SAMPANG, Desapenari.id – Suara ledakan keras tiba-tiba memecah suasana sore yang tenang di Kelurahan Karang Dalem, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Bukan karena aksi teror, melainkan ulah dua remaja yang mencoba peruntungan dengan merakit petasan. Naas, ambisi mereka untuk bersenang-senang harus dibayar mahal dengan nyaris terbakar hidup-hidup, Senin (16/2/2026) lalu.
Korban, MV (22) dan MR (13) yang masih berusia belia, kini terbujur kaku di ranjang rumah sakit. Tubuh mereka dipenuhi luka bakar melepuh setelah proyek ilegal mereka meledak di depan mata. Api langsung menyambar kedua remaja itu tanpa ampun, membuat mereka menjerit kesakitan sebelum akhirnya pingsan.
Awalnya, siapa sangka benda sepele seperti kaleng susu bekas bisa berubah menjadi alat pembunuh. Kasat Mata Polres Sampang, AKP Eko Puji Waluyo, mengungkapkan kronologi lengkap kejadian nahas tersebut dengan nada prihatin. Ia menjelaskan, semuanya berawal ketika MV dan MR sedang berkeliaran di sekitar rumah mereka.
Tanpa tujuan jelas, kedua remaja itu mengobrak-abrik tumpukan sampah di belakang kompleks. Di sana, mereka menemukan sebuah kaleng susu bekas yang sudah berkarat dan kumal. Alih-alih menjualnya ke pengepul barang bekas, sebuah ide nyeleneh langsung muncul di kepala mereka: buat petasan super.
Setelah mengamankan kaleng tersebut, mereka bergegas menuju sebuah gubuk kosong di ujung gang. Di sanalah mereka mulai bekerja, bertindak seolah-olah ahli kimia. Mereka mengisi penuh kaleng itu dengan spirtus, cairan mudah terbakar yang biasanya mereka curi dari tetangga untuk kompor. Mereka merakit sendiri petasan itu dengan tangan mereka, tanpa mengenakan alat pelindung apapun, tanpa rasa takut sedikit pun.
“Mereka merakit sendiri petasan itu pakai kaleng bekas dan isi spirtus,” ujar AKP Eko saat ditemui di kantornya, Rabu (18/2/2026), dengan geleng-geleng kepala melihat kecerobohan para remaja tersebut.
Saatnya tiba untuk uji coba. Dengan tangan sedikit gemetar karena campuran antara gugup dan bangga, MV mengeluarkan korek api gas dari saku celananya. Ia memerintahkan MR untuk mundur sedikit, namun tetap dalam radius dekat agar bisa melihat langsung hasil karya mereka. MV lalu mendekatkan api ke lubang kecil di kaleng tersebut.
Namun, Tuhan berkata lain. Sebelah milidetik setelah percikan api menyentuh kaleng, terjadi reaksi berantai yang mematikan. Petasan rakitan itu meledak dengan suara menggelegar yang terdengar hingga radius 50 meter. Api langsung membesar dan menyambar tubuh dua orang tersebut dengan keganasan yang tak terduga.
“Petasan itu meledak dan api menyambar tubuh dua orang tersebut. Mereka seperti tersambar bola api raksasa,” ungkapnya sambil menggambarkan betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi.
Warga sekitar yang mendengar suara ledakan dan teriakan minta tolong langsung berhamburan keluar rumah. Mereka mendapati dua remaja itu tergeletak di tanah dengan pakaian hangus dan kulit mengelupas. Asap mengepul dari bekas kaleng yang hancur berantakan.
Tanpa pikir panjang, warga langsung bertindak cepat. Mereka menggotong tubuh korban yang lemas ke dalam pikap milik tetangga dan melesat membawa dua remaja itu ke rumah sakit terdekat. Nyawa mereka benar-benar berada di ujung tanduk. Setibanya di ruang instalasi gawat darurat (IGD), tim medis segera melakukan tindakan penyelamatan.
Dokter yang memeriksa langsung fokus menangani luka bakar yang diderita kedua korban. Luka bakar itu terjadi pada bagian paha, tangan dan kaki. Beberapa titik di wajah mereka juga melepuh terkena percikan api. Meski kondisi fisik mereka babak belur, untuk kondisi korban masih sadar, meski dalam keadaan syok berat.
“Luka bakar terjadi pada bagian paha, tangan dan kaki. Untuk kondisi korban sadar, tapi mereka masih belum bisa bicara banyak karena trauma,” imbuh perawat yang menjaga korban.
Hingga berita ini diturunkan, kedua korban masih menjalani perawatan intensif di ruang isolasi. Mereka masih dalam pemulihan akibat luka bakar tersebut. Proses penyembuhan diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin meninggalkan bekas luka permanen di tubuh mereka yang masih muda.
Menyikapi insiden ini, Eko juga mengimbau masyarakat dengan nada tegas namun menyentuh. Ia meminta terutama para orangtua untuk bisa memperhatikan anak-anaknya. Jangan sampai lengah sedetik pun, karena kelengahan bisa berbuah petaka.
Apalagi, mengingat momen bulan puasa sebentar lagi tiba, ia khawatir tren bermain petasan akan kembali menjamur. Masyarakat kerap menyalakan petasan untuk meramaikan suasana, tanpa sadar bahwa benda itu bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Ledakan di Sampang ini harus menjadi pelajaran paling pahit bagi kita semua.
“Dimohon kepada orangtua untuk selalu mengawasi dan memperhatikan putranya yang main-main dengan petasan dari kaleng susu dan memakai spirtus maupun bahan lainnya. Hal ini sangat membahayakan dan bisa berujung pada kematian,” pungkasnya dengan nada berat.
Kisah MV dan MR adalah bukti nyata bahwa mainan sesederhana apapun, jika ditangani dengan salah, bisa berubah menjadi mesin pembunuh yang siap merenggut masa depan mereka sendiri.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

