehkan berangkat. “Masih ada kloter-kloter berikutnya yang akan kami proses. Kalau hasil skrining dinyatakan berhasil dan kondisi tubuh benar-benar fit, kami akan segera memberangkatkan mereka,” tambahnya dengan optimis.
Peringatan Penting BBKK untuk Jemaah yang Lolos: Jangan Lengah di Tanah Suci
BBKK Surabaya tidak berhenti sampai di situ. Mereka mengeluarkan imbauan penting bagi para jemaah yang sudah mendapatkan surat laik terbang. Rosidi meminta semua jemaah, terutama yang merasa kondisinya kurang prima, untuk disiplin memakai masker selama di Tanah Suci.
Mengapa hal ini krusial? Coba bayangkan suasana haji di Arab Saudi. Jutaan jemaah dari seluruh dunia berdesak-desakan di tempat yang sama. Kondisi seperti itu adalah waktu yang rawan untuk penyebaran penyakit menular. Kalau jemaah sedang batuk-batal ringan atau daya tahan tubuhnya sedang turun, virus dan bakteri bakal cepat berpindah.
Namun, Rosidi meluruskan, “Kami tidak mewajibkan semua jemaah pakai masker kok. Hanya yang mengalami gangguan kesehatan, seperti batuk atau flu berat, yang kami sarankan untuk memakainya. Yang terpenting, kami sudah memastikan semua jemaah yang berangkat dalam keadaan laik terbang dan bebas dari penyakit menular. Masker hanyalah perlindungan ekstra.”
Fakta Mengejutkan: 70 Persen Jemaah Haji Surabaya Berisiko Tinggi
Rosidi membocorkan data yang cukup mengkhawatirkan tentang kondisi kesehatan calon jemaah haji Embarkasi Surabaya. Dari seluruh jemaah yang masuk ke Asrama Haji, angka nyata 70 persen termasuk dalam kategori risiko tinggi. Artinya, sebagian besar dari mereka memiliki penyakit bawaan atau kondisi fisik yang kurang prima.
Bahkan, jumlah kunjungan ke klinik kesehatan di asrama haji sudah tembus 600 lebih kunjungan. Penyakit apa saja yang paling sering menyerang? Jangan kaget, didominasi oleh penyakit yang sering dianggap sepele tapi bisa mematikan jika tidak tertangani, seperti kelelahan ekstrem, diabetes melitus, hipertensi, kolesterol jahat, hingga anemia.
Lebih dari 500 Jemaah Pakai Kursi Roda, Didominasi Lansia di Atas 60 Tahun
Yang lebih mencengangkan lagi, Rosidi mengungkapkan bahwa jumlah calon jemaah haji pengguna kursi roda mencapai angka fantastis, yaitu lebih dari 500 orang. Siapa yang mendominasi? Tentu saja para lansia yang usianya sudah menginjak 60 tahun ke atas.
Apa penyebab utama mereka menggunakan kursi roda? Rosidi membeberkan dua faktor utama. Pertama, faktor usia yang sudah renta sehingga tenaga dan keseimbangan tubuh menurun drastis. Kedua, trauma akibat pernah jatuh sebelumnya. Begitu mereka merasa pusing karena hipertensi kambuh, mereka langsung memilih kursi roda sebagai alat bantu.
Namun, tenang saja. Rosidi memastikan bahwa setiap jemaah pengguna kursi roda akan didampingi oleh petugas haji profesional. Mereka juga diwajibkan mengonsumsi obat secara rutin sesuai resep dokter. Jadi, meskipun fisik terbatas, keselamatan dan kenyamanan mereka tetap menjadi prioritas utama BBKK Surabaya. Kalau ada yang hamil di bawah usia 14 minggu, tegas tidak diberangkatkan demi keselamatan ibu dan janin.
Kesimpulannya, skrining TBC dan kesehatan menyeluruh ini bukan untuk menghalangi, melainkan menyelamatkan nyawa jemaah haji dari potensi bahaya di Tanah Suci.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

