KETAPANG, Desapenari.id – Getar duka menerjang dunia kerja di Kalimantan Barat! Sebuah insiden kecelakaan kerja yang benar-benar mengiris hati baru saja terjadi di lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang. Lebih tepatnya, empat pekerja dengan tragis dilaporkan terperosok ke dalam lorong maut cerobong pembakaran bahan bakar pada Rabu (21/1/2026) sore yang lalu. Sungguh memilukan, dari peristiwa mengerikan ini, dua orang pekerja harus meregang nyawa, sementara dua korban selamat lainnya kini harus berjuang melawan trauma dan masih terbaring menjalani perawatan intensif di RSUD Ketapang.
Menyikapi kabar buruk ini, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Ketapang, AKP Dedy Syahputra Bintang, langsung angkat bicara. “Kami pastikan pihak kepolisian telah menerima laporan terkait insiden tersebut dan akan segera turun tangan melakukan penyelidikan lebih lanjut secara menyeluruh,” tegasnya. Lebih lanjut, Dedy menjelaskan kepada para wartawan pada Jumat (23/1/2026), “Kami akui, terkait kejadian ini baru saja dilaporkan. Oleh karena itu, saat ini tim kami masih fokus mendalami setiap detail peristiwa dan dengan sigap memeriksa semua saksi-saksi yang ada di tempat kejadian perkara.”
Lalu, Bagaimana Kronologi Sebenarnya? Ternyata, musibah ini terjadi saat korban sedang menjalankan tugas! Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, insiden berdarah itu terjadi sebelum pukul 16.00 WIB, tepat di saat para pekerja tersebut tengah sibuk melakukan aktivitas perawatan atau maintenance di area cerobong PLTU yang berisiko tinggi. Yang membuat kita prihatin, keempat korban ini diketahui merupakan pekerja dari perusahaan vendor, PT Limas, yang sedang bertugas di area PLTU Ketapang. Ini jelas mempertanyakan sistem pengawasan dan koordinasi di lapangan.
Keluarga Korban Ditinggal dalam Kegelapan Informasi! Di tengah kesedihan yang mendalam, salah satu perwakilan keluarga korban dengan suara lirih mengungkapkan kepedihannya. “Kejadiannya sebelum jam empat sore. Namun, yang menyakitkan, sampai detik ini kami sama sekali belum mendapatkan secuil pun penjelasan resmi dari manajemen perusahaan tentang kronologi kejadian yang sebenarnya maupun kondisi terkini para korban,” ujarnya dengan nada kecewa. Bahkan, hingga malam hari setelah kejadian, pihak keluarga masih dibiarkan bertanya-tanya dalam kebingungan dan kepanikan.
Temukan Fakta Mengejutkan Soal Standar K3! Tidak hanya itu, keluarga korban juga dengan tegas menyoroti dugaan lemahnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan PLTU tersebut. Mereka menyebut sebuah fakta yang sangat menyedihkan: ambulans milik perusahaan ternyata tidak tersedia sama sekali pada saat proses evakuasi awal korban yang kritis itu! “Ini sangat tidak masuk akal. Ambulans perusahaan tidak ada. Padahal, seharusnya di tempat kerja berisiko tinggi seperti ini, ambulans selalu harus siaga 24 jam. Yang membuat kami geram, korban pertama malah terpaksa dibawa menggunakan mobil biasa,” ungkap perwakilan keluarga dengan nada tinggi, menuntut keadilan.
Aksi Solidaritas di Depan Gerbang Pabrik: Mereka Menunggu, Tapi Pintu Tak Juga Terbuka! Pantauan langsung di lapangan menunjukkan situasi yang mencekam. Hingga Kamis malam, keluarga korban masih dengan sabar, atau lebih tepatnya terpaksa, bertahan di sekitar gerbang PLTU Ketapang. Istri, orang tua, serta anak-anak korba nampak jelas duduk lesu dengan wajah penuh kecemasan dan air mata yang tak henti mengalir. Sayangnya, mereka mengaku tidak diizinkan masuk ke area perusahaan dan sekali lagi, tidak mendapatkan penjelasan langsung sepatah kata pun dari pihak manajemen yang berwenang.
Seiring berjalannya waktu, suasana di lokasi semakin mencekam. Jumlah warga dan keluarga pekerja lain yang berkumpul solid di depan gerbang PLTU terus bertambah banyak. Dengan satu suara, mereka kompak menuntut kejelasan kronologi kejadian, kondisi pasti korban, serta tanggung jawab penuh perusahaan atas keselamatan para pekerjanya yang ternyata diabaikan. Tekanan publik pun kian membesar, mempertanyakan komitmen perusahaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dan yang paling mengecewakan, hingga berita lengkap ini diturunkan, pihak manajemen PLTU Ketapang maupun perusahaan vendor, PT Limas, sama sekali belum memberikan pernyataan resmi atau pun permintaan maaf kepada keluarga yang berduka. Kesunyian mereka justru berbicara lebih keras daripada kata-kata, meninggalkan tanda tanya besar tentang transparansi dan akuntabilitas di balik tragedi memilukan ini. Masyarakat pun kini menunggu, apakah keadilan akan benar-benar ditegakkan untuk para korban dan keluarga yang terluka.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

