Desapenari.id – Washington DC benar-benar mengguncang panggung global! Pada Kamis, 22 Januari 2026, Amerika Serikat secara resmi memutuskan untuk hengkang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sebenarnya, dunia sudah bisa menebak langkah kontroversial ini sejak Presiden Donald Trump, di hari pertama masa jabatannya tahun 2025, secara terang-terangan mengeluarkan perintah eksekutif yang mengisyaratkan niat tersebut. Kemudian, seperti yang diumumkan lewat rilis bersama Departemen Kesehatan dan Departemen Luar Negeri AS, pemerintah kini hanya akan bekerja sama dengan WHO secara sangat terbatas, itu pun semata untuk mengurus proses perceraian ini. Seorang pejabat senior kesehatan AS bahkan dengan tegas menegaskan, “Kami tidak berencana untuk sekadar menjadi pengamat, apalagi bergabung kembali di masa depan.”
Lalu, apa sebenarnya yang memicu perpecahan memilukan ini? Pertama-tama, perselisihan sengit soal uang menjadi biang keladinya! Berdasarkan hukum AS, pemerintah seharusnya memberi pemberitahuan setahun sebelumnya dan melunasi seluruh iuran yang tertunggak—yang jumlahnya mencapai sekitar 260 juta dollar AS (sekitar Rp 4,3 triliun)—sebelum benar-benar keluar. Namun, pejabat Departemen Luar Negeri dengan lantang membantah dan berargumen bahwa undang-undang tidak secara eksplisit mewajibkan pembayaran harus dilakukan di muka. “Rakyat Amerika sudah membayar lebih dari cukup,” begitu kira-kira pembelaan juru bicara mereka melalui email pada hari Kamis. Selanjutnya, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) pun ikut angkat bicara. Mereka menyatakan telah menghentikan total kontribusi dana ke WHO. Juru bicara HHS bahkan menambahkan bahwa Presiden Trump menggunakan kewenangannya untuk menahan transfer sumber daya AS dengan alasan organisasi tersebut telah “menelan biaya triliunan dolar” bagi negara itu. Sebagai tanda bahwa perpisahan ini sungguh-sungguh, saksi mata melaporkan bahwa bendera AS telah diturunkan dari depan markas besar WHO di Jenewa pada hari yang sama.
Akibatnya, keputusan gegabah AS ini langsung memicu krisis keuangan hebat di tubuh WHO. Bayangkan, sebagai penyumbang tunggal terbesar yang selama ini menyokong sekitar 18% dari total anggaran, hengkangnya Negeri Paman Sam memaksa WHO mengambil langkah drastis: mengurangi separuh tim manajemennya dan memangkas anggaran di semua lini. Bahkan, diperkirakan sekitar seperempat staf WHO akan kehilangan pekerjaan mereka di pertengahan tahun ini. Menyikapi hal ini, banyak pakar kesehatan global langsung menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka serentak memperingatkan bahwa langkah ini membawa risiko besar tidak hanya bagi AS dan WHO, tetapi juga bagi keamanan kesehatan seluruh penduduk Bumi. Kelly Henning dari Bloomberg Philanthropies, misalnya, dengan gamblang menyatakan, “Penarikan AS dari WHO bisa melemahkan sistem dan kolaborasi yang selama ini diandalkan dunia untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman kesehatan.”
Di sisi lain, reaksi dari para tokoh ternama pun berdatangan. Bill Gates, sang filantropis yang dikenal aktif mendukung kesehatan global melalui Gates Foundation, mengaku tidak terlalu berharap AS akan berubah pikiran dalam waktu dekat. Meski begitu, ia tetap mendorong agar negaranya segera bergabung kembali karena baginya, “Dunia membutuhkan Organisasi Kesehatan Dunia.” Sementara itu, di kubu dalam negeri AS sendiri, suara-suara sumbang justru mengusulkan hal yang lebih ekstrem. Beberapa pengkritik WHO bahkan mengusulkan pembentukan badan kesehatan dunia baru sebagai pengganti. Ironisnya, proposal yang pernah ditinjau pemerintahan Trump tahun lalu justru menyarankan agar AS mendorong reformasi dan memperkuat kepemimpinan Amerika di dalam WHO, bukannya keluar sama sekali.
Selama setahun terakhir, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bersama para pakar global terus-menerus menyerukan dan mendesak AS untuk mempertimbangkan ulang keputusannya. Sayangnya, semua seruan itu seolah diabaikan. WHO juga mencatat dengan teliti bahwa AS masih memiliki tunggakan iuran untuk tahun 2024 dan 2025. Kemudian, Dewan Eksekutif WHO sendiri telah menjadwalkan pembahasan khusus mengenai penarikan diri AS ini pada bulan Februari mendatang. Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul kritik tajam dari ahli hukum. Lawrence Gostin, pendiri O’Neill Institute for Global Health Law, dengan berani menilai bahwa tindakan Trump ini sebenarnya melanggar hukum AS sendiri. Namun, ia pesimistis dan menambahkan, “Tapi kemungkinan besar Trump akan lolos dari konsekuensinya.”
Pada akhirnya, langkah AS ini meninggalkan tanda tanya besar dan kekhawatiran mendalam bagi masa depan kesehatan global. Keahlian teknis WHO dalam memandu respons global kini terancam, sementara kewenangan lembaga tersebut untuk mengoordinasi semua negara bisa berkurang drastis. Lebih dari itu, kepercayaan terhadap komitmen AS dalam kerja sama multilateral tercoreng parah, dan kredibilitasnya dalam memenuhi kewajiban finansialnya di panggung internasional juga dipertanyakan. Oleh karena itu, meski artikel ini disusun berdasarkan fakta-fakta resmi, kita semua diajak untuk selalu kritis dan mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya. Ingat, dalam dunia yang terhubung seperti sekarang, krisis kesehatan di belahan dunia lain bisa dengan cepat menjadi ancaman di depan pintu kita. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah krisis berikutnya akan datang, tetapi seberapa siapkah kita menghadapinya jika sistem peringatan dini dunia justru sengaja dilemahkan?
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

