JAKARTA, Desapenari.id – Suasana di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) mendadak panas bagaikan tersiram minyak. Pasalnya, Kepala BGN, Sudaryono, dengan tegas mengeluarkan peringatan keras bak petir di siang bolong. Ia mengancam bakal memecat secara tidak hormat seluruh pihak yang terbukti lalai dalam menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama jika kelalaian itu sampai memicu insiden keracunan massal yang membahayakan para pelajar.
Sikap keras ini muncul bukan tanpa sebab, melainkan sebagai respons langsung atas insiden memilukan yang mengguncang Kabupaten Karo, Sumatera Utara, baru-baru ini. Kita semua tentu masih ingat betul, bukan, bagaimana puluhan bahkan ratusan siswa tiba-tiba jatuh sakit setelah menikmati santapan MBG di wilayah Kecamatan Berastagi? Kejadian itu sontak membuat orang tua panik dan publik bertanya-tanya tentang standar keamanan program unggulan tersebut.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (17/8/2026), Sudaryono sama sekali tidak main-main dengan ancaman ini. Ia bahkan secara gamblang menjelaskan bahwa sanksi yang akan dijatuhkan tidak berhenti sekadar pada pencopotan dari jabatan, melainkan bisa berbuah lebih fatal lagi. “Khusus untuk Kepala SPPG yang kebetulan berstatus ASN, kami akan menempuh jalur tegas melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) untuk menjatuhkan sanksi pemecatan tidak dengan hormat,” tegasnya dengan nada lantang.
Di sisi lain, Sudaryono juga tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya unsur pidana dalam kasus ini. Ia bahkan dengan berani membuka pintu lebar-lebar bagi aparat penegak hukum untuk turut mengusut tuntas dugaan kelalaian tersebut. Dengan begitu, proses investigasi tidak hanya berlangsung secara internal, tetapi bisa merambah ke ranah hukum jika memang ditemukan bukti-bukti pelanggaran berat.
Oleh karena itu, ia langsung menginstruksikan kepada seluruh kepala dapur, jajaran petugas, hingga para penanggung jawab di setiap titik pelaksanaan MBG untuk segera mengevaluasi dan memastikan seluruh prosedur operasional standar atau SOP dijalankan dengan sangat ketat. Mereka tidak boleh lagi menganggap remeh setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga pendistribusian makanan kepada para siswa.
“Ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi semua pihak yang terlibat di program ini, bukan hanya untuk mereka yang ada di Berastagi. Kalian semua harus ekstra hati-hati dan bekerja dengan sebaik-baiknya, karena tugas ini berkaitan langsung dengan kesehatan anak bangsa. Jika memang merasa tidak sanggup menjalankan amanah ini dengan benar, lebih baik kalian segera mundur,” ucap Sudaryono dengan ekspresi serius, bagaikan komandan yang memberi ultimatum kepada pasukannya.
Baginya, urusan keamanan pangan dalam program MBG ini bukanlah semata-mata persoalan teknis operasional dapur yang biasa saja. Lebih dari itu, ini adalah masalah krusial yang langsung menyentuh keselamatan jiwa dan nyawa manusia, terutama generasi muda penerus bangsa. Ia tidak ingin ada lagi korban berjatuhan hanya karena kelalaian sepele di tingkat lapangan.
“Jangan pernah mempermainkan nyawa orang lain. Ini pesan saya yang paling penting. Jika Anda tidak kompeten menjadi kepala dapur, tidak mumpuni menjadi chef, atau bahkan tidak sanggup menjalankan tugas sebagai petugas di sana, lebih baik kalian mengundurkan diri sekarang. Sebab, nyawa seseorang itu tidak bisa dipertaruhkan dan tidak ada harganya,” tambahnya dengan penuh penekanan, seolah ingin memastikan pesannya meresap dalam hati setiap petugas MBG di seluruh Indonesia.
Insiden Memilukan: 353 Siswa Terserang Keracunan Massal
Sebelum kita membahas lebih jauh soal ancaman sanksi ini, mari kita kilas balik sejenak ke peristiwa yang menjadi pemicu utama kemarahan sang kepala badan tersebut. Kabar kurang mengenakkan ini mulai mencuat ketika puluhan siswa dari tiga sekolah berbeda di kawasan Berastagi, yakni SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Bersama, dan SMK Negeri 1 Berastagi, dilaporkan jatuh sakit pada Kamis (13/8/2026) lalu.
Anehnya, semua siswa yang mengeluhkan gejala aneh tersebut ternyata memiliki kesamaan pola, yaitu sama-sama baru saja mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program Makan Bergizi Gratis. Hanya dalam hitungan jam setelah menyantap hidangan tersebut, kondisi kesehatan mereka perlahan-lahan menurun drastis. Tak butuh waktu lama, jumlah korban pun terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Memasuki hari berikutnya, tepatnya Jumat (14/8/2026), angka korban yang mengalami keluhan kesehatan melonjak drastis hingga mencapai 353 orang. Bayangkan, 353 siswa harus merasakan pusing, mual, hingga muntah-muntah hanya karena makanan yang seharusnya bergizi dan menyehatkan justru menjadi biang kerok masalah. Tentu ini sangat ironis, bukan?
Dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di lapangan, sebagian besar siswa mulai menunjukkan gejala-gejala aneh secara bersamaan setelah menyantap makanan tersebut. Ada yang mengeluh perutnya terasa mual luar biasa, beberapa lainnya tidak bisa menahan muntah, dan tidak sedikit yang merasa kepalanya berputar-putar hebat hingga kondisi tubuh mereka menjadi lemas tak bertenaga.
Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan ini, pihak sekolah dan orang tua siswa tentu tidak tinggal diam. Mereka segera bergerak cepat mengevakuasi para siswa yang terdampak ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat. Beberapa rumah sakit dan puskesmas di sekitar Berastagi pun kebanjiran pasien dalam waktu bersamaan, seperti Rumah Sakit Efarina Berastagi, RSU Amanda Berastagi, Rumah Sakit Umum Kabanjahe, serta Puskesmas Berastagi yang buka 24 jam.
Hingga saat ini, semua pasien masih dalam proses pemulihan dan pengawasan intensif dari tim medis. Namun, publik tentu masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut untuk mengungkap apa sebenarnya penyebab utama dari kasus keracunan massal ini. Apakah karena kesalahan pengolahan, bahan makanan yang terkontaminasi, atau ada faktor kelalaian lain yang sengaja ditutup-tutupi? Semua pertanyaan ini diharapkan segera terjawab melalui proses investigasi yang transparan dan akuntabel.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

