Bengkulu, Desapenari.id – Suasana Lebaran tahun ini terasa begitu istimewa bagi seluruh warga Desa Tepi Laut, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara. Bukan hanya sanak keluarga yang pulang kampung yang membuat hati hangat, melainkan sebuah amplop istimewa berisi kebahagiaan dari pemerintah desa mereka sendiri. Ya, untuk keempat kalinya secara berturut-turut, desa ini membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada seluruh warganya. Bayangkan, satu desa utuh dapat THR!
Kepala Desa Tepi Laut, Zakaria, alumni Universitas Bengkulu yang energik ini, menceritakan dengan bangga bagaimana tradisi baik ini terus berlanjut. “Bukan cuma tahun ini saja, kami sudah rutin membagikan THR ke seluruh warga selama empat tahun terakhir,” ungkapnya dengan senyum lebar saat kami temui di kediamannya, Rabu (18/3/2026).
Lantas, dari mana datangnya rezeki nomplok ini? Jangan bayangkan THR ini berasal dari iuran atau pungutan. Justru sebaliknya, ini semua adalah buah manis dari pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang inovatif dan progresif. Desa Tepi Laut membuktikan bahwa dana desa bukan sekadar uang turun, melainkan benih yang harus ditanam dan dipanen hasilnya.
“Kami memutar dana desa sebagai modal usaha BUMDes,” jelas Zakaria, matanya berbinar. “Kami tidak ingin dana itu habis begitu saja untuk proyek fisik semata. Kami tanamkan ke dalam tiga sektor unggulan: kolam ikan, ternak ayam kampung, dan kebun sawit desa. Hasilnya? Luar biasa untuk kas desa!”
Mari kita bedah satu per satu sumber kebahagiaan warga Tepi Laut ini. Pertama, kebun desa seluas tiga hektar yang ditanami kelapa sawit. Setiap kali panen, tandan buah segar langsung membawa pundi-pundi rupiah ke kas desa. Kedua, kolam ikan dengan luas 20 x 40 meter yang menjadi rumah bagi ribuan ikan gurame dan nila. Rutinitas panen ikan tidak hanya menjadi ajang kumpul warga, tetapi juga sumber pendapatan yang stabil. “Setiap panen, sebagian ikan kami bagikan ke warga dan sebagian lagi kami jual. Keuntungan bersihnya masuk ke kas desa. Jadi warga bisa menikmati ikannya, desa pun dapat untung,” tambah Zakaria.
Namun, bintang dari usaha desa ini mungkin adalah peternakan ayam kampung. Saat ini, mereka memelihara 500 ekor ayam petelur. Produktivitasnya sungguh mencengangkan. Setiap hari, desa ini memanen telur hingga 12 karpet! Strategi pengelolaannya pun sangat cerdas. Separuh dari telur segar itu langsung dijual untuk menambah kas desa, sementara separuhnya lagi mereka bagikan secara cuma-cuma ke Posyandu. “Telur-telur itu jadi sumber protein gratis untuk ibu hamil, lansia, dan balita. Program ini sudah berjalan empat tahun dan sangat membantu meningkatkan gizi mereka,” ujar Zakaria penuh kepuasan.
Nah, dari semua keuntungan usaha yang mengalir ke kas desa inilah, pemerintah desa kemudian meramu paket THR spesial. Isinya? Bukan sekadar amplop kosong. Warga menerima paket sembako lengkap plus setengah karpet telur ayam kampung segar. Siapa yang tak senang mendapat bingkisan bernutrisi tinggi saat Lebaran?
Zakaria kemudian merinci, pendapatan usaha desa ini tidak hanya mereka jadikan THR. Cakupan manfaatnya jauh lebih luas. Dana tersebut juga mereka gunakan untuk membayarkan iuran BPJS Kesehatan warga, memberikan santunan bagi keluarga yang berduka, serta membiayai berbagai kegiatan desa lainnya. Ini adalah ekosistem ekonomi desa yang sehat dan berkelanjutan. Desa memiliki pendapatan asli, lalu pendapatan itu mereka putar kembali untuk kesejahteraan warga.
“Prinsipnya sederhana,” kata Zakaria, “Kita kelola bersama, kita nikmati hasilnya bersama. Transparansi juga kami jaga. Seluruh warga tahu uang masuk dan keluar. Makanya, program ini didukung penuh dari tahun ke tahun.”
Melihat keberhasilan ini, Zakaria tidak berpuas diri. Ia sudah memikirkan langkah besar berikutnya. Sang Kepala Desa, yang dikenal dekat dengan warganya ini, memiliki impian mulia di bidang pendidikan. “Saya sangat konsen pada pendidikan anak-anak desa. Doakan saja tahun depan pendapatan desa semakin bertambah. Target kami berikutnya adalah meluncurkan program beasiswa pendidikan,” jelasnya penuh semangat.
Ia membayangkan, anak-anak sekolah di Desa Tepi Laut nantinya tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah atau membeli buku. Semua itu bisa mereka biayai dari hasil keuntungan BUMDes. “Bayangkan, dari telur ayam dan ikan gurame, kita bisa menyekolahkan anak-anak desa. Itu kebanggaan yang tak ternilai,” imbuhnya.
Kisah Desa Tepi Laut ini bukan sekadar cerita sukses biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa dengan manajemen yang baik, niat tulus, dan kerja keras, dana desa bisa menjelma menjadi berkah berlipat. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan desa.
Inilah Indonesia yang bekerja dari pinggiran. Dari desa kecil di Bengkulu Utara, mereka mengirimkan pesan kuat: pengelolaan dana desa yang cerdas akan berbuah manis, bahkan sampai warga bisa “gajian” dalam bentuk THR jelang Lebaran. Para perantau yang pulang kampung pun pasti tersenyum bangga melihat kampung halamannya begitu sejahtera. Desa Tepi Laut telah membuktikan, kunci kemajuan desa ada pada keberanian berinovasi dan keuletan dalam berusaha. Selamat untuk warga Desa Tepi Laut! THR-nya tahun ini pasti terasa jauh lebih bermakna.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

