KENDARI, Desapenari.id – Ancaman kekeringan kini menjelma menjadi momok menakutkan yang membayangi para petani di Kampung Adat Hukaea Laea, Dusun III, Desa Watu-Watu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Sungai yang selama ini menjadi tulang punggung pengairan sawah warga kini mengalami penyusutan debit air yang sangat drastis, bahkan alirannya terputus sama sekali. Akibatnya, saluran irigasi yang selama ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat adat dengan susah payah kini lumpuh total dan tak lagi mampu mengalirkan setetes air pun ke areal persawahan.
Kondisi memprihatinkan ini sontak menempatkan para petani dalam situasi yang paling dilematis dan membuat hati mereka ciut. Pasalnya, modal besar sudah mereka gelontorkan, bibit padi unggul sudah tertanam rapi di sawah, namun pasokan air yang menjadi nyawa tanaman justru menghilang bagaikan ditelan bumi. Petani hanya bisa memandangi sawahnya dengan perasaan was-was sambil berharap ada keajaiban.
Dari total potensi lahan persawahan seluas 400 hektare yang seharusnya bisa menghasilkan panen melimpah, saat ini baru sekitar 200 hektare yang sempat diolah oleh para petani. Namun, nasib ratusan hektare tanaman padi yang sudah menghijau itu kini benar-benar di ujung tanduk dan terancam gagal panen total alias puso jika hujan tak kunjung turun dalam waktu dekat.
Petani Hanya Bisa Berdoa, Alkon Hanya Menunda Waktu!
Bahrun, salah seorang petani masyarakat adat Hukaea Laea yang sudah puluhan tahun bergelut dengan sawah, mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam. Saat ini, kata dia, warga hanya bisa menggantungkan harapan pada doa dan menunggu keajaiban hujan turun dari langit.
“Petani di Kampung Adat Hukaea Laea ini hanya bisa berharap dengan hujan. Saluran yang kami buat secara swadaya dengan biaya dan tenaga yang tidak sedikit tidak bisa difungsikan lagi karena debit sungai sudah terputus total. Airnya mulai mengering dan menyisakan dasar sungai yang retak-retak,” ujar Bahrun dengan suara lirih penuh prihatin saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Jumat (14/8/2026).
Beberapa petani yang terlanjur menanam padi di sawahnya kini berupaya mati-matian menyedot sisa-sisa air yang tersisa menggunakan mesin pompa atau yang akrab disebut Alkon. Namun, cara putus asa ini dinilai hanya sekadar menunda waktu dan tidak menyelesaikan akar permasalahan. Sumber air utama di sungai penampungan yang selama ini menjadi andalan pun kini mulai mengering total sehingga mesin pompa pun lama-kelamaan tidak bisa berfungsi optimal.
“Sekarang yang sudah terlanjur menanam padi hanya mengandalkan Alkon untuk bertahan hidup. Itu pun tidak menjamin padi mereka bisa selamat dari ancaman kekeringan. Apalagi kondisi air sungai yang jadi pusat pengambilan air sudah mulai mengering dan meninggalkan lumpur,” tambah Bahrun dengan nada khawatir yang sulit disembunyikan.
Puluhan Hektare Lahan Siap Tanam Terbengkalai, Petani Rugi Jutaan Rupiah!
Tidak hanya petani yang sudah menanam padi yang merasakan pahitnya kekeringan, mereka yang baru berada di tahap penyiapan lahan pun ikut mengelus dada dan menahan perih di hati. Modal biaya pengolahan tanah yang sudah dikeluarkan lenyap begitu saja tanpa kepastian panen di masa depan. Jerih payah mereka seolah sia-sia ditelan bumi yang mulai mengering.
Jumahir, petani Hukaea Laea lainnya yang juga merasakan getirnya situasi ini, menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya harus menelan pil pahit merugi meski bibit padi belum sempat mereka tanam di sawah. Untuk mengolah lahan menggunakan traktor atau yang biasa disebut jonder, petani harus merogoh kocek cukup dalam hingga Rp 1,3 juta per hektare. Biaya yang tidak sedikit bagi petani tradisional seperti mereka.
Ia menjelaskan dengan nada getir bahwa total lahan yang sudah dijonder oleh para petani mencapai 40 hingga 50 hektare. Namun, kondisi saat ini membuat lahan seluas itu dibiarkan begitu saja terbengkalai dan mengering karena tidak ada pasokan air yang masuk. Sawah yang seharusnya hijau oleh tanaman padi kini justru dipenuhi tanah retak dan debu.
“Yang sudah dijonder sekitar 40 sampai 50 hektare. Tapi karena kondisi kekeringan yang ekstrem, sawah itu kami biarkan saja terbengkalai. Kami hanya bisa pasrah dan menahan sakit hati melihat usaha kami sia-sia,” tutur Jumahir dengan ekspresi pasrah yang menyayat hati.
Petani Adat Hukaea Laea: Air Sawah Adalah Nyawa Keluarga!
Bagi masyarakat adat Hukaea Laea, urusan air persawahan bukanlah sekadar persoalan musim tanam atau rutinitas tahunan. Lebih dari itu, air dan sawah merupakan sumber bertahan hidup bagi seluruh keluarga besar mereka. Sawah adalah tumpuan harapan, tempat anak-anak mereka bersekolah, dan sumber makanan sehari-hari yang tak tergantikan.
Jika gagal panen atau puso benar-benar terjadi akibat kekeringan yang berkepanjangan, dampak sosial dan ekonomi yang akan dirasakan masyarakat adat akan sangat terasa dan mungkin berlangsung dalam jangka panjang. Bukan tidak mungkin, krisis pangan lokal akan terjadi dan memaksa mereka berhutang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Oleh karena itu, dengan keberanian dan harapan yang membara, masyarakat adat Hukaea Laea mendesak Pemerintah Kabupaten Bombana maupun Pemprov Sulawesi Tenggara untuk tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan mereka. Masyarakat meminta pemerintah segera turun ke lapangan, melihat langsung kondisi yang memprihatinkan ini, dan memberikan solusi konkrit yang dapat menyelamatkan musim tanam mereka.
Sumur Bor Jadi Harapan Terakhir, Pemerintah Diminta Segera Bertindak!
Salah satu solusi jangka pendek dan darurat yang sangat dibutuhkan oleh petani saat ini adalah pembangunan sumur bor yang bisa menjadi sumber air alternatif di tengah kekeringan. Sumur bor dinilai mampu menyediakan pasokan air yang lebih stabil dan tidak bergantung pada kondisi cuaca atau debit sungai yang tidak menentu.
“Yang sangat kami harapkan sekarang adalah bantuan pemerintah, terutama pengadaan sumur bor untuk para petani. Itu yang sangat kami butuhkan dan kami dambakan untuk petani di Kampung Adat Hukaea Laea ini,” tegas Jumahir dengan nada penuh harap dan keyakinan bahwa pemerintah akan mendengar seruan mereka.
Kini, di tengah hamparan tanah sawah yang mulai merekah dan mengering bagaikan padang pasir, para petani Hukaea Laea terus menanti ketegasan dan kehadiran pemerintah sebelum semuanya terlambat. Mereka berharap bencana gagal panen total yang mengancam masih bisa dicegah dengan langkah cepat dan tepat dari pihak berwenang. Waktu terus berjalan, dan setiap hari tanpa air adalah langkah menuju kepunahan harapan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

