PONOROGO, Desapenari.id – Keringnya musim kemarau hampir berubah menjadi bencana. Namun, setelah nyaris 11 jam berjuang melawan bara yang membakar, kobaran api di hutan rakyat Gunung Dloko, Desa Tatung, dan Gunung Gede, Desa Muneng, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, akhirnya bisa ditaklukkan. Petugas dan warga bahu-membahu bekerja tanpa henti, memukul api dengan ranting hingga menyusun sekat bakar, demi menyelamatkan kawasan hijau dari amukan si jago merah.
Si jago merah itu mulai muncul pada Selasa (30/6) pukul 16.00 WIB. Awalnya hanya kepulan asap tipis yang membubung, tapi dalam sekejap, angin kencang mengubahnya menjadi lautan api yang mengerikan. Beruntung, setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga, api baru benar-benar padam pada Rabu (1/7/2026) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Bayangkan, para pahlawan tanpa tanda jasa itu bertahan semalaman di tengah gelap dan asap pekat demi memastikan api tak merembet ke mana-mana.
Kepala Desa Tatung, Rudi Sugiarto, menceritakan kembali momen mencekam itu dengan nada lega. Menurutnya, begitu kabar kebakaran tersiar, warga dan tim gabungan dari berbagai unsur tak membuang waktu. Mereka langsung bergerak cepat menuju lokasi, dan tanpa banyak bicara, kompak membagi tugas. Tim yang satu bertugas membuat sekat bakar, sementara yang lain berjaga di sepanjang malam untuk memastikan api tidak menjalar ke lahan pertanian produktif atau bahkan ke pemukiman warga yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari hutan.
“Awal mula kebakaran itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Dari sanalah, warga kami langsung menggelar siaga penuh semalaman. Kami sadar, kalau lengah sedikit saja, api akan meluas dan menghanguskan segalanya. Karena itu, kami segera membuat sekat bakar—ini seperti garis pertahanan terakhir kami untuk memutus jalur rambatan api ke area yang lebih luas,” ujar Rudi dengan suara berat saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (1/7/2026).
Tak hanya itu, Rudi juga menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang sangat kering menjadi faktor utama yang membuat api begitu cepat menjalar. Ditambah lagi, tumpukan daun kering dan ranting-ranting pohon yang menumpuk di lantai hutan menjadi ‘bahan bakar’ sempurna bagi kobaran api. Akibatnya, dalam hitungan jam, sekitar lima hektare hutan rakyat di Desa Tatung hangus terbakar. Pemandangan itu tentu memilukan, tetapi semangat warga tak pernah surut. Mereka terus berkeringat, memadamkan api hingga titik penghabisan.
“Kami semua paham risikonya. Kalau api ini tidak segera dipadamkan, ia akan terus merambat dan bisa menghabiskan seluruh kawasan hutan. Bahkan, bukan tidak mungkin api mencapai pemukiman. Maka dari itu, kami berjaga mati-matian. Selain memadamkan, kami juga terus melakukan upaya pemutusan jalur kebakaran dengan membuat sekat bakar dan memukul api pakai ranting,” tambah Rudi dengan nada tegas.
Diduga Kuat, Puntung Rokok Nakal Jadi Biang Kerok!
Di balik musibah ini, Rudi mencurigai ada ulah manusia yang kurang hati-hati. Ia menduga kuat bahwa kebakaran ini dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan di jalur pertanian. Dugaan ini muncul karena titik awal api justru berada di kawasan yang sering dilalui warga. Bisa jadi, ada seseorang yang tak sengaja membuang puntung rokok masih menyala di atas tumpukan daun kering, dan dalam sekejap, percikan kecil itu berubah menjadi kobaran besar.
“Kemungkinan besar, ada oknum yang membuang puntung rokok sembarangan. Ini yang kemudian memicu kebakaran hebat. Kami sangat menyayangkan kejadian ini, dan ke depan kami akan lebih gencar mengimbau warga untuk tidak membuang rokok sembarangan, apalagi di musim kemarau begini,” keluh Rudi dengan nada kecewa namun tetap bijak.
Sementara itu, petugas BPBD Ponorogo, Aris Ahmadi, yang turun langsung ke lokasi, mengungkapkan bahwa medan yang ekstrem menjadi tantangan terbesar dalam operasi pemadaman kali ini. Jalur menuju lokasi kebakaran sangat terjal dan sempit, sehingga mobil tangki air tidak bisa dikerahkan ke tengah hutan. Bayangkan, petugas dan warga harus berjalan kaki berjam-jam dengan peralatan seadanya. Namun, karena semangat gotong royong begitu kuat, proses pemadaman tetap bisa berjalan optimal.
“Memang, medan di sini sulit sekali dijangkau kendaraan pemadam kebakaran. Jadi, satu-satunya cara yang bisa kami lakukan adalah pemadaman secara manual. Kami menggunakan metode gepyok, yaitu memukul api dengan ranting pohon, dan juga membuat sekat bakar untuk mengisolasi api. Ini memang melelahkan, tapi inilah yang harus kami lakukan demi menyelamatkan hutan,” jelas Aris dengan napas terengah-engah, mengingat perjuangan berat semalaman.
Ia menambahkan, kedua kawasan hutan yang terbakar ini didominasi oleh vegetasi rimba campuran yang sangat mudah terbakar di musim kemarau. Daun-daun kering yang berserakan di lantai hutan dan ranting-ranting pohon yang mati menjadi ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan saja. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan, terutama di tengah kondisi cuaca yang tak menentu seperti sekarang.
“Kami bersyukur, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 03.00 WIB. Kalau sampai terlambat, api bisa terus merambat dan mendekati pemukiman warga. Ini benar-benar momen yang menegangkan, dan kami semua lega bisa menyelamatkan kawasan ini,” pungkas Aris dengan senyum lega.
Pelajaran Berharga di Balik Asap Tebal
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Di satu sisi, semangat gotong royong warga dan petugas patut diacungi jempol. Mereka rela mengorbankan waktu tidur dan tenaga demi keselamatan bersama. Namun di sisi lain, insiden ini juga mengingatkan kita semua akan bahaya kelalaian kecil yang bisa berdampak besar. Sebuah puntung rokok yang tampak sepele ternyata mampu meluluhlantakkan lima hektare hutan rakyat.
Ke depan, diharapkan semua pihak, terutama masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan hutan, bisa lebih berhati-hati. Tidak ada salahnya untuk selalu membawa botol air minum atau alat pemadam api portabel ketika melintasi jalur perhutanan. Selain itu, edukasi tentang bahaya kebakaran hutan juga perlu terus digalakkan, terutama saat musim kemarau panjang melanda.
Kini, setelah 11 jam berjibaku melawan bara, warga dan petugas akhirnya bisa bernapas lega. Hutan di Gunung Dloko dan Gunung Gede masih terselamatkan, meskipun sebagian arealnya telah menjadi abu. Semoga kejadian ini tak terulang, dan semoga hutan-hutan kita tetap hijau terjaga untuk anak cucu kita. Ternyata, kepedulian dan kerja sama mampu memadamkan api, tapi kewaspadaan adalah kunci agar api tak pernah datang lagi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.


https://beteiligung.hafencity.com/profile/sinopescort/