Desapenari.id – Sore itu, Kamis (26/2/2026), warga Desa Muara Adang, Kecamatan Long Ikis, Paser, Kalimantan Timur, mendadak berteriak histeris. Bukan karena kegembiraan, melainkan kepanikan luar biasa saat kobaran api raksasa tiba-tiba melahap habis rumah-rumah mereka. Peristiwa nahas ini bermula dari sebuah ledakan kecil yang berubah menjadi malapetaka besar. Diduga kuat, percikan api dari petasan yang dimainkan anak-anak di depan sebuah kios BBM menjadi biang keladi kebakaran mengerikan ini. Tanpa ampun, si jago merah meludeskan 34 rumah dan merusak 11 bangunan lainnya dalam hitungan jam!
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Paser, M. Lukman Darma, mengungkapkan kronologi pilu ini dengan nada getir. Anak-anak tengah asyik bermain petasan di dekat kios bahan bakar, tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
“Seketika itu juga, percikan petasan menyambar tumpahan atau bahan bakar yang ada di sekitar kios. Api langsung membesar dengan cepat sekali! Material mudah terbakar di sekitarnya seperti menyambut sambaran petir, langsung mempercepat kobaran api merambat ke bangunan-bangunan lain,” jelas Lukman dengan nada prihatin.
Satu Jam yang Mengubah Hidup 173 Jiwa
Kobaran api tidak main-main. Luas area terdampak mencapai sekitar 3.500 meter persegi, setara dengan setengah lapangan sepak bola. Bayangkan, dalam waktu kurang dari tiga jam, sebanyak 34 rumah hangus total, sementara 11 rumah lainnya ikut terdampak parah. Totalnya, 57 kepala keluarga atau 173 jiwa harus kehilangan tempat berlindung dalam sekejap!
Beruntungnya, tak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam tragedi ini. Namun, kerugian materiil sungguh fantastis. Lukman menyebut angka yang mencengangkan: total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp 9,65 miliar! Angka ini mencakup rumah-rumah yang ludes, kios-kios, hingga kendaraan bermotor yang ikut terbakar.
Perjuangan 3 Jam Melawan Kobaran Api
Tim pemadam kebakaran dari tiga kecamatan—Long Ikis, Long Kali, dan Kuaro—bergerak cepat setelah mendapat laporan warga. Mereka berjibaku selama kurang lebih tiga jam, sejak si jago merah mulai berkobar hingga akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 19.00 Wita.
Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Akses jalan menuju lokasi kejadian menjadi tantangan berat. “Gang-gang sempit di kawasan pesisir menyulitkan mobil pemadam masuk,” ungkap Lukman. Belum lagi jarak tempuh yang mencapai 35 kilometer dari pusat Kecamatan Long Ikis dengan kondisi jalan rusak parah. Akibatnya, respons awal tim pemadam sedikit terhambat.
Tim pemadam akhirnya memanfaatkan sumber air dari PDAM dan air laut di sekitar lokasi untuk memadamkan api. Mereka bekerja bakti tanpa kenal lelah, menyemprotkan air ke bangunan-bangunan yang masih menyala, berusaha menyelamatkan apa yang tersisa.
Duka di Tengah Asap yang Membumbung
Suasana duka masih menyelimuti Desa Muara Adang sehari pascakebakaran. Warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi ke rumah kerabat atau tempat penampungan sementara. Mereka hanya bisa memandangi puing-puing rumah yang dulunya penuh kenangan.
Salah seorang warga, Siti (45), tak kuasa menahan tangis saat bercerita. “Rumah saya habis semua, Bu. Saya cuma bisa menyelamatkan dokumen penting saja. Lainnya ludes. Anak-anak saya masih syok, mereka melihat sendiri api membakar mainan dan buku sekolah mereka,” ujarnya terbata-bata.
Warga lainnya, Ahmad (52), juga merasakan kepedihan serupa. Kios sembakonya yang menjadi tumpuan hidup keluarga turut hangus. “Ini semua karena kelalaian. Anak-anak bermain petasan tanpa pengawasan. Sekarang, saya dan keluarga harus mulai dari nol lagi,” keluhnya.
Pelajaran Berharga dari Tragedi Petasan
Insiden ini menjadi pengingat pahit bagi semua pihak. Petasan, yang sering dianggap mainan biasa, ternyata menyimpan bahaya laten, terutama jika dimainkan di dekat bahan mudah terbakar. Tak hanya itu, kondisi permukiman padat penduduk dengan gang-gang sempit serta minimnya akses pemadam kebakaran menjadi faktor yang memperparah dampak bencana.
Pemerintah Kabupaten Paser, melalui dinas terkait, berjanji akan segera menyalurkan bantuan darurat bagi para korban. Sementara itu, kepolisian setempat masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan kelalaian yang menyebabkan kebakaran ini.
Kejadian memilukan ini membuka mata kita semua: kewaspadaan dan pengawasan terhadap anak-anak, terutama dalam hal bermain petasan, mutlak diperlukan. Sebab, satu percikan kecil bisa mengubah hidup puluhan keluarga dalam sekejap. Mari kita jadikan tragedi Muara Adang sebagai pelajaran berharga agar tak terulang lagi di masa mendatang.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

