Desapenari.id – Masyarakat Nusa Tenggara Barat mendadak gempar setelah sebuah tayangan video pendek secara mendadak viral dan memicu gelombang kemarahan publik di berbagai jejaring media sosial. Pasalnya, rekaman amatir dari kamera ponsel milik warga memperlihatkan beberapa saluran pembuangan dari kawasan pertambakan udang secara terus-menerus mengalirkan cairan pekat mencurigakan secara langsung ke bibir Pantai Jemplung, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Akibatnya, pemandangan pesisir yang tadinya asri dan menjadi kebanggaan daerah kini berubah menjadi gambaran suram yang memancing kekecewaan luar biasa dari ribuan netizen di linimasa.
Sejak beberapa hari terakhir, warga pesisir setempat memang terus memendam kekesalan hebat akibat kemunculan aroma busuk yang sangat menyengat serta menusuk hidung hingga ke dalam rumah. Oleh karena itu, masyarakat sekitar meyakini bahwa sumber bau menyengat yang mengganggu indra penciuman tersebut berasal dari limbah pekat budidaya udang skala besar yang secara sengaja mengalir menuju laut lepas tanpa melewati proses pengolahan secara layak. Akibatnya, udara segar khas pantai yang biasanya memanjakan warga kini tertutup sepenuhnya oleh bau limbah yang semakin hari terasa semakin parah dan tak tertahankan.
Bahkan, amarah publik semakin membara sewaktu akun Facebook populer Sumbawa Info mengunggah kutipan pertanyaan menohok dari warga setempat yang menuntut keadilan serta kepastian hukum dari aparat pemerintah. Dalam unggahan tersebut, pengelola akun menuliskan ungkapan frustrasi warga yang begitu mendalam, “Labangka, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Bau menyengat diduga kuat berasal dari limbah tambak udang. Warga sudah sangat terganggu, lantas kapan ada tindakan nyata dari pihak berwenang?” Malahan, unggahan singkat ini langsung memanen ratusan komentar bernada geram dari masyarakat yang merasa bahwa kasus pencemaran lingkungan selalu lambat mendapatkan penanganan secara serius.
Jika kita mengamati deretan adegan dalam rekaman video berdurasi singkat itu, siapa pun bakal terperanjat karena mata kita secara jelas menyaksikan setidaknya ada delapan pipa pembuangan berukuran besar yang berjajar rapi memuntahkan cairan dari area tambak langsung ke hamparan pasir pantai. Padahal, posisi saluran pembuangan limbah ini letaknya amat sangat berdekatan dengan area pemukiman padat penduduk serta wilayah jelajah nelayan lokal yang setiap hari menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut. Akibat dari keberadaan pipa-pipa siluman ini, kawasan pantai yang biasanya tenang kini berubah menjadi lokasi pembuangan cairan pekat.
Tak hanya merusak pemandangan alam, sejumlah warga pesisir pun secara terbuka meluapkan penderitaan mereka akibat bau busuk yang terus-menerus mengikis kenyamanan serta ruang gerak para nelayan dan pencari kerang tradisional saat mencari nafkah. Selain itu, anak-anak kecil yang biasanya gembira bermain di tepi pantai kini harus menghirup dampak buruk udara tercemar tersebut saban hari tanpa perlindungan. Terlebih lagi, masyarakat menyimpan ketakutan luar biasa bahwa tumpahan limbah ini bakal menghancurkan ekosistem biota laut serta mematikan populasi ikan yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian keluarga mereka.
Mendengar jeritan histeris dari warga pesisir tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Muslim, akhirnya angkat bicara dan mengonfirmasi keberadaan tim pengawas di lapangan. Malahan, beliau menegaskan bahwa lembaganya telah menerjunkan tim khusus pemeriksa ke lokasi kejadian sejak hari Kamis demi mengambil sampel air laut sekaligus memverifikasi kebenaran aduan panas dari masyarakat. Langkah cepat ini mereka ambil demi membongkar fakta sebenarnya di balik kasus dugaan pencemaran pesisir yang meresahkan warga Sumbawa tersebut.
Kendati demikian, Muslim membeberkan bahwa pergerakan tim pengawas di lapangan sempat menghadapi kendala teknis pada hari pertama peninjauan. “Memang benar bahwa tim kami sudah bergerak di lapangan selama dua hari terakhir, namun sewaktu pertama kali mendatangi lokasi, petugas kami belum berhasil menemui pihak pengelola tambak tersebut,” ujar Muslim saat menyampaikan keterangannya pada hari Jumat. Oleh sebab itu, jajaran pengawas dari dinas memperpanjang durasi penyisiran dan melanjutkan proses pemeriksaan secara menyeluruh pada hari berikutnya demi mendapatkan bukti yang valid.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat secara tegas melayangkan ancaman sanksi amat berat bagi siapa saja pengusaha yang berani bermain-main dengan aturan hukum lingkungan. Dengan kata lain, Pemprov NTB tidak akan segan-segan menyeret dan menghukum pengelola tambak apabila terbukti bersalah membuang limbah secara ilegal serta melanggar regulasi tata kelola kawasan pesisir. Sikap keras ini sengaja mereka tunjukkan untuk memberikan efek jera kepada para pengusaha nakal yang tega mengorbankan keselamatan alam serta ruang hidup warga demi meraup keuntungan pribadi semata.
Di sisi lain, jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa juga langsung merapat dan membangun koordinasi erat bersama tim pengawas provinsi serta Polisi Khusus Perikanan demi menyusur lokasi pencemaran tersebut. Selanjutnya, gabungan aparat penegak hukum dan pengawas lingkungan ini mendatangi kawasan Labangka 5, atau lebih tepatnya di area Desa Jaya Makmur, guna melacak setiap sudut saluran pipa yang terhubung ke kawasan tambak tersebut. Kerja sama lintas lembaga ini mereka harapkan sanggup mengungkap mata rantai pelanggaran lingkungan yang merugikan warga setempat.
Meskipun proses pengujian laboratorium telah berjalan dengan ketat, pihak dinas hingga detik ini nyatanya belum bersedia membeberkan secara resmi hasil pemeriksaan sampel air pantai tersebut kepada publik. Selain itu, identitas pemilik maupun pengelola tambak udang yang diduga kuat menjadi dalang utama kasus pencemaran ini juga masih tertutup rapat dan belum terungkap ke khalayak luas. Oleh karena itu, warga pesisir Sumbawa kini hanya bisa menunggu dengan cemas sambil berharap agar pihak pemerintah bekerja secara transparan dan menindak tegas siapapun pelakunya tanpa pandang bulu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

