KABUL, Desapenari.id – Langit malam di perbatasan Afghanistan-Pakistan tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Tanpa peringatan, pesawat-pesawat tempur Pakistan melesat di angkasa dan menghujani tujuh lokasi berbeda di wilayah Afghanistan dengan rentetan bom pada Minggu (22/2/2026) malam. Operasi militer ini menyasar kelompok-kelompok militan yang bersembunyi di sepanjang perbatasan kedua negara yang selama ini memanas.
Pemerintah Afghanistan langsung angkat bicara dan melaporkan fakta memilukan. Serangan brutal itu tidak hanya menewaskan dan melukai puluhan militan, tetapi juga merenggut nyawa perempuan dan anak-anak yang sedang terlelap. Bayangkan, mereka yang tidak tahu apa-apa ikut menjadi tumbal dalam gempuran ini!
Yang membuat dunia tersentak, serangan pada malam hari ini tercatat sebagai yang paling masif dan meluas sejak pecahnya bentrokan perbatasan pada Oktober 2025 lalu. Saat itu, konflik serupa bahkan menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi perbatasan dan melukai ratusan lainnya. Kini, sejarah kelam itu seakan terulang kembali dengan skala yang lebih mengerikan.
Dari balik perbatasan, Islamabad buka suara. Mereka mengklaim serangan udara ini bukan aksi tanpa alasan. Pemerintah Pakistan menyatakan pihaknya menargetkan markas-markas kelompok militan di tujuh titik wilayah perbatasan Afghanistan. Mereka bersikeras bahwa langkah tegas ini harus diambil setelah rentetan serangan bom bunuh diri mengguncang Pakistan baru-baru ini.
Otoritas setempat, seperti dikutip dari kantor berita AFP, menegaskan bahwa militer Pakistan tidak main-main. Mereka mengaku menargetkan kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atau yang dikenal sebagai Taliban Pakistan, bersama dengan sekutu-sekutunya, serta kelompok afiliasi ISIS yang selama ini meresahkan keamanan nasional mereka.
Sementara itu, dari pihak Afghanistan, Kementerian Informasi dan Penyiaran melaporkan bahwa gempuran tersebut menghantam dua provinsi sekaligus, yakni Nangarhar dan Paktika. Kedua wilayah ini memang dikenal sebagai area rawan persembunyian kelompok bersenjata. Namun, dampaknya jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
Juru bicara Pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, langsung melontarkan pernyataan keras. Dengan nada penuh kemarahan, ia menuding Pakistan tengah mencari kambing hitam. Ia menegaskan bahwa para jenderal Pakistan hanya mencoba menutupi kelemahan sistem keamanan negara mereka sendiri dengan melakukan kejahatan perang semacam ini.
“Para jenderal Pakistan mencoba menutupi kelemahan keamanan negara mereka melalui kejahatan semacam itu,” tulis Mujahid di akun media sosial X-nya, menyuntikkan sentimen anti-Pakistan yang semakin memanas.
Di lokasi kejadian, suasana mencekam masih terasa. Jurnalis AFP yang berada di distrik Bihsud, Nangarhar, menyaksikan pemandangan mengharukan. Warga setempat bergotong-royong menggunakan buldoser seadanya untuk mencari anggota keluarga mereka yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang luluh lantak dihantam bom.
Sumber keamanan Afghanistan, yang meminta namanya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara kepada media, membocorkan data mengerikan kepada AFP. Ia mengungkapkan bahwa 12 anak dan remaja termasuk di antara 17 orang yang tewas ketika sebuah rumah padat penghuni menjadi sasaran tepat di Bihsud. Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan.
HUBUNGAN KEDUA NEGARA KIAN MERETAK
Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan sebenarnya sudah memburuk sejak otoritas Taliban kembali menggenggam tampuk kekuasaan di Kabul pada 2021. Benang kusut persoalan ini tak kunjung terurai. Hubungan Islamabad dan Kabul benar-benar jatuh ke titik terendah menyusul bentrokan perbatasan mematikan pada Oktober lalu.
Pada Minggu malam, Pakistan kembali menegaskan sikapnya. Mereka mengaku sudah berulang kali mendesak pihak Taliban Afghanistan untuk bertindak tegas terhadap kelompok militan yang menggunakan wilayah Afghanistan sebagai pangkalan peluncuran serangan ke Pakistan. Namun, desakan itu seolah jatuh di telinga tuli.
Islamabad menjelaskan bahwa serangan udara kali ini merupakan respons langsung atas ledakan bom bunuh diri di sebuah masjid dua pekan lalu, serta serangan bunuh diri lain yang lebih baru di wilayah barat laut Pakistan, termasuk satu insiden yang terjadi pada Sabtu (21/2/2026) sehari sebelum serangan balasan dilancarkan.
Kelompok ISIS bahkan telah mengklaim bertanggung jawab atas pemboman masjid yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai lebih dari 160 orang. Peristiwa ini tercatat sebagai serangan paling mematikan di jantung kota Islamabad sejak 2008, memicu kemarahan publik dan tekanan besar terhadap pemerintah Pakistan untuk bertindak.
Sebelumnya, bentrokan perbatasan pada Oktober 2025 berakhir dengan gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turkiye. Namun, sejumlah putaran pembicaraan lanjutan yang digelar di Doha dan Istanbul setelahnya gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Kedua pihak seolah berjalan di tempat.
Pada akhirnya, isu keamanan menjadi inti dari perselisihan kedua negara tetangga ini. Islamabad terus menuduh Kabul sengaja melindungi dan memberikan tempat berlindung yang aman bagi kelompok militan, terutama Taliban Pakistan (TTP), yang dengan leluasa melancarkan serangan lintas batas.
Namun, Pemerintah Afghanistan dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut. Mereka bersikeras tidak pernah memberikan perlindungan kepada kelompok mana pun dan justru menuding Pakistan selalu mencari-cari alasan untuk mengintervensi kedaulatan wilayah Afghanistan. Perang pernyataan ini sepertinya akan terus berlanjut, dan yang paling dirugikan adalah warga sipil yang tak berdosa.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

