Desapenari.id — Pemandangan langka baru saja terjadi di jantung kekuasaan Korea Utara. Bukan peluru kendali atau parade militer yang menjadi sorotan, melainkan sosok mungil yang duduk manis di samping pemimpin tertinggi mereka. Ya, Kim Jong Un, pria paling berkuasa di negara hermit kingdom itu, kabarnya sudah mantap memilih penerus tahta. Dan pilihannya? Jatuh pada putri kandungnya sendiri yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama!
Badan intelijen Korea Selatan (NIS) baru saja mengeluarkan laporan yang benar-benar menggegerkan kawasan. Mereka mengungkapkan bahwa Kim Jong Un secara resmi telah menunjuk putri bungsunya, Kim Ju Ae yang kini berusia 13 tahun, sebagai calon pemimpin Korea Utara di masa depan. Informasi ini langsung disampaikan para pejabat intelijen kepada anggota parlemen di Seoul pada Kamis (12/2/2026).
“Kim Jong Un sudah mengambil keputusan besar. Ia menetapkan putri remajanya, Kim Ju Ae, sebagai nahkoda masa depan Korea Utara,” demikian pernyataan tegas Badan Intelijen Nasional Korea Selatan kepada para wakil rakyat, seperti dilaporkan oleh The Independent pada hari yang sama.
Yang lebih bikin melongo, kabarnya bocah belia ini bahkan dijadwalkan akan muncul dalam gelaran akbar Kongres Partai Pekerja yang akan datang. Coba bayangkan, di tengah lautan delegasi partai yang semuanya pria dewasa berpakaian formal, tiba-tiba hadir seorang gadis cilik yang mungkin masih lebih suka main boneka. Jika pengumuman ini benar-benar terjadi, maka sejarah kelam baru akan tercipta: untuk pertama kalinya dalam sejarah kelam Korea Utara, seorang perempuan akan memegang kendali penuh atas senjata nuklir dan jutaan rakyat yang kelaparan.
Bukan Sekadar Gimmick, Ini Strategi Perpanjang Dinasti Keluarga!
Mengapa Kim Jong Un melakukan ini? NIS menilai, langkah kontroversial ini merupakan cara paling jitu bagi Kim untuk memperpanjang napas dinasti keluarganya hingga generasi keempat. Bagi keluarga Kim, kekuasaan adalah warisan, sama seperti harta atau hutang.
Dalam waktu dekat, Korea Utara akan menggelar konferensi politik terbesar mereka. Di forum inilah Kim Jong Un dijadwalkan memaparkan tujuan kebijakan utama untuk lima tahun ke depan. Tentu saja, momen ini jadi ajang paling pas untuk memperkuat pengaruhnya sekaligus “menjual” sosok penerus baru kepada publik.
Lee Seong Kweun, seorang anggota parlemen Korea Selatan, mengaku tercengang setelah menghadiri briefing tertutup NIS. Ia menceritakan, “NIS akan terus mengawasi dengan seksama apakah Kim Ju Ae akan duduk manis di samping ayahnya saat ia berpidato di hadapan ribuan delegasi dalam Kongres Partai Pekerja mendatang.”
Yang menarik, perubahan bahasa yang digunakan NIS kali ini sangat signifikan. Lee menambahkan, “Sebelumnya, NIS hanya menggambarkan Kim Ju Ae sedang menjalani pelatihan sebagai penerus. Tapi hari ini, mereka naik level dengan menggunakan istilah ‘tahap penunjukan penerus’. Ini perubahan besar yang tidak bisa kita abaikan.”
Dari China hingga Rudal, Putri Kecil Itu Selalu Ada di Samping Ayahnya
Sebenarnya, sinyal-sinyal ini sudah lama bertebaran, meskipun banyak ahli sempat mengabaikannya. Selama ini, para pengamat hanya menganggap kehadiran Kim Ju Ae sekadar simbol belaka. Namun, frekuensi kemunculannya yang semakin intens justru membuka mata dunia.
Puncaknya terjadi pada 2025, ketika Kim Ju Ae mendampingi ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke China. Ini bukan sekadar jalan-jalan biasa. Ini adalah perjalanan luar negeri pertamanya yang terekam kamera dan disiarkan media pemerintah. Ia hadir dalam pertemuan besar para pemimpin dunia, duduk dengan anggun di samping ayahnya yang disambut protokol kenegaraan tingkat tinggi.
