TEL AVIV, Desapenari.id – Malam berubah menjadi neraka. Langit Tel Aviv yang biasanya gemerlap tiba-tiba memerah, diikuti dentuman yang menggetarkan bumi. Iran akhirnya bicara dengan cara paling keras: rentetan rudal balas dendam menghantam jantung kota Israel, Selasa (18/3/2026) malam.
Dua nyawa melayang. Bukan tentara, melainkan warga sipil yang terjebak dalam pusaran konflik. Operasional transportasi nasional Israel pun lumpuh total dalam sekejap. Jika Anda mengira perang ini masih berjarak, malam tadi membuktikan sebaliknya: api telah sampai di depan pintu.
Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa amunisi berat menghujani beberapa lokasi di Israel tengah. Sirene meraung-raung tanpa henti, membelah kesunyian malam dengan nada peringatan yang mengancam. Warga berhamburan, namun tidak semuanya selamat. Eskalasi mengerikan ini sejatinya bukan kejutan, melainkan babak lanjutan dari perang terbuka yang dipicu serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026. Kini, bola api itu kembali bergulir dan meledak tepat di pusat permukiman.
Rumah Lansia Itu Hancur, Mereka Tak Sempat ke Ruang Aman
Puing-puing berserakan di Ramat Gan, sebuah kota yang menyatu dengan Tel Aviv. Di sinilah tragedi kemanusiaan terjadi. Dean Elsdunne, juru bicara kepolisian, menjelaskan dengan nada berat bahwa sebuah bangunan tempat tinggal terkena bom tandan.
Bagaimana bom ini bekerja? Ia meledak di udara, kemudian menyebarkan puluhan bom kecil ke area luas—seperti menabur kematian dari langit. “Serangan tersebut menyebabkan atap runtuh menimpa pasangan lansia yang sedang berada di kamar mereka,” ujar Elsdunne, dikutip dari AFP.
Ia menambahkan, “Sayangnya, mereka tidak pergi ke ruang aman ketika alarm berbunyi. Akibatnya, tragedi yang tidak menguntungkan ini pun terjadi.” Dua jiwa yang seharusnya menikmati masa tua dengan damai, harus meregang nyawa karena perang yang tak mereka mulai.
Omer, seorang warga setempat yang hanya menyebut nama depannya, masih gemetar saat menceritakan pengalamannya. “Bukan hanya satu ledakan, tapi seperti rudal itu terbelah di udara,” jelasnya, menggambarkan bagaimana pecahan amunisi menghujani lingkungan mereka.
Jalanan Penuh Puing, Petugas Berjibayan di Tengah Malam
Tim AFP yang tiba di lokasi merekam pemandangan memilukan. Jalan yang biasanya ramai kini dipenuhi puing-puing bangunan. Petugas polisi, tim penyelamat, dan personel militer bekerja bahu-membahu di tengah puing yang masih panas. Debu tebal masih menggantung di udara, bercampur bau mesiu yang menyengat.
Layanan medis darurat Magen David Adom Israel mengonfirmasi penemuan dua korban tewas di tempat kejadian. “Kami melihat asap mengepul dari sebuah bangunan dengan kerusakan parah,” tulis pernyataan petugas medis. “Kaca pecah berserakan di mana-mana, seolah monster raksasa baru saja menginjak-injak kawasan ini.”
Tak hanya di Ramat Gan, kota Bnei Brak di wilayah Tel Aviv juga tidak luput. Seorang pria dilaporkan mengalami luka ringan akibat pecahan peluru. Ia beruntung masih bisa selamat, meski nyawanya hampir melayang hanya karena berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Balas Dendam untuk Ali Larijani, Garda Revolusi Angkat Bicara
Lalu, apa sebenarnya pemicu serangan kilat ini? Gambar-gambar yang dibagikan Magen David Adom memperlihatkan kehancuran yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Mobil-mobil hangus terbakar, hanya menyisakan rangka besi yang bengkok. Kendaraan lain hancur lebur seperti kaleng penyok. Puing-puing berserakan bak lautan sampah pasca-badai.
Polisi Israel bergerak cepat. Mereka mengerahkan para ahli penjinak bom ke beberapa lokasi terdampak. Tugas mereka berat: mengamankan sisa-sisa amunisi yang masih aktif di dalam distrik Tel Aviv. Bahaya belum sepenuhnya pergi.
Dampaknya langsung terasa pada infrastruktur vital. Perusahaan kereta api nasional mengumumkan bahwa serpihan peluru merusak peron di stasiun utama Tel Aviv. Akibatnya, layanan kereta api di seluruh negeri terpaksa dihentikan sementara. Jutaan warga yang biasa bergantung pada transportasi publik mendadak kesulitan.
Kabar baiknya, pagi harinya sebagian besar layanan kereta api kembali beroperasi. Namun, militer Israel membagikan rekaman yang menunjukkan fakta mengerikan: pecahan kaca masih berserakan di peron, jendela kereta berlubang, semuanya menjadi saksi bisu betapa dekatnya maut dengan warga sipil.
Di tengah kekacauan ini, Garda Revolusi Iran akhirnya buka suara. Mereka mengeluarkan pernyataan tegas: serangan rudal ke Israel tengah adalah aksi balas dendam. Targetnya? Mereka menegaskan bahwa operasi ini dilakukan sebagai pembalasan atas kematian Ali Larijani dan para pengikutnya.
Jangan bayangkan serangan ini hanya sekali. Militer Israel melaporkan setidaknya dua gelombang rudal tambahan menyusul setelah serangan mematikan pertama. Setiap gelombang memicu peringatan di seluruh wilayah tengah dan selatan Israel, membuat warga harus berkali-kali lari ke ruang aman sepanjang malam.
Kini, pertanyaan besarnya: apa respons Israel selanjutnya? Jika serangan balasan dilancarkan, Timur Tengah bisa benar-benar terbakar. Malam mencekam di Tel Aviv ini mungkin baru awal dari babak baru konflik yang lebih dahsyat. Yang jelas, warga sipil kembali menjadi korban. Pasangan lansia itu hanya ingin tidur nyenyak di rumah mereka, tapi perang datang tanpa undangan. Mereka tak pernah membayangkan bahwa malam biasa akan berakhir dengan atap runtuh menimpa tubuh mereka.
Dan di tengah puing-puing yang masih berasap, Israel kini harus memutuskan langkah berikutnya. Sementara itu, warga Tel Aviv hanya bisa berharap, semoga malam berikutnya tidak se-gila malam ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

