Desapenari.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja mengencarkan alarm global menyusul temuan lima kasus penyakit akibat virus Nipah di India. Awalnya, pihak berwenang India melaporkan dua kasus pertama pada 11 Januari 2026. Kemudian, hanya dalam waktu dua pekan, kasus tersebut melonjak menjadi lima pada 25 Januari 2026. Sebagai respons, beberapa negara langsung mengambil tindakan tegas dengan memperketat pintu masuk mereka bagi warga India. Misalnya, Thailand dan Nepal dengan sigap memberlakukan pembatasan ketat terhadap kedatangan internasional, terutama bagi pelancong yang baru kembali dari negara-negara terdampak virus Nipah.
Anda pasti bertanya-tanya, mengapa virus ini mendapat perhatian begitu serius? Ternyata, WHO dengan tegas mengklasifikasikan virus Nipah sebagai priority pathogen alias patogen prioritas. Klasifikasi ini mereka berikan karena virus ini memiliki potensi wabah yang sangat besar dan dampak yang sungguh mengerikan. Pada manusia, infeksi virus Nipah dapat memicu gangguan pernapasan akut yang parah, bahkan berkembang menjadi radang otak (ensefalitis) yang sering berakhir fatal. Sayangnya, hingga detik ini, dunia masih kesulitan menghadapinya karena belum tersedia vaksin ataupun pengobatan khusus yang efektif. Data dari berbagai wabah sebelumnya pun sangat menakutkan, menunjukkan tingkat kematian yang berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Lantas, bagaimana situasi di Indonesia? Tenang, Jurubicara Kementerian Kesehatan RI, Widyawati, dengan lugas menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun kasus konfirmasi penyakit virus Nipah yang terlapor di tanah air. “Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus nipah di Indonesia,” tegasnya melalui pesan singkat, Senin (26/1/2026). Namun, pemerintah sama sekali tidak lengah. Justru, mereka aktif melakukan berbagai langkah pencegahan, dimulai dengan pemantauan ketat terhadap perkembangan situasi di India dan negara lain melalui kanal resmi dan media.
Tidak berhenti di situ, Kemenkes juga secara resmi telah menerbitkan notifikasi peringatan dini terkait kejadian luar biasa ini. Anda dapat mengakses informasi lengkapnya melalui situs infeksiemerging.kemkes.go.id. Selain itu, pengawasan di pintu masuk negara juga mereka perkuat secara signifikan terhadap orang, barang, dan alat angkut yang datang—baik secara langsung maupun tidak—dari negara atau daerah terjangkit. Caranya? Setiap pelaku perjalanan internasional yang hendak kembali ke Indonesia wajib melaporkan diri melalui aplikasi All Indonesia. Aplikasi ini secara khusus dirancang untuk menjaring pelaku perjalanan yang mengalami gejala dan berasal dari negara berisiko.
Nah, gejala apa saja yang perlu Anda waspadai? Gejala awal infeksi virus Nipah meliputi demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, hingga penurunan kesadaran atau kejang. Khususnya, Anda harus curiga jika gejala muncul dalam 14 hari setelah kepulangan dari India atau negara terjangkit lainnya. Jika ada yang bergejala, tim Kemenkes akan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosis. Sebagai lapisan pengaman tambahan, Kemenkes juga mengandalkan Sistem Informasi Kekarantinaan Kesehatan untuk pemantauan dan deteksi dini, serta meningkatkan kewaspadaan di tingkat daerah melalui SKDR dan surveilans di rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging.
Bagaimana dengan kesiapan fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) kita? Menurut Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M Faqih, pengalaman pahit sekaligus berharga selama pandemi Covid-19 telah membentuk kesiapan yang jauh lebih baik. “Dengan pengalaman wabah Covid kemarin, saya yakin kawan-kawan di lapangan mampu (mengatasi),” ungkapnya penuh keyakinan pada Senin lalu. Ia menjelaskan, pola penularan virus Nipah yang hampir mirip dengan Covid-19 membuat protokol kewaspadaan dan isolasi di faskes sudah lebih tertata.
Akan tetapi, kesiapan tenaga kesehatan yang mumpuni tentu harus didukung oleh kelengkapan sarana prasarana. Faqih menekankan bahwa negara wajib memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memadai, standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, dan manajemen rumah sakit yang tanggap. Selain bersiap di level pengobatan, ia juga mendorong pencegahan maksimal di garis terdepan. “Yang concern yang sekarang saya dorong itu pemerintah, di pintu-pintu masuk itu harus dijaga betul. Kalau enggak dijaga, takut bocor itu,” pesannya. Prinsipnya, mencegah selalu jauh lebih baik dan murah daripada mengobati.
Kemenkes dan IDI sepakat, pertahanan terkuat tidak hanya bergantung pada negara dan tenaga kesehatan. Partisipasi aktif masyarakat justru menjadi benteng utama! Widyawati pun mengimbau enam langkah praktis pencegahan yang harus kita jalankan bersama. Pertama, jauh-jauh dari buah yang bekas digigit kelelawar, karena virus bisa menular lewat liurnya. Kedua, selalu cuci dan kupas buah sampai bersih sebelum dimakan. Ketiga, hindari kontak dengan hewan yang terinfeksi.
Keempat, perkuat daya tahan tubuh dengan gaya hidup bersih dan sehat: rajin cuci tangan pakai sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan rutin berolahraga. Kelima, jika terpaksa bepergian ke India atau negara wabah, patuhi semua protokol kesehatan dari otoritas setempat. Terakhir dan paling krusial, segera periksakan diri ke faskes jika Anda mengalami gejala mirip Nipah—terutama dalam 14 hari setelah pulang dari daerah risiko.
Dari sisi IDI, Faqih menambahkan satu kewaspadaan khusus bagi pencinta kuliner ekstrem. Anda penggemar olahan daging kelelawar atau daging babi? Hati-hati! Kedua hewan ini berpotensi menjadi medium penularan virus Nipah jika proses pengolahan dan pemasakannya tidak sempurna. “Atau kalau tetap kepengin ya dimasak betul sampai benar-benar matang,” pungkasnya menegaskan. Intinya, kolaborasi antara kewaspadaan pemerintah, kesiapan nakes, dan perilaku hidup sehat masyarakat adalah kunci untuk menjaga Indonesia tetap aman dari ancaman virus mematikan ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

