Desapenari.id – Pemerintah Ukraina benar-benar menyulut amarahnya setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara mengejutkan mengungkapkan rencananya untuk mencabut sanksi sepak bola terhadap Rusia. Padahal, sanksi isolasi yang telah berjalan empat tahun ini merupakan dampak langsung dari invasi militer Rusia ke Ukraina.
Ingatkah Anda? Larangan keras itu mulai diberlakukan secara resmi oleh FIFA pada tanggal 28 Februari 2022, yang kemudian dengan cepat diikuti oleh UEFA serta Komite Olimpiade Internasional (IOC). Akibatnya, Timnas Rusia serta klub-klubnya sama sekali terlempar dari kancah sepak bola internasional dan Eropa.
Meski begitu, kita perlu catat bahwa tim “Beruang Merah” itu masih diizinkan untuk menjalani laga uji coba dan tetap mengumpulkan poin peringkat FIFA. Namun, bagi Ukraina, segala bentuk pelonggaran ini tentu terasa seperti pengkhianatan.
Lalu, apa alasan Infantino? Setelah empat tahun, bos tertinggi sepak bola dunia ini tiba-tiba berpendapat bahwa sanksi tersebut tidak memberi manfaat. Malahan, menurutnya, justru menumbuhkan rasa permusuhan yang lebih dalam. “Kita harus melakukannya, tentu saja. Karena sanksi ini tidak menghasilkan apa-apa, justru malah menimbulkan lebih banyak frustrasi dan kebencian,” ujarnya dengan lantang kepada Sky Sports baru-baru ini.
Lebih lanjut, Infantino dengan tegas menyatakan bahwa sepak bola harusnya menjadi alat pemersatu, bukan pemecah belah. “Jika anak perempuan dan laki-laki dari Rusia dapat bermain sepak bola di wilayah Eropa lainnya, itu akan sangat membantu,” tambahnya, mencoba memberikan sudut pandang humanis. Namun, ia juga memberi catatan bahwa keputusan akhir tetap bergantung pada progres perundingan damai di Ukraina.
Sebenarnya, Infantino tidak sendirian. Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, sebelumnya juga pernah menyuarakan hal serupa. Čeferin dengan jelas mengatakan bahwa sanksi terhadap Rusia akan dicabut jika perang benar-benar berakhir. “Ketika perang berhenti, [Rusia] akan diterima kembali,” janjinya. Nah, menariknya, UEFA bahkan akan segera mengadakan pertemuan eksekutif yang berwenang penuh mengawasi proses kembalinya Rusia.
Di sisi lain, reaksi dari Ukraina sungguh luar biasa keras! Menteri Olahraga Ukraina, Matvii Bidnyi, langsung menembak pernyataan Infantino dengan kata-kata pedas. Ia menyebut sikap Presiden FIFA itu “tidak bertanggung jawab” dan bahkan “kekanak-kanakan”. Baginya, wacana itu sama sekali memisahkan sepak bola dari realita mengerikan di tanah airnya.
“Kata-kata Gianni Infantino terdengar tidak bertanggung jawab – bahkan kekanak-kanakan. Kata-kata itu memisahkan sepak bola dari kenyataan di mana anak-anak dibunuh,” seru Bidnyi dengan penuh emosi. Ia lalu mengungkap fakta pahit: lebih dari 100 pesepakbola termasuk di antara ratusan atlet dan pelatih Ukraina yang telah tewas dibunuh oleh Rusia.
Tak berhenti di situ, Bidnyi dengan lantang menegaskan bahwa perang adalah kejahatan, bukan sekadar politik. Justru Rusialah yang ditudingnya mempolitisasi olahraga. “Selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan mempolitisasi olahraga, bendera dan simbol nasional mereka tidak memiliki tempat di antara orang-orang yang menghormati nilai-nilai seperti keadilan, integritas, dan permainan yang adil,” tegasnya tanpa kompromi.
Sebelumnya, kemarahan serupa juga telah dilontarkan Bidnyi terhadap Komite Paralimpik Internasional yang dianggap terlalu mudah mencabut larangan terhadap Rusia dan Belarus. Kini, dengan wacana FIFA ini, tekanan moral dan politik terhadap dunia olahraga internasional semakin menjadi-jadi.
Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Dunia sepak bola kini seolah terbelah di antara idealismenya sebagai pemersatu dan tanggung jawab etisnya terhadap konflik global. Di satu sisi, ada keinginan untuk menyembuhkan luka dan berdamai melalui olahraga. Namun di sisi lain, ada tuntutan kuat untuk tidak mengabaikan penderitaan dan keadilan bagi korban agresi. Keputusan akhir FIFA dan UEFA nantinya tidak hanya akan menentukan nasib timnas Rusia, tetapi juga menjadi cermin nilai-nilai apa yang benar-benar dipegang oleh pimpinan olahraga dunia.
Sementara kedua kubu bersiap dengan argumennya, seluruh mata tertuju pada meja perundingan damai Ukraina-Rusia dan ruang rapat eksekutif UEFA. Sebab, kedua forum itulah yang akan menjadi penentu apakah bendera Rusia akan kembali berkibar di stadion internasional, atau justru terus dikibarkan sebagai simbol perlawanan Ukraina dalam mempertahankan kedaulatan dan harga bangsanya. Satu hal yang pasti: perdebatan ini telah membuktikan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar terpisah dari geopolitik yang berdarah-darah.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

