LABUAN BAJO, Desapenari.id – Operasi darurat besar-besaran yang kini sudah memasuki hari ketujuh pascatenggelamnya kapal phinisi megah KM Feronia akhirnya mencapai babak baru yang sangat krusial. Oleh karena itu, jajaran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo mendadak menerbitkan maklumat navigasi dan peringatan pelayaran resmi pada Senin (19/10/2026). Selain itu, langkah tegas dari otoritas maritim ini diambil secara resmi guna merespons dinamika proses pencarian korban di lapangan yang berjalan makin intensif. Terlebih lagi, tim penyelamat sangat membutuhkan ruang gerak yang steril dan bebas dari gangguan lalu lintas armada kapal wisata lainnya.
Selanjutnya, kebijakan penutupan dan pembatasan akses maritim ini secara khusus menargetkan seluruh bentang perairan di sekitar Pulau Tatawa yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Di samping itu, penerapan tindakan sterilisasi kawasan perairan ini bertujuan penuh untuk memaksimalkan seluruh pergerakan armada pencarian dan pertolongan (SAR) saat menyisir koordinat tenggelamnya kapal. Pasalnya, tingkat keberhasilan pemindaian kedalaman dasar laut sangat bergantung pada kondisi permukaan air yang tenang tanpa terganggu oleh gelombang buatan dari lalu lalang kapal turis.
Lebih lanjut, Pelaksana Harian KSOP Kelas III Labuan Bajo, Slamet Pujianta, menegaskan bahwa penutupan perairan ini mewujud dalam bentuk pembatasan ketat aktivitas navigasi pelayaran demi menjamin efektivitas serta kelancaran proses pencarian korban KM Feronia. Maka dari itu, pihak otoritas pelabuhan menetapkan durasi pembatasan wilayah operasi ini secara presisi mulai pukul 07.00 WITA pagi hingga pukul 17.00 WITA menjelang sore hari. Terlebih lagi, kurun waktu sepuluh jam tersebut merupakan jendela waktu paling ideal bagi tim penyelam dalam memanfaatkan pencahayaan alami di bawah air.
Oleh sebab itu, Slamet menyampaikan imbauan yang sangat tegas dan mengikat kepada seluruh nakhoda kapal wisata maupun perahu nelayan agar menjauhi area terlarang tersebut pada hari Senin. Bahkan, dirinya meminta para kapten kapal untuk sama sekali tidak menggelar aktivitas wisata jenis apa pun di lokasi yang sedang menjadi fokus operasi SAR. Akibatnya, para pengusaha tur dan pemandu wisata wajib mengalihkan seluruh agenda perjalanan mereka demi memberi jalan penuh kepada misi kemanusiaan yang sedang berlangsung di titik bencana tersebut.
Tak hanya itu, Slamet membeberkan secara terperinci rincian titik lokasi perairan mana saja yang secara resmi ditutup sementara bagi seluruh aktivitas pelesiran. Berdasarkan data pemetaan maritim resmi, lokasi steril yang wajib dihindari tersebut mencakup Perairan Batu Bolong yang terkenal memiliki arus kencang, Perairan Mawan, Perairan Siaba Kecil, Perairan Siaba Besar, hingga cekungan Perairan Tatawa Kecil. Di samping itu, pengumuman titik lokasi secara detail ini bertujuan agar seluruh nakhoda tidak salah melintas dan dapat mengambil rute alternatif yang lebih aman.
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi bahwa seluruh personel tim SAR gabungan terus berjuang keras tanpa lelah dalam melangsungkan aksi penyisiran pada hari ketujuh ini. Pasalnya, para petugas di lapangan tidak sekadar mengandalkan pengamatan visual di permukaan air, melainkan juga menerjunkan perangkat teknologi beam sonder yang canggih ke dasar laut di sekitar lokasi tenggelamnya kapal. Oleh karena itu, penggunaan alat pemindai sonar canggih ini diharapkan mampu melacak keberadaan lambung kapal KM Feronia yang karam di dasar lautan.
Lebih jauh lagi, Fathur mengungkapkan fakta bahwa cakupan luas area pencarian pada hari ketujuh ini dikembangkan secara masif hingga mencapai angka fantastis 105 Nautical Mile (NM). Maka dari itu, tim penyelamat sengaja memperluas radius pencarian untuk mengantisipasi pergeseran posisi korban akibat dorongan arus bawah laut yang sangat kuat di kawasan perairan Komodo. Namun demikian, luasnya area operasi ini menuntut kerja keras ekstra dari seluruh personel agar setiap jengkal perairan dapat terpantau secara optimal tanpa ada lokasi yang terlewatkan.
Selanjutnya, Fathur menjelaskan rencana taktis bahwa pelaksanaan penyisiran luas ini bergerak secara terstruktur sesuai rencana operasi dengan membagi kekuatan menjadi 10 Search and Rescue Unit (SRU) khusus. Di samping itu, pengerahan sepuluh tim SRU ini ditugaskan untuk menyisir sektor-sektor pencarian yang berbeda sesuai dengan pemetaan koordinat yang telah ditentukan. Akibatnya, penyebaran armada penyelamat ini mampu memaksimalkan daya jangkau tim dalam melacak keberadaan korban di tengah bentangan laut yang sangat luas tersebut.
Pasalnya, apabila kita menilik kembali kronologi mencekam dari peristiwa memilukan ini, kapal wisata phinisi KM Feronia mendadak mengalami musibah karam hingga tenggelam di perairan Pulau Tatawa, Taman Nasional Komodo, pada Selasa petang (13/10/2026). Oleh sebab itu, insiden karamnya kapal di momen senja tersebut langsung menggegerkan jagat pariwisata Labuan Bajo yang terkenal sangat ramai oleh kunjungan turis. Namun demikian, penanganan darurat segera diluncurkan oleh tim penyelamat sesaat setelah menerima kabar mengenai peristiwa kapal tenggelam tersebut.
Berdasarkan data manifes pelayaran resmi, kapal phinisi yang bernasib nahas tersebut tercatat membawa total 30 orang penumpang yang sedang menikmati pelayaran wisata di tengah laut. Tak hanya itu, komposisi seluruh penumpang di atas kapal terdiri dari lima orang awak kapal profesional beserta 25 orang wisatawan. Oleh karena itu, jumlah penumpang yang cukup banyak ini membuat proses evakuasi di tengah kondisi darurat menjadi sangat menegangkan ketika kapal mulai kemasukan air laut dan perlahan karam.
Pada momen kritis tersebut, sebanyak 29 orang penumpang berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat dalam kondisi selamat meskipun sempat mengalami trauma dan kepanikan luar biasa. Namun demikian, satu orang korban bernama Veronica Beatrix Jessica (23) diduga kuat terjebak di dalam kamar mandi kapal ketika badan phinisi mendadak miring dan tenggelam dengan begitu cepat. Akibat kondisi yang tak menguntungkan tersebut, keberadaan turis perempuan muda ini masih belum ditemukan oleh tim SAR hingga memasuki hari ketujuh penyisiran masif di perairan Komodo.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

