KUPANG, Desapenari.id – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT) langsung bergerak cepat menindaklanjuti keluhan warga terkait kerusakan di ruas Jalan Mauponggo–Ngera–Puuwada, Kabupaten Nagekeo. Mereka mengaku sudah menangani laporan itu secara tuntas.
Di sejumlah titik pada segmen Mauponggo–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer, kerusakan sempat mencuat ke permukaan. Retakan kecil mulai merambat, dan kualitas aspal pun ikut menurun. Kondisi ini sontak memicu kekhawatiran mendalam bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada akses tersebut—mulai dari petani yang harus mengangkut hasil bumi, pelajar yang setiap hari lalu lalang, hingga pedagang kecil yang mengandalkan kelancaran distribusi barang.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah IV NTT, Wilhelmus Sugu Djawa, menjelaskan secara gamblang bahwa kerusakan itu terjadi saat proyek masih dalam tahap pengerjaan. Dengan kata lain, kejadian itu berlangsung sebelum proses serah terima pertama atau Provisional Hand Over (PHO) dilaksanakan.
“Saat ini, kami sudah menanganinya dan kondisinya kembali baik,” ujar Wilhelmus dengan tegas, Sabtu (21/3/2026).
Ia kemudian merinci bahwa proyek peningkatan jalan ini merupakan bagian dari dua paket pekerjaan besar dalam Program Inpres Jalan Daerah Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten Nagekeo. Total nilai kontrak kedua paket ini mencapai angka fantastis, yaitu Rp 18,39 miliar.
Lebih lanjut, Wilhelmus memaparkan bahwa paket pertama berupa preservasi Jalan Mauponggo–Ngera–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer, yang pengerjaannya dipercayakan kepada CV Ratu Orzora dengan nilai kontrak Rp 9,11 miliar. Sementara itu, paket kedua dengan panjang yang sama digarap oleh CV Anugerah Cipta Jaya dengan nilai Rp 9,28 miliar. Kedua paket tersebut, pengawasannya langsung dikawal ketat oleh konsultan supervisi PT Maha Charisma Adiguna.
Mengacu pada paket pertama, kontrak dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) resmi dimulai pada 26 November 2025. Pekerjaan tersebut kemudian dinyatakan rampung dan PHO dilaksanakan pada 11 Maret 2026. Kini, masa pemeliharaan pun berlangsung selama satu tahun hingga 11 Maret 2027.
Selama masa pelaksanaan proyek, kerusakan sempat ditemukan di beberapa titik. Menurut Wilhelmus, faktor cuaca ekstrem yang melanda sejak akhir 2025 menjadi biang kerok utama. Untungnya, atas temuan ini, penyedia jasa CV Ratu Orzora langsung bergerak melakukan perbaikan. Mereka menjadikan ini sebagai bagian dari pemenuhan standar mutu sebelum PHO dilaksanakan.
Kini, kata Wilhelmus dengan nada lega, ruas jalan tersebut telah kembali mulus. Masyarakat pun bisa memanfaatkannya secara optimal tanpa rasa khawatir.
Senada dengan itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Richard Manukoa, menegaskan bahwa setiap temuan kerusakan menjadi evaluasi penting yang wajib segera ditindaklanjuti. Ia tak mau ambil pusing; yang penting persoalan di lapangan cepat terselesaikan.
“Sudah kami tangani dan sekarang kondisinya baik dan mulus,” tegas Richard.
Richard menambahkan, kontraktor langsung melakukan perbaikan sebagai wujud tanggung jawab. Pasalnya, proyek masih berada dalam masa pelaksanaan. Tanggung jawab tersebut, lanjutnya, tidak hanya berhenti pada penyelesaian administratif, tetapi juga mencakup fase pascapekerjaan demi memastikan kualitas jalan tetap terjaga.
Tak hanya fokus pada perbaikan fisik, Richard juga mengungkapkan langkah preventif yang diambil sejak awal. Pihaknya telah melibatkan Kejaksaan Tinggi NTT dalam pengawasan proyek. Bahkan, setelah Lebaran nanti, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan NTT akan menggelar audit secara menyeluruh.
“Kami memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan. Tidak ada niat untuk mengambil keuntungan pribadi dari proyek ini,” ujar Richard dengan penuh keyakinan.
Di akhir pernyataannya, Richard berharap masyarakat dapat kembali memanfaatkan jalan tersebut dengan aman dan nyaman. Dengan demikian, distribusi hasil pertanian dan aktivitas sehari-hari warga bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
Sebelum keluhan ini viral dan mendapat respons cepat dari BPJN, warga Desa Ngera dan Lewa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, sempat dihadapkan pada kekhawatiran. Pasalnya, jalan yang baru selesai dibangun pada akhir 2025 itu sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Padahal, jalan nasional sepanjang sekitar empat kilometer ini merupakan akses vital yang menghubungkan Kecamatan Mauponggo dan Keo Tengah. Setiap hari, jalan ini melayani aktivitas lima desa dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 7.000 jiwa.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

