BEKASI, Desapenari.id – Bukan cuma sekadar viral, warga Perumahan Dukuh Zamrud, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, justru menyambut hangat sorotan publik terhadap gapura utama mereka. Alih-alih bersembunyi, mereka malah merasa lega karena perhatian netizen akhirnya menyinari mega-proyek yang menghabiskan anggaran fantastis, hampir Rp 1 miliar, hanya dalam waktu singkat dari pertengahan Oktober hingga Desember 2025. Bahkan, dengan semangat tinggi, warga kini bertekad untuk mengawal transparansi penggunaan uang publik tersebut sampai ke titik terakhir.
“Justru kami senang ini viral, lho! Kenapa? Biar semua orang ikut tahu, apakah benar anggarannya semahal itu atau ada yang janggal,” tegas Heru Rilano (52), seorang warga sekaligus Koordinator Seksi Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ), dengan mata berbinar saat kami jumpai di lokasi gapura, Jumat (9/1/2026). Lebih lanjut, Heru dengan lantang menyatakan kesiapan warga dan pengelola menghadapi pemeriksaan apa pun ke depannya. “Kami siap untuk pembuktian! Kami akan awasi prosesnya sampai tuntas, demi membuktikan apakah dana segitu benar-benar sesuai untuk bangun gapura ini,” tukasnya penuh keyakinan.
Nah, kalau kamu penasaran sumber informasinya dari mana, semua berawal dari data resmi di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Bekasi. Ternyata, proyek menggiurkan ini dikerjakan oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkintan) Kota Bekasi. Bayangkan saja, anggaran senilai Rp 997.450.000 mereka habiskan dari kantong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi Tahun 2025. Padahal, hasilnya cuma sebuah gapura dengan lebar tiga meter dan bentang masing-masing sisi lima meter. Sungguh, angka yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi!
Heru pun mengaku terkejut, bahkan menduga kuat sebagian besar tetangganya tidak menyangka nilai anggarannya bisa selangit itu. “Saya yakin hampir semua warga enggak ada yang tahu detail angkannya sebesar itu. Namun, yang jelas kami pernah menginformasikan ke ketua RW tentang rencana pembangunan gapura dengan usulan dana Rp 1 miliar waktu itu,” jelasnya. Meski demikian, sebagai kawasan perumahan yang sudah lepas dari tangan pengembang dan beralih ke pemerintah daerah, Heru bersikukuh bahwa kehadiran gapura punya nilai penting. Baginya, gapura itu bukan sekadar tiang dan atap, melainkan ikon kebanggan serta penanda identitas warga.
“Sebagai warga, saya malah mendukung jika tren ini jadi preseden bagus untuk wilayah lain. Biar mereka juga menuntut hal serupa, yaitu dibangunnya ikon khusus di perumahan masing-masing,” papar Heru dengan semangat perubahan. Ia pun menegaskan bahwa tuntutan semacam itu sangatlah wajar, mengingat sumber dananya berasal langsung dari kocek publik. “Ingat, APBD itu kan dari pajak kita semua! Artinya, uang yang kita setor lalu dikelola pemerintah, harusnya kembali dengan tepat sasaran dan bermanfaat nyata buat masyarakat,” tambahnya dengan logika yang sulit terbantahkan.
Pada akhirnya, Heru mengungkapkan bahwa proyek kontroversial ini berawal dari aspirasi murni warga. “Dukuh Zamrud ini kan sudah lepas dari developer dan sepenuhnya dikelola pemda. Makanya, warga merasa perlu adanya ikon dan penataan agar lingkungan kita lebih tertata dan elok dipandang,” pungkasnya. Jadi, di balik gemuruh viral dan angka miliaran rupiah, tersimpan harapan warga kecil akan pengelolaan anggaran yang transparan dan pembangunan yang membanggakan. Mereka tidak hanya menonton, tetapi siap terjun langsung mengawal setiap prosesnya. So, tunggu saja kelanjutan drama anggaran satu ini!
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com


Howdy! Do you know if they make any plugins to protect against hackers? I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked hard on. Any tips?