TANGERANG, Desapenari.id — Jumat (6/3/2026), suasana Mapolresta Tangerang berjalan biasa saja. Personel jaga lalu lalang, beberapa warga mengurus administrasi. Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, seorang perempuan berinisial EM melangkah masuk dengan wajah datar. Tanpa ekspresi gugup, ia langsung menemui petugas jaga.
Tak banyak basa-basi, EM kemudian melontarkan pernyataan yang membuat bulu kuduk para petugas berdiri. “Saya bunuh suami saya,” katanya tenang. Petugas sempat mengulang pertanyaan untuk memastikan tidak salah dengar. Namun EM hanya mengangguk mantap. Ia mengaku telah menghabisi nyawa pria berinisial J—suami sahnya—di rumah mereka sendiri.
Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah kemudian membenarkan peristiwa menghebohkan ini. Dalam keterangan resminya, ia menjelaskan bahwa pengakuan mengejutkan itu muncul begitu saja dari mulut EM. “Ia datang sendiri. Tidak ada paksaan. Ia mengaku melakukan pembunuhan terhadap suaminya,” ujar Indra, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan pengakuan awal EM, peristiwa kelam itu terjadi sehari sebelumnya, Kamis (5/3/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Waktu magrib yang biasanya syahdu berubah menjadi mencekam di kediaman mereka yang berlokasi di Kapling Pinang, Kelurahan Tigaraksa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
Sontak, pernyataan EM langsung menggerakkan tim satuan reskrim. Mereka segera meluncur ke lokasi guna mencocokkan pengakuan perempuan tersebut dengan fakta di lapangan. Petugas lalu memasang garis polisi di sekeliling rumah. Warga sekitar pun mulai berkerumun, berbisik-bisik penasaran.
Di lokasi kejadian, tim Inafis langsung bergerak cepat. Mereka melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara teliti. Rumah yang tampak biasa itu mendadak berubah sunyi dan mencekam. Petugas menyapu setiap sudut ruangan untuk mencari jejak dan petunjuk. Beberapa barang bukti berhasil mereka amankan dari dalam rumah, meskipun pihak kepolisian masih merahasiakan detail benda-benda tersebut.
Sementara itu, EM tidak pulang ke rumah setelah membuat pengakuan. Polisi langsung menahannya di Mapolresta Tangerang. Kini, ia duduk sendirian di ruang pemeriksaan, ditemani penyidik yang terus menggali informasi. Suasana interogasi berlangsung intensif, namun EM disebut-sebut masih kooperatif menjawab setiap pertanyaan.
Jenazah korban berinisial J langsung dievakuasi ke RSUD Balaraja. Tim medis kemudian menyiapkan prosedur otopsi. Mereka ingin memastikan penyebab pasti kematian korban, apakah sesuai dengan pengakuan EM atau ada fakta lain yang muncul nantinya. Proses otopsi ini menjadi kunci penting dalam pengungkapan perkara.
Di lokasi pemukiman, geger. Warga Tigaraksa tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Pasalnya, pasangan suami istri itu dikenal tidak pernah ribut di depan umum. Mereka tampak seperti keluarga biasa yang tenang. Namun siapa sangka, di balik pintu tertutup rumah mereka, ternyata menyimpan drama mencekam berujung maut.
“Saya kaget, Bu. Mereka orangnya pendiam, jarang bergaul. Tapi nggak nyangka kejadian begini,” ujar seorang tetangga yang enggan disebut namanya.
Hingga saat ini, polisi terus memburu keterangan dari saksi-saksi. Mereka memanggil tetangga sekitar, kerabat, serta pihak-pihak yang mungkin mengetahui dinamika rumah tangga pasangan tersebut. Dari sanalah, polisi berharap bisa menyusun potongan puzzle motif pembunuhan.
Kapolresta menambahkan bahwa pihaknya masih membutuhkan waktu untuk mengungkap secara utuh kronologi kejadian. “Kami sedang mendalami. Baik dari sisi waktu kejadian, cara pelaku melakukan aksinya, hingga apa yang menjadi pemicu. Semua masih kami kumpulkan,” jelas Kombes Andi.
Ia juga memastikan bahwa penyidik tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan. Mereka bekerja berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan di lapangan. Meski pelaku sudah mengaku, polisi tetap membuka kemungkinan adanya fakta lain yang bisa mengubah jalannya kasus.
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi mengenai senjata atau alat yang digunakan pelaku. Polisi juga masih bungkam soal ada tidaknya luka-luka tertentu di tubuh korban. Semua masih menunggu hasil otopsi dan pemeriksaan laboratorium forensik.
Dari ruang pemeriksaan, kabarnya EM masih menunjukkan ekspresi datar. Ia tidak banyak menangis atau menunjukkan penyesalan berlebihan. Sikapnya yang tenang justru membuat penyidik semakin penasaran dengan latar belakang kejadian ini. Ada apa sebenarnya di balik pintu rumah mereka sebelum malam nahas itu tiba?
Sementara itu, proses penyelidikan terus berjalan siang dan malam. Polisi berjanji akan segera merilis perkembangan terbaru begitu ada titik terang. Publik pun menanti dengan penasaran: apakah ini pembunuhan berencana, ataukah aksi spontan yang dipicu amarah sesaat?
Yang jelas, perempuan paruh baya itu kini menjadi pusat perhatian. Ia bukan sekadar istri, tapi juga tersangka pembunuh suaminya sendiri. Dan ia sendiri yang membuka semuanya, dengan melangkah ke kantor polisi di siang bolong.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

