DOMPU, Desapenari.id – Bayangkan Anda membuka kran air di rumah, lalu keluar cairan keruh bercampur ulat hidup dan menyebarkan bau bangkai yang menusuk hidung. Itulah mimpi buruk yang kini nyata dialami ribuan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Alih-alih mendapatkan air bersih, mereka justru terpaksa mengonsumsi air yang dipenuhi ulat dan berbau sangat tidak sedap.
Lebih mencengangkan lagi, kondisi mengerikan ini ternyata sudah berlangsung selama dua bulan terakhir, tepatnya sejak pihak pengelola memindahkan sumber pengambilan air baku dari Dam Rababaka ke Bendungan Mila tanpa persiapan matang. Akibatnya, pelanggan pun menjadi korban.
“Saya benar-benar kaget bukan main saat pertama kali air ledeng di rumah saya mengeluarkan bau yang sangat menyengat. Rasanya seperti campuran bangkai dan lumpur,” curhat Ilham, seorang warga Desa Matua yang menjadi pelanggan PDAM, saat kami hubungi pada Selasa (6/4/2026).
Awalnya, Ilham mengaku mengabaikan bau aneh tersebut. Bahkan, dengan terpaksa ia tetap nekat mengonsumsi air itu untuk kebutuhan sehari-hari karena tidak punya pilihan lain. Namun, rasa penasarannya akhirnya mendorong Ilham untuk menampung air tersebut dalam ember selama satu hari penuh. Hasilnya sungguh di luar dugaan! Setelah didiamkan, ia mendapati banyak bercak-bercak hitam aneh dan puluhan ulat kecil bergerak-gerak di dasar ember.
“Sejak saat itu, saya langsung bertekad untuk tidak mau lagi menggunakan air PDAM. Percuma saya bayar kalau kualitasnya begini. Parahnya lagi, kalau saya pakai untuk mencuci pakaian, bau busuk itu tetap menempel dan susah hilang,” tambah Ilham dengan nada kesal.
Menurut dugaan Ilham, sumber bau menyengat itu berasal dari bangkai ikan dan sisa-sisa kayu yang mulai membusuk karena baru terendam air di Bendungan Mila. Ia pun mendesak pengelola PDAM untuk segera turun ke lapangan dan bertanggung jawab.
“Jangan dibiarkan begini terus. Ini sudah membahayakan kesehatan kami para pelanggan. PDAM harus bergerak cepat, jangan hanya diam di kantor!” tegasnya penuh harap.
Nasib serupa juga menimpa Yanti, seorang pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) asal Dusun Selaparang, Desa Matua. Bagaimana tidak, usahanya terancam bangkrut karena ia sama sekali tidak berani memanfaatkan air PDAM untuk mengolah adonan bakso jualannya. Yanti sampai rela membeli air bersih setiap harinya, baik untuk keperluan usahanya maupun kebutuhan rumah tangganya sehari-hari.
“Air PDAM sekarang cuma kami pakai untuk mandi itupun terpaksa. Untuk masak, cuci pakaian, dan buat bakso, kami terpaksa beli air. Kadang-kadang kalau hujan, kami tampung air hujan,” ungkap Yanti sambil menghela napas panjang.
Dengan nada frustrasi, Yanti berharap pemerintah daerah dan pengelola PDAM segera merespon persoalan ini secara serius. Baginya, air bersih adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar lagi.
“Percuma kami bayar tagihan PDAM setiap bulan kalau pada akhirnya kami tetap harus keluar uang lebih untuk membeli air di tempat lain. Jangan korbankan rakyat kecil seperti kami,” keluhnya getir.
PENGELOLA PDAM MEMBENARKAN, TAPI BUKAN BERARTI BISA DITERIMA!
Di tengah gelombang protes pelanggan, Direktur PDAM Kabupaten Dompu, Didi Wahyudi, dengan berani tidak membantah fakta pahit ini. Bahkan, ia mengonfirmasi bahwa hasil survei timnya di beberapa lokasi, khususnya wilayah Dompu Barat, memang menemukan kondisi air yang mengandung ulat dan berbau busuk.
“Memang benar ada di beberapa titik distribusi yang mengalami masalah seperti itu (berulat dan berbau) berdasarkan hasil temuan survei kami. Saat ini, tim kami sedang memeras otak untuk mencari solusi terbaik,” kata Didi saat kami temui di kantornya, Selasa.
Dengan terus terang, Didi Wahyudi mengakui bahwa air yang selama dua bulan terakhir dipasok kepada ribuan pelanggan tersebut sama sekali belum layak dikonsumsi. Bahkan, ia mengatakan air tersebut terpaksa disediakan hanya untuk keperluan rumah tangga sekunder seperti mandi dan mencuci pakaian, itupun dengan risiko bau yang masih tersisa.
“Kualitas air saat ini belum bisa digunakan untuk minum atau memasak. Batasannya hanya untuk mandi, cuci, dan sejenisnya. Memang belum layak, dan kami tidak menutup-nutupi itu,” tegasnya.
Lantas, apa penyebab utama kebijakan nekat ini? Didi menjelaskan bahwa pasokan air PDAM yang diambil dari air permukaan Bendungan Mila itu tidak melalui proses pengolahan standar karena mereka sama sekali tidak menggunakan zat kimia seperti tawas dan kaporit. Alasan klasik yang memicu kemarahan publik pun muncul: PDAM mengaku tidak punya uang!
“Kami belum memiliki anggaran sendiri untuk membeli bahan-bahan kimia tersebut. Karena itu, kami terpaksa menyalurkan air apa adanya kepada pelanggan,” ujar Didi, sebuah pernyataan yang tentu saja sulit diterima oleh masyarakat yang sudah membayar.
Pihak PDAM pun mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan anggaran ke pemerintah daerah melalui BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah). Namun, kabar mengejutkan datang dari angka yang disetujui.
“Kami sudah mengajukan dan permohonan sudah direspon, walaupun nilainya sangat kecil dibanding kebutuhan di lapangan. Kami minta anggaran untuk tawas dan kaporit sebesar Rp 700 juta, tapi yang disetujui hanya Rp 100 juta. Ya, hanya seratus juta rupiah,” kata Didi mengeluh.
Kini, pertanyaan besarnya adalah: Mau sampai kapan ribuan warga Dompu harus hidup berdampingan dengan ulat dan bau busuk di air ledeng mereka? Apakah keselamatan publik harus dikorbankan hanya karena alasan anggaran yang seret?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