Media negara Korea Utara, yang biasanya sangat tertutup, justru dengan sengaja menyorot kehadirannya selama kunjungan ke Beijing. Rekaman-rekaman itu menjadi bukti otentik bahwa gadis kecil ini bukan lagi sekadar pajangan istana.
Menurut pengamatan Lee, partisipasi Kim Ju Ae dalam berbagai acara vital negara, seperti kunjungan keluarga ke Istana Kumsusan (makam para pemimpin terdahulu) dan hadir dalam acara militer penting, sudah menjadi indikasi yang sangat jelas. Bahkan, ada desas-desus kuat bahwa Kim Jong Un mulai melibatkan putrinya untuk memberikan masukan dalam sejumlah kebijakan. Bayangkan, anak SMP memberi masukan soal rudal balistik!
Dari Skeptis Jadi Percaya: Perubahan Sikap Intelijen Korsel
Awalnya, badan intelijen Korea Selatan sendiri sangat skeptis terhadap kemungkinan ini. Mereka punya alasan kuat: budaya Korea Utara terkenal sangat konservatif dan tradisi kepemimpinan mereka sejak 1948 selalu didominasi pria. Tak pernah terbayangkan seorang ibu negara atau ratu bisa memimpin.
Namun, pada September tahun lalu, semua keraguan itu mulai luntur. Kim Jong Un kembali terlihat didampingi putrinya dalam sebuah acara penting. NIS akhirnya mengakui bahwa langkah ini kemungkinan besar merupakan upaya sistematis membangun “narasi” publik yang bisa membuka jalan mulus bagi suksesi di masa depan. Mereka sedang menjual cerita, dan rakyat Korea Utara harus membelinya.
Misteri Bocah Paling Berkuasa di Dunia
Meskipun namanya kini disebut-sebut sebagai calon penguasa paling berkuasa di dunia, informasi tentang Kim Ju Ae tetap sangat minim. Media negara Korea Utara, dengan segala kedisiplinannya, belum pernah sekalipun menyebutkan namanya secara langsung dalam siaran mereka. Mereka lebih suka menggunakan istilah puitis seperti “anak yang dihormati” atau “anak yang paling dicintai” Kim Jong Un.
Lalu dari mana asal nama Kim Ju Ae? Ternyata, ini informasi yang berasal dari sumber tak terduga: mantan bintang NBA, Dennis Rodman. Setelah kunjungan kontroversialnya ke Pyongyang pada 2013, Rodman pernah bercerita bahwa ia sempat menggendong bayi perempuan Kim Jong Un yang saat itu masih mungil. Dari situ, pejabat intelijen Korea Selatan meyakini ia lahir pada tahun yang sama, dan namanya adalah Kim Ju Ae.
Bukan cuma satu anak, NIS juga meyakini bahwa Kim Jong Un dan istrinya, Ri Sol Ju, kemungkinan memiliki seorang putra yang lebih tua (kakak laki-laki Kim Ju Ae) dan seorang anak ketiga yang lebih muda. Namun, jenis kelamin anak bungsu itu masih menjadi misteri hingga kini.
Sejak Korea Utara berdiri pada 1948, negara ini selalu berada dalam genggaman keluarga Kim yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Dinastinya dimulai dari pendiri negara, Kim Il Sung (kakek), lalu dilanjutkan putranya, Kim Jong Il (ayah). Kim Jong Un sendiri baru berusia 26 tahun ketika resmi dinobatkan sebagai pewaris takhta dalam konferensi partai pada 2010. Saat itu, ia dipersiapkan secara mendadak karena sang ayah, Kim Jong Il, baru saja mengalami stroke yang melumpuhkan.
Setelah Kim Jong Il meninggal dunia pada Desember 2011, Kim Jong Un naik takhta dengan persiapan yang relatif minim. Ia langsung terjun ke pusaran kekuasaan yang kompleks. Kini, banyak analis meyakini bahwa keputusan Kim Jong Un untuk memberikan debut awal kepada putrinya mencerminkan pengalaman pahitnya sendiri yang terpaksa naik takhta secara mendadak. Ia tak ingin putrinya mengalami hal serupa. Dengan memolesnya dari sekarang, ia berharap transisi kekuasaan nanti akan berjalan mulus tanpa gejolak. Pertanyaannya, mampukah seorang gadis 13 tahun memegang kendali atas salah satu rezim paling brutal di dunia? Waktu yang akan menjawab.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

