BENER MERIAH, Desapenari.id – Sungguh di luar nalar! Lebaran sudah berlalu, namun warga Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, masih nekat mengandalkan jembatan bambu reyot untuk beraktivitas sehari-hari. Daripada nyaman melintas, mereka justru bertaruh nyawa setiap kali melangkah di atas papan yang mulai bergeser.
Janji Manis Tinggal Kenangan, Jembatan Darurat Tak Kunjung Terwujud
Setelah Idul Fitri berlalu, warga masih gigih menggunakan jembatan bambu darurat untuk menunjang segala kebutuhan hidup mereka. Sungguh ironis, pembangunan jembatan darurat di Weh Kanis yang sebelumnya dijanjikan pemerintah akan siap sebelum Lebaran, kini hanya tinggal harapan semu. Hingga detik ini, belum tampak satu pun tanda-tanda bahwa jembatan darurat itu akan segera dibangun di lokasi tersebut.
Dengan nada kesal sekaligus cemas, Jamaluddin, salah seorang warga, meluapkan kekesalannya saat ditemui pada Sabtu (29/3/2026). “Coba bayangkan, papan pijakan di atas bambu itu sebagian besar sudah tidak pada tempatnya! Beban berat yang melintas setiap hari membuat paku-paku penahan papan jebol satu per satu, akibatnya papan bergeser seenaknya,” ujarnya dengan geram.
Lebih lanjut, Jamal mengungkapkan situasi mengerikan yang mereka hadapi setiap saat. Bambu-bambu penyangga mulai rapuh dimakan usia dan cuaca ekstrem, sehingga sangat berbahaya untuk dilalui kendaraan. “Ratusan pengendara mempertaruhkan nyawa setiap hari. Kami sudah lelah, berkali-kali kami sampaikan, jangan tunggu ada korban jiwa baru jembatan ini diperbaiki! Tapi sampai sekarang, kondinya begitu-begitu saja,” keluhnya dengan nada putus asa.
Jembatan Weh Kanis: Urat Nadi Kehidupan 14 Desa yang Mematikan
Hebatnya, jembatan darurat yang mengancam jiwa ini justru menjadi tulang punggung transportasi bagi 14 kampung di Kecamatan Mesidah. Setiap hari, mereka menggantungkan hidup pada jembatan bambu ini, baik untuk memenuhi kebutuhan pokok maupun mengangkut hasil panen. Ratusan petani pun rela mengambil risiko setiap hari demi membawa hasil bumi ke pasar.
Dari total 14 desa tersebut, beberapa desa yang termasuk wilayah kemukiman Tungku Tige benar-benar mati-matian bergantung pada jembatan Weh Kanis. Memang, sebenarnya ada jalur alternatif melalui rute Pondok Baru-Samar Kilang. Namun, coba bayangkan, jika memutar lewat jalur lain, waktu tempuh bisa membengkak hingga satu atau dua jam! Tidak heran, meski jembatan bambu ini mengancam jiwa, warga tetap memilihnya sebagai opsi utama demi efisiensi waktu.
Janji Bikin Geregetan: Pemerintah Bilang Siap, Realita Nol Besar
Menggali lebih dalam, pada awal Maret lalu, Pemkab Bener Meriah melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Ilham Abdi, dengan percaya diri memastikan bahwa jembatan darurat akan dibangun sebelum Lebaran. Bahkan, mereka menjanjikan solusi kilat berupa jembatan darurat dari kontainer sebanyak dua hingga tiga unit yang memungkinkan kendaraan roda empat melintas dengan mulus saat arus mudik. Jalan daruratnya pun dijanjikan akan diperlebar dan kemiringannya diperbaiki.
Tak hanya itu, jembatan permanen juga dikabarkan ditargetkan rampung pada akhir 2026. Pernyataan mengejutkan itu disampaikan usai rapat koordinasi yang melibatkan BNPB, Dinas PUPR Bener Meriah, BPJN Aceh, hingga perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, fakta di lapangan sungguh berkata lain: hingga saat ini, tidak satu pun dari janji-janji manis tersebut terealisasi. Nol besar!
Saat momen Lebaran lalu, pemandangan memilukan pun terjadi. Ratusan warga terpaksa mengantre panjang untuk melintasi jembatan bambu yang hanya mampu dilalui sepeda motor. Siapa pun yang melintas harus mengesampingkan keselamatan demi sampai ke tujuan. “Sedih sekali melihatnya. Ini satu-satunya akses kami. Kami mulai ragu, kalau jembatan darurat saja tidak bisa diwujudkan, bagaimana mungkin jembatan permanen?” ungkap warga lainnya, Aman Gawa, dengan nada skeptis.
Yang lebih membuat garuk-garuk kepala, beberapa waktu lalu alat berat dan pengolahan beton sempat terlihat di salah satu rumah warga. Aktivitas pengukuran dan pengeboran sampel tanah pun sudah dilakukan. Namun, harapan itu sirna seketika setelah Aman Gawa mendapatkan informasi mengejutkan: “Beberapa waktu lalu sepertinya sudah mulai mengukur dan mengebor tanah. Tapi kabar terakhir, proyek pengerjaan jembatan Weh Kanis dilelang lagi. Entah bagaimana kelanjutannya,” tuturnya kebingungan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

