Desapenari.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara mengejutkan membuka peluang relaksasi terbatas terhadap kuota produksi batu bara dan nikel. Pemerintah akhirnya mengambil langkah strategis ini setelah harga kedua komoditas tersebut melonjak drastis akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang memicu ketegangan geopolitik global.
“Andaikan harganya stabil terus, bagus, kami akan membuat relaksasi terhadap perencanaan produksi, tetapi terukur,” tegas Bahlil dalam keterangannya yang dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (26/3/2026). Sontak, pernyataan ini langsung menjadi sorotan pelaku industri dan pengamat ekonomi.
Pemerintah Sebelumnya Memangkas Kuota Produksi
Di awal tahun, pemerintah mengambil kebijakan berbeda dengan secara agresif memangkas kuota produksi. Mereka menetapkan produksi batu bara 2026 hanya sekitar 600 juta ton. Angka ini pun merosot tajam hingga 190 juta ton dari realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Tak hanya batu bara, produksi bijih nikel juga ikut ditekan habis-habisan. Pemerintah memasang target 2026 di kisaran 250–260 juta ton, jauh lebih rendah dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang mencapai 379 juta ton. Mereka terpaksa mengambil kebijakan pengurangan kuota karena pasokan global sebelumnya sempat melampaui permintaan sepanjang 2025. Kondisi ini pun menekan harga kedua komoditas tersebut hingga titik terendah.
Harga batu bara bahkan sempat jatuh bebas hingga 97,65 dolar AS per ton pada paruh kedua Juli 2025 atau setara sekitar Rp1,66 juta. Saat itu, industri keluhkan pelemahan daya beli pasar global.
Harga Melonjak Drastis Akibat Gangguan Energi Global
Namun, peta jalan energi global berubah drastis ketika konflik di Timur Tengah memicu gangguan distribusi energi. Situasi panas ini secara langsung mengganggu pasokan minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG) atau gas alam cair. Akibatnya, negara-negara pengimpor mulai beralih mencari sumber energi alternatif.
Pemerintah pun melihat peluang emas ini. Harga batu bara langsung melesat tajam. Dari posisi lesu di bawah 120 dolar AS per ton, harga menembus level 130 dolar AS per ton atau sekitar Rp2,21 juta hanya dalam waktu sekitar satu pekan pada awal Maret 2026. Lonjakan ini terjadi begitu cepat dan mengejutkan banyak pihak.
“Kami doakan harga batu bara bagus, harga nikel bagus, kemudian kami akan melakukan relaksasi terukur. Yang namanya relaksasi terukur itu terbatas dan tetap menjaga kestabilan supply and demand, dan harga,” ucap Bahlil menegaskan. Ia pun menekankan bahwa setiap kebijakan relaksasi akan dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak mengganggu stabilitas pasar.
Pemerintah Incar Tambahan Penerimaan Negara
Di tengah euforia kenaikan harga, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta optimalisasi penerimaan negara dari sektor batu bara. Pemerintah ingin menangkap keuntungan dari lonjakan harga energi global ini semaksimal mungkin. Mereka melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk mengerek pendapatan negara tanpa harus membebani sektor lain.
Langkah strategis ini diarahkan untuk memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tertekan akibat dinamika geopolitik. Dengan relaksasi terbatas, pemerintah berharap dapat menarik tambahan penerimaan negara tanpa mengorbankan keseimbangan pasokan dan permintaan jangka panjang.
Pemerintah pun kini tengah menyiapkan revisi RKAB batu bara 2026 secara serius. Revisi ini bertujuan menyesuaikan target produksi sekaligus meningkatkan potensi penerimaan negara secara signifikan. Mereka memastikan bahwa setiap langkah akan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan dan kestabilan industri.
Dengan kebijakan relaksasi terukur ini, pemerintah optimistis dapat menjaga keseimbangan antara menangkap peluang keuntungan dari lonjakan harga komoditas dan menjaga stabilitas pasokan global. Semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya yang akan diambil Kementerian ESDM dalam merealisasikan kebijakan ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

