JAKARTA, Desapenari.id – Bayangkan hidup di tengah lautan sampah berketinggian satu meter, bau busuknya bikin mual, lalat dan tikus jadi teman sehari-hari. Inilah kenyataan pahit yang kini sedang dialami oleh warga di sekitar Rusun Angke, Tambora, Jakarta Barat. Sungguh memprihatinkan, tumpukan sampah yang menggunung telah menyulap lingkungan hunian mereka menjadi pemandangan kumuh, kotor, dan sangat tidak sehat.
Pantauan langsung di lokasi pada Jumat (3/4/2026) pagi membuktikan bahwa sampah sudah menumpuk di berbagai titik. Mulai dari gang-gang sempit yang gelap hingga area terbuka di sela-sela blok hunian, semuanya dipenuhi oleh gunungan sampah. Seolah tak ada tempat yang luput dari invasi limbah ini.
GANG DIPAKSA TUTUP! WARGA TERPAKSA MENCARI JALAN ALTERNATIF
Di sejumlah gang permukiman, tumpukan sampah dengan berani menutup akses jalan. Bayangkan, gunungan sampah rumah tangga yang masih terbungkus rapi dalam kantong plastik warna-warni itu mengular panjang dan mencapai ketinggian sekitar satu meter lebih. Kemana lagi warga bisa lewat?
Beberapa kontainer sampah berukuran besar ternyata tidak mampu lagi menampung volume sampah yang terus membengkak. Akibatnya, sampah-sampah itu meluber dengan liar hingga ke badan jalan. Kondisi ini semakin parah karena jalanan menjadi becek dan menghitam oleh air lindi yang mengalir deras dari dasar tumpukan sampah.
Jangan tanya lagi soal sistem drainase. Selokan dan saluran air di kawasan rusun kini benar-benar tersumbat oleh sampah plastik, botol-botol bekas, hingga limbah rumah tangga lainnya. Air pun tak bisa mengalir dengan semestinya.
BAU MENYENGAT BIKIN SESAK NAPAS! HAMA BERKELIARAN DI MANA-MANA
Sungguh menyiksa, bau busuk dari sampah yang membusuk menyelimuti seluruh kawasan tanpa ampun. Perpaduan sampah organik yang membusuk dengan genangan air lindi menciptakan aroma yang sangat menyengat. Setiap hari, warga terpaksa bertahan dengan kondisi udara yang benar-benar memuakkan.
Parahnya lagi, keberadaan tikus-tikus besar, belatung yang menggeliat, dan ratusan lalat yang beterbangan semakin memperparah situasi yang sudah chaos ini. Serangga dan hama tersebut dengan lancang masuk ke area hunian warga, merayap di dinding, hingga hinggap di perabotan rumah.
Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah warung makanan justru beroperasi dalam radius sekitar 50 hingga 100 meter dari lokasi tumpukan sampah ini. Tentu saja, kondisi ini meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan, baik bagi warga sekitar maupun para pembeli yang datang. Sungguh mengerikan!
SUDAH HAMPIR SEBULAN, SAMPAH TAK KUNJUNG DIANGKUT!
Keluhan warga pun meledak-ledak karena kondisi ini sudah berlangsung sangat lama, bahkan mendekati satu bulan lamanya. Masalah ini sudah terjadi sejak bulan Ramadhan dan terus berlanjut hingga setelah Hari Raya Idul Fitri. Tak ada solusi yang terlihat.
Aminah (52), salah satu warga yang juga berdagang makanan di area tersebut, dengan jujur menyebut bahwa tumpukan sampah terjadi akibat terhambatnya proses pengangkutan sejak bulan Ramadhan. Menurut penuturannya, sampah sama sekali tidak diangkut setelah terjadi longsor di TPST Bantargebang.
“Kondisinya katanya sih dari Bantar Gebangnya ini, longsor. Jadi angkutan sampahnya jadi enggak bisa ngangkut,” ujar Aminah dengan nada putus asa saat ditemui di lokasi pada Jumat lalu.
Hal senada kemudian disampaikan oleh Royyan (48), salah satu penghuni rusun yang sudah muak. Ia dengan lantang menyebut bahwa kondisi tumpukan sampah sudah sangat parah hingga sempat menutup total akses jalan warga.
“Udah lama banget. Ini kayaknya udah mau satu bulan deh dari sebelum Lebaran. Jauh lah, jauh sebelum Lebaran itu udah kayak gini. Udah numpuk, udah bener-bener numpuk aja gitu, sampai ngalangin jalan,” keluh Royyan dengan nada kesal.
Royyan kemudian menjelaskan lebih detail bahwa tumpukan sampah sempat membuat kendaraan, terutama sepeda motor, tidak bisa melintas di gang-gang permukiman. “Jadi motor nih, tadinya kan ini kan ada gang-gang gitu ya, harusnya kita bisa lewat sini, eh jadi nggak bisa. Gangnya ketutup gitu, jalannya ketutup karena ya sampah itu. Ketutup sama sampah, akhirnya ya mau enggak mau lewat jalan lain gitu,” tegasnya.
WARGA NANTANG GUBERNUR DATANG LANGSUNG! MERASAKAN SENDIRI PENDERITAAN MEREKA!
Royyan mengaku sudah sangat muak dan merasa bahwa nasib warga kelas bawah sering sekali diabaikan begitu saja. Maka dengan berani, ia menantang Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk turun langsung ke lokasi dan merasakan sendiri bagaimana hidup mereka yang dipenuhi bau busuk sampah, lalat, belatung, dan tikus setiap harinya.
“Coba deh bayangin kalau misalnya Pak Pramono nih sehari aja di sini. Pasti enggak betah. Enggak bakal dia betah sehari aja tinggal di sini suruh tidur di rusun sini, Angke,” tantang Royyan dengan lantang saat ditemui di lokasi pada Jumat (3/4/2026).
Royyan juga menyoroti janji manis pemerintah yang dulu gencar mendorong warga Jakarta untuk tinggal di rusunawa karena keterbatasan lahan. Namun ironisnya, kondisi hunian yang disediakan kini dinilai jauh dari kata layak. Mana janji pelayanan yang baik?
“Jangan mentang-mentang kita ini orang-orang susah, kita ini yang tinggalnya di tempat-tempat kayak gini kan jadi enggak dipikirin nasibnya gitu loh,” tegas Royyan dengan nada getir. Ia pun meminta pemerintah untuk lebih serius lagi menangani persoalan sampah ini, terutama bagi warga dengan keterbatasan ekonomi yang tidak punya pilihan lain selain bertahan di tengah kondisi mengerikan seperti ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

