TEHERAN, Desapenari.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kini sedang dalam kondisi darurat. Mereka berlomba melawan waktu mengirimkan sistem pertahanan udara tercanggih, radar berteknologi tinggi, serta perangkat anti-drone ke negara-negara Arab sekaligus memperkuat pangkalan pasukan AS yang tersebar di kawasan Teluk. Langkah nekat ini langsung mereka ambil untuk membendung gempuran rudal dan drone Iran yang dinilai makin akurat serta terus-menerus mengancam.
AS langsung menggenjot pengiriman peralatan militer dengan cara mempercepat penjualan senjata senilai 23 miliar dolar AS atau setara Rp 389 triliun. Wall Street Journal melansir kabar ini pada Jumat (20/3/2026), menyebut bahwa waktu menjadi musuh utama bagi Washington di tengah eskalasi yang kian panas.
Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon pun angkat bicara. Mereka mengungkapkan kekhawatiran serius bahwa Iran masih sanggup melancarkan serangan yang melumpuhkan, apalagi di saat stok rudal pencegat milik sekutu mulai menipis. Celah keamanan pun kian terbuka karena drone lawan terus saja menerobos pertahanan yang ada.
Meskipun AS dan Israel sebelumnya sudah menggempur lebih dari 16.000 target di Iran—termasuk peluncur rudal dan gudang penyimpanan drone—Teheran tetap membuktikan bahwa mereka masih mampu menjaga ritme serangan. Nyatanya, mereka belum kehabisan amunisi.
Kilang Minyak dan Fasilitas LNG Terbakar
Pekan ini, serangan Iran kembali menghantam jantung industri energi sekutu. Kilang minyak di Kuwait dan Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran empuk. Tak berhenti di situ, fasilitas gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Ras Laffan di Qatar pun ikut mengalami kerusakan parah. Menteri Energi Qatar sampai mengakui bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki fasilitas vital tersebut.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Iran juga berhasil melumpuhkan sejumlah radar pertahanan udara dan sistem peringatan dini milik AS beserta sekutunya. Akibatnya, deteksi dini terhadap serangan mendadak menjadi sangat sulit dilakukan.
Laporan menyebut bahwa Iran tidak bergerak sendirian. Rusia secara aktif memberikan dukungan dengan memetakan posisi pasukan Amerika di kawasan Teluk. Moskwa memperluas kerja sama mereka dengan berbagi citra satelit beresolusi tinggi serta teknologi drone mutakhir. Langkah ini secara signifikan meningkatkan efektivitas serangan Iran di lapangan.
Aturan Darurat Diterapkan, Kongres Dilewati
Situasi mencekam ini membuat Kementerian Luar Negeri AS mengambil langkah kontroversial. Mereka menggunakan aturan darurat untuk mem bypass peninjauan dari Kongres—sesuatu yang biasanya wajib dilakukan dalam kesepakatan senjata besar. Paket senjata yang dikerahkan mencakup 11 kesepakatan terpisah untuk Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Yordania.
Rinciannya cukup mencengangkan: AS menggelontorkan 1,2 miliar dolar AS untuk ratusan rudal udara-ke-udara tingkat lanjut atau AMRAAM yang dapat menembak jatuh drone dengan presisi. Lalu, mereka juga menyiapkan 5,6 miliar dolar AS untuk rudal pertahanan udara PAC-3, 4,5 miliar dolar AS untuk peralatan radar THAAD, dan 2 miliar dolar AS untuk sistem anti-drone yang menggabungkan radar, perang elektronik, hingga meriam otomatis. Tak ketinggalan, Kuwait juga bakal menerima peralatan pertahanan udara senilai 8 miliar dolar AS.
UEA Klaim Sudah Siap, Tapi Produksi Terhambat
Meskipun pengerahan senjata besar-besaran ini terjadi, Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa mereka saat ini sebenarnya sudah memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang canggih untuk melindungi negaranya. Namun, di balik pernyataan itu, konflik berkepanjangan di Ukraina dan Timur Tengah telah menguras pasokan rudal pencegat secara global. Akibatnya, banyak senjata yang dijanjikan dalam kesepakatan ini diperkirakan baru bisa dikirimkan beberapa tahun ke depan karena kendala manufaktur.
Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti urgensi situasi yang menekan ini. Menurutnya, dalam perang seperti sekarang ini, satu-satunya hal yang berarti adalah persenjataan yang tersedia hari ini. Cancian menegaskan bahwa negara-negara Teluk sudah banyak menghabiskan stok pertahanan mereka sehingga situasinya benar-benar kritis.
Strategi Murah Meriah Iran: Drone Shahed
Iran tampaknya sedang memainkan strategi jangka panjang yang cerdik. Mereka mengandalkan drone Shahed yang murah, hanya berbiaya puluhan ribu dolar AS per unit, namun mampu diproduksi secara massal dalam waktu singkat. Pendekatan ini jelas menyulitkan lawan yang harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk menjatuhkan setiap drone.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, secara terbuka mengakui kekuatan persenjataan Iran. Dalam konferensi pers di Pentagon pada Kamis (19/3/2026), ia menyatakan dengan tegas bahwa Iran memasuki pertempuran ini dengan membawa persenjataan yang sangat banyak. “Seperti yang kami katakan dan selalu kami sampaikan, jelas mereka memasuki pertempuran ini dengan membawa senjata yang sangat banyak,” tegas Caine.
Buruan! Jet Tempur Hanya Punya Waktu Menit
Kini, AS dan Israel mulai mengubah taktik. Mereka berfokus untuk memburu kru drone dan rudal Iran sebelum senjata tersebut sempat diluncurkan. Namun, tantangan berat masih menghadang karena waktu yang tersedia bagi jet tempur untuk beraksi sering kali hanya dalam hitungan menit. Dalam situasi yang serba cepat ini, setiap detik sangat menentukan apakah serangan dapat dicegat atau justru menerobos pertahanan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

