SEMARANG, Desapenari.id –Musibah banjir kini menyapu hamparan hijau Jawa Tengah. Berdasarkan data terbaru, Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah membenarkan kabar buruk ini: lebih dari 1.000 hektare lahan sawah tengah terendam banjir! Secara rinci, bencana ini menyebar di tiga kabupaten, yaitu Kudus, Grobogan, dan Pati.
Sebagai informasi utama, Kabupaten Pati menjadi wilayah yang paling menderita. Menurut penuturan Kepala Distanak Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavarez, hasil verifikasi lapangan membeberkan fakta mengerikan: total lahan terdampak di Pati mencapai 672,12 hektare. Lebih detail lagi, Kecamatan Gabus menyumbang 412,29 hektare dan Jakenan berkontribusi 260 hektare sawah yang terendam. Sementara itu, di kabupaten tetangga, Kudus, banjir juga melahap 315,49 hektare sawah penduduk.
Tidak berhenti di situ, Tavarez membeberkan peta persebaran kerusakan di Kudus. Ternyata, lima kecamatan sekaligus merasakan dampaknya. Mulai dari Jati (50,70 hektare), Kaliwungu (58,02 hektare), Mejobo (130,18 hektare), Undaan (35,86 hektare), hingga Jekulo (40,73 hektare) semuanya tergenang. Di sisi lain, Kabupaten Grobogan juga ikut merasakan dampaknya, dengan 83,3 hektare sawah di Kecamatan Brati turut menjadi korban banjir.
Yang paling menyayat hati, kondisi tanaman di lahan yang terendam tersebut. Menurut penjelasan Tavarez, mayoritas sawah yang terendam justru ditanami padi yang sedang berada di fase akhir pertumbuhan. Bahkan, sebagian tanaman itu hampir memasuki masa panen! Akibatnya, rendaman air banjir selama berhari-hari pastinya mengganggu produktivitas dan merusak hasil jerih payah para petani.
Namun, di tengah kabar suram ini, ada secercah harapan yang menggelora! Kabar baiknya, Distanak Jateng segera mengambil langkah protektif. Tavarez menegaskan, semua lahan yang terendam banjir akan mereka ajukan untuk mendapatkan ganti rugi melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Dengan kata lain, para petani korban banjir berhak mengajukan klaim asuransi untuk menutup kerugian mereka.
Lalu, bagaimana proses klaimnya? Ternyata, caranya cukup mudah dan modern. Menurut Tavarez, pengajuan klaim dapat dilakukan secara digital melalui aplikasi SIAP yang terhubung langsung dengan pihak Jasindo. Meskipun demikian, ada satu syarat utama yang harus dipenuhi: tanaman padi harus terendam banjir minimal selama tiga hari atau mengalami kerusakan berat yang tidak dapat diselamatkan. Jadi, proses ini dirancang untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Pertanyaan berikutnya, apakah semua petani tercakup? Pada tahun 2025 ini, luas lahan yang tercover AUTP mencapai sekitar 5.100 hektare. Akan tetapi, Tavarez menyadari mungkin ada yang belum terdaftar. Untuk mengatasi hal itu, dia berjanji akan menginventarisasi semua korban dan mencari solusi terbaik. Dengan demikian, tidak ada seorang pun petani yang akan dibiarkan berjuang sendirian.
Lantas, apa yang menunggu petani yang belum ikut asuransi? Tenang saja, Distanak Jateng telah menyiapkan skenario cadangan. Sebagai alternatif, bantuan penggantian benih, pupuk, dan sarana produksi pertanian lainnya telah disiapkan untuk mereka. Intinya, pemerintah berkomitmen penuh untuk melindungi standing crop atau tanaman yang masih berdiri dari segala ancaman, baik banjir, kekeringan, maupun serangan hama.
Di sisi lain, Tavarez juga memproyeksikan dampak makro dari bencana ini. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, dampak perubahan iklim seperti banjir dan kekeringan ini maksimal hanya menurunkan total produksi pangan Jateng sekitar dua persen. Meski terdengar kecil, angka ini tetap harus diwaspadai mengingat Demak, Pati, dan Grobogan adalah lumbung padi dengan luas baku sawah terbesar di provinsi ini.
Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap tanaman dari hama, penyakit, dan gempuran perubahan iklim harus terus diprioritaskan. Pada akhirnya, sinergi antara program asuransi, bantuan langsung, dan monitoring ketat diharapkan dapat menjadi tameng kokoh bagi kedaulatan pangan Jawa Tengah di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem. Dengan begitu, harapan untuk menyelamatkan hasil bumi dan kesejahteraan petani bukanlah sekadar janji, tetapi sedang diwujudkan langkah demi langkah.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

