Desapenari.id – Sebuah insiden mengerikan dan penuh drama berhasil direkam di ibukota! Sebuah mobil meledak menjadi bola api setelah sang sopir, yang diduga sedang mabuk, kehilangan kendali dan menabrak separator jalur Transjakarta. Kejadian mencekam ini terjadi persis di Jalan Ahmad Yani, kawasan Pulogadung, Jakarta Timur, pada dini hari yang sunyi, Minggu (4/1/2026). Menurut konfirmasi resmi dari Kepala Seksi Operasi Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Timur, Abdul Wahid, penyebab utama insiden spektakuler ini diduga kuat adalah kelalaian manusia dalam bentuk mengemudi bajo alias mabuk.
Lebih detail, Wahid memaparkan kronologi yang begitu jelas. Ternyata, sebelum akhirnya berubah menjadi puing berasap, kendaraan tersebut sudah melaju dari wilayah Tanjung Priok di Jakarta Utara dengan tujuan Cawang, Jakarta Timur. “Kondisi pengemudi dalam keadaan mabuk,” tegas Wahid, menyampaikan analisis awal timnya berdasarkan indikasi di lokasi. “Korban mengendarai mobil dari arah Tanjung Priok ke Cawang, kemudian, tanpa bisa mengendalikan setir, akhirnya menabrak separator busway dengan keras dan mobil itu pun langsung terbakar.” Narasumber berwenang ini seakan menegaskan, kombinasi antara kecepatan dan ketidaksadaran pengemudi menjadi pemicu ledakan chaos di jalanan itu.
Namun, di tengah kepanikan dan kobaran api yang mulai membesar, ada satu titik terang. Meski benturan keras itu menyebabkan mobil mengalami kerusakan struktural yang sangat serius hingga akhirnya mudah tersulut api, nyawa sang pengemudi berhasil diselamatkan. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang bisa saja berakhir tragis ini. Dengan naluri menyelamatkan diri, pengemudi berhasil keluar dari sangkar logamnya yang mulai memanas tepat sebelum api melahap habis seluruh kabin. Aksi penyelamatan diri ini menjadi faktor kunci yang mencegah musibah yang lebih besar.
Di sisi lain, respons tim penolong juga patut diacungi jempol. Begitu mendapat laporan darurat mengenai insiden berapi-api itu, petugas pemadam kebakaran langsung bergerak cepat. Wahid melaporkan, “Kami menerima laporan pukul 03.10 WIB, waktu tiba di lokasi pukul 03.17 WIB, dan waktu selesai operasi pemadaman pukul 03.35 WIB.” Bayangkan, hanya dalam hitungan menit, satu unit mobil pemadam dengan empat personel terlatih sudah berada di lokasi untuk menjinakkan si jago merah. Efisiensi dan kecepatan ini menunjukkan profesionalitas dan kesiapsiagaan tim dalam menangani krisis.
Hasilnya, api yang berkobar dan mengancam itu berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari 30 menit. Operasi yang singkat namun efektif ini membuat situasi bisa segera dikendalikan. Setelah memastikan tidak ada lagi titik api atau bahaya lain, tim Gulkarmat pun menyerahkan penanganan lanjutan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Tugas polisi sekarang adalah menyelidiki kasus ini lebih mendalam, mengusut tingkat keracunan alkohol pengemudi, dan tentu saja, menindak tegas pelanggaran yang membahayakan nyawa banyak orang ini.
Nah, dari serangkaian kejadian ini, kita bisa menarik pelajaran berharga. Pertama, mengemudi dalam keadaan mabuk bukanlah tindakan keren, melainkan bom waktu yang bisa meledak kapan saja, persis seperti yang nyaris terjadi di Pulogadung. Kedua, kesigapan dan profesionalitas petugas darurat seperti pemadam kebakaran benar-benar menjadi pahlawan di balik layar yang menyelamatkan aset dan nyawa. Terakhir, kejadian ini diharapkan menjadi pengingat keras bagi semua pengendara di Jakarta untuk selalu sadar dan bertanggung jawab di jalan. Bagaimanapun, satu keputusan salah seperti menyetir saat mabuk, bisa mengubah mobil mewah menjadi tumpukan besi hangus dalam sekejap, dan yang lebih parah, merenggut nyawa orang tak bersalah.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

