NUNUKAN, Desapenari.id – Suasana di Dataran Tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terasa sangat berbeda menjelang tanggal 17 Agustus tahun ini. Alih-alih sibuk menyiapkan kostum lomba atau berlatih paduan suara, warga perbatasan RI-Malaysia justru mengeluarkan pernyataan sikap yang mengejutkan. Mereka dengan tegas menyatakan penolakan untuk ikut serta dalam kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sikap kontroversial ini bukan lahir dari rasa anti-patriotisme, melainkan sebagai bentuk protes keras atas kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan dan telah berlangsung puluhan tahun. Meskipun hati mereka panas oleh kekecewaan, semangat kebangsaan tetap membara; pengibaran bendera Merah Putih di tiang-tiang rumah masih tetap mereka laksanakan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada tanah air.
Pemandangan memilukan di sepanjang jalur Krayan seakan menjadi pemantik utama kemarahan warga. Jalanan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan akses layanan publik kini lebih mirip kubangan lumpur raksasa yang tak berujung. Mobil-mobil berpenggerak gardan ganda yang dirancang untuk medan berat pun seringkali tak berdaya dan terjebak di tengah hutan belantara. Akibatnya, para sopir dan kernet terpaksa menghabiskan malam hari yang dingin di dalam kabin kendaraan atau membuat tenda darurat di pinggir hutan, menunggu bantuan datang di tengah gelapnya malam. Kondisi darurat semakin terasa ketika warga yang sakit parah harus diusung dengan tandu darurat menembus hutan dan lumpur untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Melihat penderitaan ini, gelombang protes pun tak terelakkan, dan warga pun dengan lantang menuntut adanya perbaikan infrastruktur yang nyata dan berkeadilan.
Menanggapi pernyataan berani tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Nunukan, Hasan Basri Mursali, akhirnya angkat bicara. Ia mengakui secara terbuka adanya pernyataan sikap warga Krayan yang menolak merayakan HUT RI tersebut. Menurut pandangannya, langkah yang diambil warga merupakan hak konstitusional mereka sebagai warga negara untuk menyampaikan aspirasi. Lebih jauh lagi, ia menilai aksi ini sebagai sebuah “atensi” penting yang wajib dicatat oleh pemerintah dan harus direspons dengan cepat, bukan dengan kemarahan. “Kondisi Krayan dengan jalan yang sulit dilewati memang sudah terjadi sangat lama. Mereka berhak untuk bersuara dan mengambil sikap tegas atas permasalahan kronis ini,” ujarnya dengan nada serius saat dimintai tanggapan di kantornya.
Pemerintah Kabupaten Nunukan sendiri mengaku tidak tinggal diam dan telah berusaha mencari solusi atas persoalan klasik ini. Namun, kerumitan masalah terletak pada status kepemilikan jalan yang terbagi menjadi tiga kategori berbeda. Sepanjang pengamatan mereka, terdapat ruas jalan yang merupakan kewenangan kabupaten, ruas lain yang menjadi tanggung jawab provinsi, dan tidak sedikit pula yang berada di bawah naungan pemerintah pusat. Kondisi ini menciptakan birokrasi yang rumit dan seringkali menghambat realisasi perbaikan secara menyeluruh. “Jadi, kondisi darurat ini harus diselesaikan secara gotong-royong dan terkoordinasi, mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” jelasnya panjang lebar, berharap ada sinergi cepat.
Di tengah hiruk-pikuk aksi protes, Pemerintah Kabupaten Nunukan tetap mengambil langkah proaktif untuk memastikan identitas kebangsaan tetap terjaga. Mereka mengirimkan sebanyak 200 lembar bendera Merah Putih ke wilayah Krayan untuk dikibarkan di setiap rumah warga. Terlepas dari hak warga yang memilih untuk menolak merayakan kemeriahan HUT RI, Hasan menegaskan bahwa pemasangan bendera pada tanggal 17 Agustus tetaplah sebuah keharusan simbolis. “Jadi, kami kirimkan 200 unit bendera. Kami sudah berkoordinasi dengan Camat untuk menyisir rumah-rumah penduduk. Jika ada rumah yang belum terpasang bendera, kami berharap agar bendera itu segera dipasangkan di halaman depan rumahnya,” kata Hasan dengan tegas, mencoba merangkul rasa nasionalisme warga.
Sementara itu, Camat Krayan Induk, Roni Firdaus, yang merupakan ujung tombak pemerintah di wilayah tersebut, memberikan konfirmasi langsung mengenai situasi terkini. Ia menjelaskan bahwa pernyataan sikap menolak ikut merayakan HUT RI memang merupakan bentuk protes keras dan luapan kekecewaan masyarakat Krayan yang sudah terpendam sangat lama. “Ini adalah ungkapan keprihatinan mendalam atas situasi yang dihadapi masyarakat Krayan dari tahun ke tahun. Masalah infrastruktur jalan yang becek dan rusak itu sejak dulu begitu saja, tidak ada perubahan signifikan,” paparnya melalui pesan tertulis pada Minggu (9/8/2026). Ia sangat memahami bahwa kemarahan publik ini bukan tanpa alasan, melainkan puncak dari kesabaran yang telah menipis.
Meskipun perayaan resmi mereka boikot, Roni menegaskan bahwa pengibaran bendera Merah Putih tetap menjadi prioritas utama. Pihaknya pun berupaya keras untuk memastikan masyarakat tetap menjaga semangat nasionalisme di tengah keterbatasan. “Rakyat Krayan selalu berharap suara protes mereka didengar oleh para pemimpin di pusat, namun soal nasionalisme, kami di perbatasan ini dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas, tetap kokoh menjaga patriotisme dan cinta tanah air,” tegas Roni dengan penuh semangat. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun kecewa, jiwa kebangsaan warga perbatasan tidak pernah padam.
Menariknya, di balik protes keras tersebut, Roni juga mengungkapkan sisi lain kehidupan masyarakat Krayan yang penuh semangat kebersamaan. Selama ini, perayaan HUT RI di Krayan dapat dibilang sangat meriah dan bahkan menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan. Berbagai turnamen sepak bola dan lomba-lomba tradisional masih lestari dan digelar dengan antusiasme tinggi. Bahkan, semangat gotong royong mereka sangat terlihat; warga rela mengadakan perlombaan hingga sebulan penuh dan secara swadaya menggalang dana untuk membeli kerbau sebagai hadiah utama turnamen. Tradisi ini menunjukkan betapa tingginya solidaritas sosial. Tak jarang, kerbau hasil kemenangan tersebut akhirnya mereka sembelih dan dimasak bersama-sama untuk dinikmati dalam pesta rakyat yang hangat, menjadi bukti bahwa di tengah kesulitan, kebersamaan tetap mereka junjung tinggi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

