Desapenari.id – Dunia sedang berjaga-jaga! Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) baru saja melontarkan peringatan serius yang bikin merinding: ketahanan pangan global kini terancam parah. Penyebabnya? Gangguan pasokan pupuk yang dipicu konflik bersenjata di Timur Tengah. Kabar ini langsung menggema setelah AFP merilis laporannya pada Rabu (25/3/2025).
Nah, Wakil Direktur Jenderal WTO, Jean-Marie Paugam, dengan tegas menyatakan bahwa situasi ini menciptakan ancaman ganda yang mengerikan bagi seluruh dunia. Bukan cuma soal kelangkaan pangan, tapi juga lonjakan harga yang diprediksi bakal bikin kantong bolong. Dua masalah ini datang bersamaan, dan dampaknya bisa langsung terasa.
Lalu, apa sih pemicu utama kekhawatiran besar ini? Jawabannya: penutupan Selat Hormuz! Jalur strategis itu kini terhenti akibat konflik Timur Tengah yang memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Padahal, selat ini merupakan urat nadi perdagangan dunia. Bayangkan saja, melalui jalur perairan inilah komoditas energi seperti minyak dan gas bumi mengalir deras. Tak hanya itu, Selat Hormuz juga menjadi jalur utama distribusi pupuk dunia. Jadi, begitu selat ini terganggu, rantai pasok global langsung bergetar.
Faktanya, WTO mencatat sekitar sepertiga dari total pasokan pupuk dunia biasanya melintasi selat tersebut. Artinya, gangguan di satu titik ini diprediksi bakal langsung memukul kapasitas produksi pangan berbagai negara. Efeknya nggak main-main!
“Pupuk menjadi isu utama yang paling mengkhawatirkan saat ini,” tegas Paugam dalam wawancara eksklusif dengan AFP di Yaounde. “Jika pasokan pupuk terhenti, dampaknya bukan hanya pada jumlah produksi pangan, tapi juga pada harga yang meroket.” Tambahnya lagi, efek buruk ini bakal terus menggunung. “Efeknya akan berlipat ganda pada tahun berikutnya: hasil panen menyusut drastis, dan harga-harga pun melonjak naik tak terkendali,” ujarnya dengan nada penuh kewaspadaan.
Nah, kenapa kawasan Teluk begitu krusial? Jawabannya karena wilayah ini merupakan produsen pupuk raksasa. Mereka punya melimpahnya gas alam yang menjadi bahan baku utama pupuk buatan. Namun sayang, peperangan yang berkecamuk kini menghambat produksi. Tak hanya itu, sejumlah fasilitas besar pun terpaksa berhenti beroperasi. Kondisi ini otomatis memperparah rantai pasok global yang sudah rapuh.
Akibatnya, negara-negara eksportir pangan besar kini terancam. Negara seperti India, Thailand, dan Brasil, yang sangat bergantung pada pasokan urea—pupuk berbasis nitrogen dari kawasan Teluk—kini berada dalam posisi paling rentan. Mereka harus berpikir keras untuk mencari alternatif, sementara stok di pasar dunia menipis.
Di sisi lain, nasib negara-negara pengimpor pangan bersih juga tak kalah memprihatinkan. Paugam menyoroti bahwa mereka akan berada dalam posisi yang sangat sulit. Sebagian besar wilayah Afrika Barat dan Afrika Utara, misalnya, bakal merasakan hantaman paling keras. Mereka yang selama ini mengandalkan impor pangan harus bersiap menghadapi gejolak harga dan ketersediaan barang yang serba terbatas.
Risiko Penimbunan Mengintai!
Meski perang baru berlangsung beberapa minggu dan kelangkaan pupuk secara masif belum terjadi saat ini, WTO memperingatkan dunia agar jangan sampai lengah. “Jika pupuk dari Teluk tidak beredar, kita akan merasakan dampak langsung pada pasokan ke negara-negara produsen utama tepat saat musim tanam dimulai. Jika Selat Hormuz diblokir selama tiga bulan, dampaknya akan sangat signifikan,” jelas Paugam dengan gamblang. Artinya, waktu menjadi faktor krusial. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko runtuhnya produksi pangan global.
Selain faktor teknis di lapangan, WTO juga mengkhawatirkan adanya aksi penimbunan stok oleh negara-negara tertentu. Fenomena ini pernah terjadi saat pandemi Covid-19, di mana negara-negara saling berlomba mengamankan pasokan demi kepentingan domestik. Jika pola serupa kembali terjadi, WTO khawatir hal ini akan memperparah gangguan perdagangan internasional. Akibatnya, negara-negara kecil yang tak punya daya tawar bakal jadi korban terbesar.
Tak berhenti di situ, konflik ini pun mengancam target global yang mulia: menghapus kelaparan pada 2030. Ya, tujuan mulia yang diadopsi oleh negara-negara anggota PBB pada 2015 ini kini berada di ujung tanduk. Jika pasokan pupuk terganggu berkepanjangan, maka produksi pangan akan terhambat, harga melambung, dan akses masyarakat terhadap makanan bergizi kian sulit. Semua itu bisa memundurkan upaya pengentasan kelaparan yang sudah susah payah dibangun.
Jadi, sudah saatnya dunia bergerak cepat. WTO mengingatkan bahwa peringatan ini bukan sekadar wacana. Ini adalah alarm yang harus segera direspon. Jika tidak, bukan hanya petani yang rugi, tapi seluruh lapisan masyarakat global akan merasakan getahnya. Selat Hormuz memang macet, tapi dampaknya bisa merambat hingga ke piring makan kita semua.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

