JAKARTA, Desapenari.id – Suasana duka dan kemarahan masih menyelimuti Kabupaten Purwakarta. Pasalnya, anggota Komisi III DPR RI, Hasbiallah Ilyas, baru saja melontarkan pernyataan keras bak petasan meledak! Dia menekankan dengan nada geram bahwa praktik premanisme yang sudah keterlaluan itu harus ditindak dengan tegas tanpa pandang bulu. Apalagi, ulah para preman ini sudah meresahkan warga kecil sejak lama.
Yang paling memicu kemarahan publik, baru-baru ini terjadi kasus sadis yang menimpa seorang kakek tak berdosa. Dialah Dadang (57), warga biasa yang sedang bergembira menggelar hajatan pernikahan anaknya, lalu tiba-tiba dikeroyok habis-habisan oleh sekelompok preman mabuk hingga tewas di lokasi acara. Peristiwa berdarah itu terjadi di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
“Jangan Ada Ampun untuk Preman!” Tegas Hasbiallah
Dengan suara lantang, Hasbiallah langsung menembakkan kritiknya. “Premanisme, baik yang berkeliaran di kota besar maupun yang merajalela di kampung-kampung, wajib kita tindak secara tegas dan konsisten!” serunya dalam keterangan persnya, Rabu (8/4/2026). Lebih lanjut, politisi muda itu memperingatkan dengan logika tajam bahwa jika praktik biadab ini terus dibiarkan, maka secara perlahan akan berkembang menjadi pola pemerasan yang sistematis dan pasti merusak ketertiban sosial masyarakat.
Selanjutnya, Hasbiallah dengan tegas menambahkan bahwa penindakan hukum yang keras itu sangat penting untuk memberikan efek jeri yang nyata. Di saat yang sama, langkah tersebut juga bertujuan melindungi rakyat jelata dari aksi kekerasan yang merampas rasa aman mereka.
Nyawa Melayang, Alarm Bahaya Berbunyi Keras!
Perlu kita sadari bersama, tindakan kekerasan biadab yang berakhir dengan melayangnya nyawa seseorang ini sejatinya menjadi alarm peringatan keras bagi pemerintah. Jangan sampai kejadian serupa terulang lagi! Maka dari itu, pemerintah harus segera bergerak cepat membereskan akar masalah premanisme yang sudah busuk ini.
Pasalnya, saat ini Hasbiallah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa praktik premanisme yang hidup subur di lingkungan masyarakat sudah pada level sangat meresahkan. Ibu-ibu takut berjualan, bapak-bapak waswas menggelar acara, bahkan anak-anak pun ikut ketakutan.
“Situasi memalukan dan berbahaya ini sama sekali tidak bisa kita biarkan berlarut-larut!” ujar Hasbiallah dengan wajah serius. “Apalagi di tengah himpitan ekonomi seperti sekarang, aksi-aksi intimidasi kepada warga akan semakin memicu disharmoni dan perpecahan sosial,” sambungnya menambahkan.
Negara Jangan Sampai Kalah Sama Preman!
Lebih jauh, Hasbiallah mengingatkan bahwa pemberantasan premanisme ini merupakan salah satu misi suci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap negara. Jika aparat dan pemerintah lembek, rakyat pasti kecewa berat.
Dengan lantang, dia menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah dan tunduk oleh kelompok-kelompok yang menggunakan kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat. Preman harus merasa bahwa mereka adalah musuh bersama yang akan diburu sampai ke sarang-sarangnya.
“Bayangkan, jika premanisme dibiarkan merajalela, masyarakat akan hidup dalam ketakutan setiap hari!” tegas Hasbiallah di akhir pernyataannya. “Aktivitas ekonomi warga akan terganggu total, dan yang lebih parah, hukum akan kehilangan wibawanya di mata rakyat. Karena itu, sudah kewajiban negara untuk hadir dan memastikan keamanan setiap warga negaranya tanpa terkecuali,” pungkas anggota DPR tersebut.
Fakta di Balik Hajatan Maut yang Mengerikan
Sebagai latar belakang, mari kita kilas balik kejadian naas pada Sabtu (4/4/2026) lalu. Dadang (57), seorang warga Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, harus meregang nyawa secara tragis. Penyebabnya, dia dipukuli secara membabi buta oleh sejumlah pemuda yang diduga kuat dalam pengaruh mabuk berat di tengah-tengah pesta pernikahan anaknya sendiri. Betapa pilunya nasib sang ayah di hari bahagia buah hatinya.
Lalu, bagaimana kronologi persisnya? Saat kejadian nahas itu, Dadang sedang asyik menggelar pesta pernikahan anaknya di rumah sederhananya. Untuk memeriahkan acara dan menghibur para tamu undangan, pesta tersebut memang dimeriahkan dengan alunan musik organ tunggal yang menggelegar.
Namun nahas, pada pukul 14.50 WIB, saat hiburan organ sedang berlangsung meriah, tiba-tiba datang segerombolan orang yang diduga keras dalam keadaan mabuk berat ke lokasi hajatan. Mereka bergerombol dengan wajah merah dan bicara tak menentu.
Begitu sampai, dengan arogan mereka langsung meminta uang kepada para pemain organ. Alasan konyol yang mereka lontarkan? Untuk membeli tambahan minuman keras! Luar biasa. Awalnya, penyelenggara organ yang ketakutan pun memberikan uang Rp100.000. Akan tetapi, sekelompok orang biadab itu dengan kasar menolak karena merasa uang tersebut masih kurang!
Lalu, mereka dengan nada mengancam meminta nominal yang lebih besar yaitu Rp500.000. Namun, permintaan gila itu langsung ditolak oleh pihak keluarga karena dianggap pemerasan. Dan akibat penolakan berani dari pihak keluarga itulah, amarah para pelaku langsung meledak dan memicu aksi kekerasan.
Di tengah kekacauan yang mencekam itu, Dadang yang hanya sedang polos mengurus jalannya acara, justru menjadi sasaran kemarahan dan amukan massa. Tanpa ampun, kakek malang itu dipukul dengan menggunakan benda keras hingga tepat mengenai bagian kepalanya. Hasilnya, Dadang langsung ambruk dan tak sadarkan diri di lokasi hajatan pernikahan anaknya sendiri, meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh keluarga dan warga sekitar.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

