Desapenari.id – Merespons jeritan hati para petani yang terus terpendam, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Muhaimin, akhirnya turun tangan langsung! Dengan penuh semangat, ia melakukan peninjauan mendadak ke Daerah Irigasi (DI) Kragilan di Kabupaten Purworejo yang ternyata sudah selama 15 tahun lamanya terbengkalai dan tak mengalirkan setetes air pun. Akibatnya, dalam kunjungannya yang dilakukan pada Minggu (5/10/2025) itu, ia pun berhasil mengungkap sederet masalah pelik yang selama ini menjadi biang keladi. Tak berhenti di situ, Muhaimin pun berjanji akan mendorong dinas terkait untuk segera merealisasikan solusi nyata.
Tanpa menunda waktu lagi, Muhaimin kemudian memutuskan untuk memeriksa kondisi sebenarnya dengan menyusuri secara langsung aliran irigasi yang bermula dari Desa Sambeng hingga ke titik hulu di Desa Kragilan. Selama perjalanan ini, ia dengan sigap melibatkan para petani setempat untuk bersama-sama memetakan setiap kendala yang membuat DI Kragilan lumpuh selama belasan tahun. Setelah menyelesaikan pengecekan lapangan, anggota dewan dari Fraksi PKB ini pun langsung menegaskan sebuah poin penting. “Saya sengaja datang ke lokasi untuk melihat dan memeriksa semua masalah secara langsung, karena saya yakin betul persoalan irigasi ini tidak bisa dianggap enteng. Di baliknya, tersimpan banyak persoalan yang tidak hanya banyak, namun juga sangat kompleks dan ruwet,” tegas Muhaimin dengan nada serius pada Minggu (5/10/2025).
Segudang Masalah Terungkap: Dari Bangunan Tua Hingga 120 Lubang Misterius
Sebagai hasil dari peninjauan intensif tersebut, tim akhirnya berhasil mengidentifikasi beberapa masalah utama yang selama ini menjadi penghambat. Pertama-tama, kondisi fisik bangunan irigasinya sendiri sudah dalam keadaan rusak parah dan tidak terawat. Selain itu, tim juga menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan, yaitu adanya sekitar 120 lubang ilegal yang secara sembunyi-sembunyi dibuat oleh masyarakat; tindakan inilah yang tanpa disadari telah menggerus debit air yang seharusnya mengalir lancar. “Yang pertama, saluran irigasinya sendiri kondisinya sudah remuk redam. Kerusakan ini terjadi secara alami karena faktor usia. Kemudian, yang kedua, tim PSDA Probolo juga menemukan kurang lebih 120 lubang ilegal yang jelas-jelas memperparah situasi,” papar Muhaimin dengan detail.
Tidak hanya berhenti di dua masalah itu, tim juga menemukan adanya perubahan fundamental pada sumber air yang memasok DI Kragilan dan DI Loning. Awalnya, kedua daerah irigasi ini memiliki sumber air yang terpisah dan mandiri. Sayangnya, debit air di Kali Jali—sumber utama untuk DI Kragilan—terus menyusut drastis. Alhasil, DI Loning pun terpaksa harus berbagi air dengan dialihkan sebagian ke DI Kragilan. “Pintu air Kragilan ini sebenarnya dulunya mengairi daerah DI Kradenan. Namun, karena debit air yang terus berkurang, akhirnya air dari DI Loning-lah yang dialihkan paksa untuk membantu DI Kragilan,” jelas Muhaimin sambil menunjukkan lokasi pintu air tersebut.
Bendungan Jadi Solusi? Anggota DPRD Usul Cara Kreatif dan Efisien
Dalam analisisnya, anggota DPRD Jateng ini juga dengan cermat menyoroti potensi besar pembangunan bendungan atau dam sederhana sebagai solusi jitu mengatasi krisis irigasi. Menurutnya, meskipun anggaran yang dibutuhkan tidak termasuk fantastis, wewenang pembangunannya sepenuhnya berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah; hal ini mengingat luas cakupan daerah irigasi Kragilan dan DI Loning yang mencapai 2.500 hektar. “Kita bisa lihat sendiri, lokasi ini sebenarnya sangat potensial untuk dibangun sebuah dam atau bendungan. Sejujurnya, biayanya tidak akan melambung terlalu tinggi. Bahkan, jika ingin lebih berhemat, kita bisa memanfaatkan sistem tradisional seperti bronjongan batu,” usulnya dengan penuh keyakinan.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari keluhan masyarakat, beberapa area di daerah tersebut telah mengalami kekeringan ekstrem hingga 15 tahun lamanya! Menanggapi kondisi darurat ini, anggota DPRD tersebut pun berjanji akan segera mengkomunikasikan permasalahan ini dengan semua pihak terkait untuk segera merumuskan solusi terbaik. “Berdasarkan informasi dari masyarakat, beberapa area seperti di Desa Sambeng dan daerah di bawahnya bahkan ada yang sudah 15 tahun tidak kebagian air. Itu waktu yang sangat lama!” ungkapnya dengan prihatin.
Muhaimin kemudian menyampaikan rencana konkretnya. Pihaknya akan segera merekomendasikan PSDA Probolo Unit Dinas Pusdataru Jawa Tengah—yang berkantor di Purworejo—untuk segera menyusun perencanaan matang, baik yang dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran maupun dengan skema multi-tahun. Kabar baiknya, anggota DPRD ini telah lebih dulu berkomunikasi dengan Kepala Pusdataru Jawa Tengah yang dengan antusias menyambut baik dan menyatakan kesiapan penuh untuk berkoordinasi dengan DPRD Provinsi Jawa Tengah guna membahas masalah krusial ini. “Kami akan merekomendasikan PSDA Probolo Unit Dinas Pusdataru Jateng untuk segera membuat perencanaan. Akan sangat baik jika bisa tuntas dalam satu tahun anggaran, atau jika tidak, bisa dengan skema multi-tahun,” tutupnya dengan penuh harap.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

