TEGAL, Desapenari.id – Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ternyata terus menunjukkan tanda-tanda meluas dengan cepat. Hebatnya, hingga Kamis (5/2/2025), bencana ini sudah melahap ratusan rumah warga yang kemudian mengalami kerusakan mulai dari level ringan hingga berat. Akibatnya, lebih dari seribu jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berdesak-desakan mencari tempat yang lebih aman. Bukan cuma itu, ganasnya pergerakan tanah ini juga menelan sejumlah infrastruktur publik vital, mulai dari jalan umum, bangunan sekolah, hingga tempat ibadah yang ikut menjadi korban.
Melalui pengakuan yang mengharukan, salah satu warga terdampak, Siti Waridah, menyebutkan bahwa bencana mengerikan ini mulai terjadi setelah hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Senin (2/2/2025) sore. “Pergerakan tanah mulai terasa setelah hujan deras dari pukul 14.00 WIB sampai sekitar pukul 19.00 WIB,” ujar Siti dengan suara bergetar di posko pengungsian, Kamis. Setelah itu, begitu terdeteksi adanya pergerakan tanah yang makin menjadi, Siti bersama warga lainnya langsung memutuskan untuk mengungsi pada keesokan harinya demi menyelamatkan nyawa. “Rumah rusak karena takut akhirnya mengungsi. Untuk suami dan orangtua masih di sana karena sebagian barang masih di rumah,” katanya sambil tertunduk. Menurut penuturannya, hampir seluruh rumah di lingkungannya ikut terdampak. Faktanya, kerusakan paling banyak justru terjadi pada bagian dinding yang ambrol serta lantai rumah yang mengalami retak-retak lebar.
Merespon kejadian dahsyat ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman sebelumnya telah meninjau langsung lokasi bencana pada Rabu (4/2/2025). Mereka sengaja melakukan peninjauan untuk memastikan langkah penanganan darurat bisa berjalan cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan guna menjamin keselamatan warga terdampak. Di sisi lain, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman dengan tegas menyampaikan, sejak malam kejadian, pemerintah daerah telah menetapkan langkah tanggap darurat dengan menyediakan berbagai fasilitas darurat bagi warga pengungsi. “Alhamdulillah, sejak semalam kami sudah menyiapkan tenda darurat lengkap dengan alas, dapur umum di dua titik, serta toilet portabel sebanyak lima unit. Untuk sementara, toilet existing di rumah warga juga masih dimanfaatkan,” imbuhnya dengan penuh keyakinan. Terlebih lagi, terkait kondisi korban, Bupati dengan lugas memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun demikian, kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan, baik pada rumah warga maupun fasilitas umum. Tak main-main, Bupati juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal telah menetapkan status tanggap darurat bencana. “Hari ini sudah kami tetapkan status tanggap darurat bencana melalui SK Bupati, sekaligus mengaktifkan pos komando dan satgas kebencanaan. Komandan satgas adalah Sekretaris Daerah dengan pengarah dari Forkopimda,” pungkasnya dengan nada tegas.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan serius menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur serta penanganan yang tidak bersifat sementara. “Saya minta seluruh unsur siaga. Harus ada langkah antisipasi dan pencegahan. Jangan sampai ada kejadian susulan yang tidak tertangani,” tegas Gubernur dengan penuh wibawa. Lebih lanjut, Gubernur menegaskan penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga jaminan masa depan warga terdampak. “Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai. Semua yang membutuhkan hunian sementara dan hunian tetap harus didukung. Hari ini di Tegal, semua harus cukup, mulai dapur, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jalan dan jembatan itu prioritas. Kalau ada jembatan putus, maksimal satu minggu harus selesai, bahkan tiga hari sudah tertangani,” ujarnya dengan komitmen tinggi. Ia kemudian menambahkan sebuah fakta penting, sekitar 250 rumah diperkirakan tidak dapat dibangun kembali di lokasi semula sehingga penyediaan hunian sementara dan hunian tetap menjadi prioritas utama. “Huntara itu diproyeksikan menjadi huntap. Fasilitas umum harus lengkap. Dinas Sosial provinsi dan kabupaten harus memikirkan masa depan masyarakatnya,” pungkasnya dengan penuh tanggung jawab.
Sebagai penutup, pemerintah daerah memastikan penanganan darurat akan terus dilakukan secara terpadu selama masa tanggap darurat 14 hari. Selanjutnya, proses ini akan mereka lakukan sembari menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi terkait keamanan lahan dan rencana relokasi warga yang terdampak. Dengan demikian, harapan untuk pemulihan dan kehidupan baru bagi warga Padasari mulai mereka bangun dari posko-posko pengungsian.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

