Desapenari.id – Nasib tragis benar-benar menghampiri Darusman, Kepala Desa Braja Asri di Way Jepara, Lampung Timur. Pada Rabu pagi, 31 Desember 2025, desa yang berbatasan langsung dengan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) itu berduka. Alih-alih berhasil mengusir gajah liar, sang kepala desa justru diserang dan meregang nyawa.
Kepala Balai TNWK, Zaidi, dengan berat hati mengonfirmasi kabar pilu ini. “Innalillaahi wainnailaihiroojiuun, semoga almarhum husnul khotimah. Beliau ditumbur gajah liar saat penggiringan kembali masuk kawasan bersama-sama tim yang ada di lapangan,” jelas Zaidi melalui pesan tertulis di hari yang sama. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar tentang keselamatan warga.
Kronologi Mengerikan: Dari Penggiringan Berubah Jadi Serangan Mematikan
Awalnya, tim gabungan mendapat laporan tentang 17 ekor gajah sumatera yang terjebak di kebun karet milik warga. Kemudian, mereka pun berdiskusi merancang strategi untuk menggiring kawanan hewan besar itu kembali ke hutan. Rencananya, tim akan melakukan blokade dua arah, dari atas dan bawah, sambil menyalakan petasan mercon untuk mengarahkan gajah.
Namun, situasi tiba-tiba berubah drastis. Saat proses penggiringan berlangsung, kawanan gajah liar itu ternyata marah dan secara spontan menyerang tim blokade bagian atas. “Gajah itu mengamuk dan menyerang. Saat suasana reda dan gajah berhasil dihalau, korban ternyata Pak Darusman,” tutur Zaidi. Akhirnya, sekitar pukul 12.00 WIB, gajah-gajah itu berhasil digiring masuk kembali ke hutan melalui area Merang, namun dengan harga yang sangat mahal: satu nyawa manusia.
Telepon Terakhir Sang Kades & Pengorbanan tanpa Pamrih
Kusnan, kakak kandung almarhum, dengan sedih mengenang totalitas kerja adiknya. Sebagai kepala desa di kawasan penyangga TNWK, Darusman selalu berada di garda terdepan saat konflik dengan gajah muncul. Apalagi, Desa Braja Asri memang kerap didatangi kawanan gajah liar.
Kusnan mengungkapkan, keluarga pertama kali mengetahui insiden itu justru dari warga, bukan dari instansi terkait. Ternyata, sekitar pukul 09.30 WIB, Darusman sempat menerima tiga kali telepon dari warganya yang panik melaporkan kedatangan gajah. Tanpa pikir panjang, setelah panggilan terakhir itu, dia langsung bergegas ke lokasi untuk memimpin upaya penghalauan.
“Kalau kronologi di lokasi secara detail, kami dari keluarga tidak tahu persis,” kata Kusnan. Akan tetapi, dari cerita para saksi mata, ratusan warga yang terbagi dalam beberapa kelompok saat itu berupaya menghalau sekitar 17 ekor gajah. Tiba-tiba, terjadi kejadian yang tak terduga. Saat gajah dari arah timur sudah mendekat, Darusman tepergok dan terjatuh. “Di situlah 2 ekor gajah menyerang Darusman, hingga mengalami luka serius pada kedua kaki, dada, dan pelipis,” cerita Kusnan lirih.
Setelah kejadian, warga setempat sempat mengevakuasi dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, semua usaha itu sia-sia. Nyawa Darusman tidak tertolong dan dia mengembuskan napas terakhirnya.
Jeritan Hati Keluarga & Warga: “Kami Butuh Tidur Tenang dan Sikap Tegas!”
Kusnan menegaskan, masalah gajah liar masuk permukiman ini bukanlah kejadian satu-satunya. Konflik ini sudah berulang kali terjadi. Dia menduga, kawanan gajah itu terus mencari sumber makanan dari hasil pertanian warga yang subur.
“Menjelang panen, para petani justru tidak bisa tidur dengan tenang karena sibuk berjaga di lahan pertanian mereka, mengawasi dan mengamankan sumber pendapatan mereka dari gajah liar,” ujar Kusnan dengan nada geram. Ironisnya, saat seharusnya bersukacita menanti hasil panen, warga justru diliputi kecemasan dan kelelahan berjaga malam.
Oleh karena itu, Kusnan bersama seluruh warga desa penyangga TNWK kini menuntut sikap tegas dan konkret dari Pemerintah Kabupaten Lampung Timur beserta jajaran terkait. Konflik mematikan ini tidak hanya terjadi di Braja Asri, melainkan juga melanda daerah lain seperti Braja Selebah, Purbolinggo, dan Labuhan Ratu.
“Kalau nggak dihalau warga, habis ini tanaman jagung, padi, milik petani dimakan gajah liar. Inilah yang menjadi masalah bertahun-tahun,” pungkas Kusnan. Tangisan keluarga dan jeritan warga ini jelas merupakan bentuk kritik terhadap sistem yang dinilai lamban dalam mencari solusi permanen. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar janji; mereka butuh tindakan nyata yang melindungi baik nyawa manusia maupun satwa dilindungi, sebelum korban berikutnya kembali berjatuhan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

