TEHERAN, Desapenari.id – Dunia maritim internasional mendadak panas! Dalam 24 jam terakhir, tepatnya pada Minggu (5/4/2026), sebanyak 15 kapal besar berhasil melintasi Selat Hormuz. Lalu, siapa yang membuka pintu? Iran! Ya, Teheran secara resmi memberikan izin khusus bagi kapal-kapal tersebut untuk melewati jalur perairan tersempit sekaligus paling strategis di dunia itu.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, melaporkan bahwa kelima belas kapal tersebut melaju mulus setelah otoritas Iran mengesahkan perjalanan mereka. Namun, perlu Anda ketahui, tidak ada satu pun rincian yang bocor ke publik mengenai asal negara dari kapal-kapal ini. Apakah dari China? Rusia? Atau justru negara netral yang masih berani mengambil risiko? Semuanya masih menjadi misteri!
Meskipun ada 15 kapal yang lolos, situasi di Selat Hormuz masih jauh dari kata normal. Coba bayangkan: lalu lintas kapal saat ini masih 90 persen lebih rendah dibandingkan masa sebelum perang meletus! Artinya, dari 100 kapal yang biasanya melintas, hanya tersisa kurang dari 10 kapal yang berani melintas setiap harinya. Angka ini tentu menjadi pukulan telak bagi rantai pasok energi global.
Mengapa Iran Menutup Selat Hormuz? Ini Sebabnya!
Iran tidak serta-merta menutup selat ini tanpa alasan. Negara tersebut dengan tegas menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah bentuk balasan atas serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu. Dengan kata lain, Iran sedang memainkan kartu as geopolitiknya untuk menekan dua musuh bebuyutannya itu.
SELAT HORMUZ TAK AKAN PERNAH SAMA LAGI!
Sementara itu, pernyataan mengejutkan justru datang dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Mereka secara blak-blakan menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sediakala. “Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke keadaan semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel,” tegas IRGC dalam sebuah unggahan di media sosial yang dikutip langsung dari Al Jazeera.
Lebih mencengangkan lagi, IRGC mengklaim bahwa mereka kini berada pada tahap akhir persiapan operasional untuk menerapkan “tatanan baru” di Selat Hormuz. Pertanyaannya kemudian: tatanan seperti apa yang dimaksud? Apakah akan ada pemeriksaan militer secara acak? Atau justru sistem konvoi wajib bagi semua kapal yang lewat?
Rancangan Undang-Undang Kontroversial
Pernyataan militan dari IRGC ini muncul hanya beberapa hari setelah komite parlemen Iran menyetujui sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang sangat kontroversial. Melalui RUU tersebut, Iran berencana memberlakukan biaya transit bagi setiap kapal yang melewati jalur perairan utama ini.
Wajib Bayar Pakai Mata Uang Iran!
Menurut laporan media lokal Iran, proposal RUU itu mencakup beberapa poin penting. Pertama, biaya transit harus dibayarkan dalam mata uang nasional Iran, bukan dolar atau euro. Kedua, Iran akan memberlakukan larangan transit total bagi kapal-kapal berbendera AS dan Israel. Ketiga, negara-negara yang ikut serta dalam sanksi sepihak terhadap Iran juga akan mendapatkan pembatasan ketat.
Kedaulatan Penuh atas Selat Hormuz
Tidak berhenti di situ, rencana besar Iran tersebut juga mencakup ketentuan tegas mengenai kedaulatan penuh Iran atas Selat Hormuz. Selain itu, RUU ini turun mengatur kewenangan angkatan bersenjata Iran, keamanan maritim, isu lingkungan hidup, hingga kerja sama hukum dengan negara tetangga, Oman.
NEGARA-NEGARA TELUK PANAS! Ingin Buka Selat Hormuz Pakai Kekuatan Militer
Sebelum rentetan peristiwa ini terjadi, negara-negara Teluk yang panik akibat terganggunya jalur minyak mereka telah berupaya mati-matian membuka kembali Selat Hormuz menggunakan kekuatan militer. Upaya itu mereka bawa melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Rusia-China-Perancis Menggagalkan!
Namun, apa yang terjadi? Rusia, China, dan Perancis secara tegas dan bersama-sama menggagalkan draf resolusi tersebut. Ketiga negara adidaya ini bahkan menyatakan akan menentang habis-habisan segala bentuk bahasa yang mengizinkan penggunaan kekuatan militer di Selat Hormuz. Mengapa mereka begitu vokal? Karena Rusia, China, dan Perancis termasuk di antara lima anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto. Satu suara dari mereka saja sudah cukup untuk menjegal resolusi apapun.
Poin Paling Panas: “Segala Cara yang Diperlukan”
Sumber internal diplomatik menyebutkan, poin yang menjadi perdebatan paling sengit dalam sidang tersebut adalah pemberian wewenang bagi negara anggota untuk menggunakan “segala cara yang diperlukan” demi mengamankan navigasi di Selat Hormuz. Frasa ini dalam bahasa diplomatik sering kali diterjemahkan sebagai izin untuk menggunakan kekuatan senjata.
Menlu Bahrain: Iran Mengkhianati Tetangganya!
Dalam sidang Dewan Keamanan yang digelar Kamis (2/4/2026), Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Al Zayani, naik pitam. Ia mengatakan bahwa niat agresif Teheran merupakan bentuk pengkhianatan yang nyata terhadap negara-negara tetangga Arab. Tidak hanya itu, Al Zayani juga menuduh Iran melanggar hukum internasional.
Sasaran Sipil Juga Terseret
Menurut pengakuan Al Zayani, Iran tidak hanya menargetkan instalasi militer. Negara Persia itu disebut telah menargetkan bangunan-bangunan sipil seperti bandara internasional, stasiun pemurnian air, pelabuhan komersial, dan bahkan hotel-hotel berbintang. Serangan terhadap infrastruktur sipil ini tentu melanggar berbagai konvensi perang internasional.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

