YOGYAKARTA, Desapenari.id – Siapa sangka, tuberkulosis (TBC) punya “masa tenang” setelah menyerang tubuh! Berbeda dari bayangan banyak orang, gejala penyakit mematikan ini ternyata tidak langsung muncul begitu seseorang tertular kuman.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dr. Rina Triasih, dengan tegas menjelaskan bahwa gejala TBC baru akan berkembang setelah rentang waktu sekitar 4 hingga 12 minggu pasca penularan. Ya, Anda tidak salah baca! Bisa sampai tiga bulan baru terasa.
“Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” ungkap Rina dalam pernyataannya yang dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (8/4/2026). Bayangkan, selama berbulan-bulan penderitanya tak menyadari, sementara kuman terus menyebar ke orang-orang terdekat!
JANGAN SEpeLEKAN! TBC SAMA MEMBUNUHNYA DENGAN COVID-19
Di Indonesia, TBC masih menjadi momok menakutkan. Jangan kira penyakit kuno ini sudah terkendali! Faktanya, jumlah kasus dan kematian akibat TBC masih sangat tinggi. Bahkan, tingkat bahayanya disebut tidak kalah dibandingkan Covid-19 yang sempat menggemparkan dunia.
Coba cermati data ini: Indonesia saat ini duduk di peringkat kedua dunia dalam hal jumlah kasus TBC. Setiap tahun, negara kita mencatat 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian akibat TBC. Angka yang sangat fantastis, bukan?
“Ini sama bahayanya dengan Covid. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” tegas Rina lagi. Masyarakat seringkali lengah, padahal ancamannya nyata dan mematikan!
Menurut Rina, tingginya angka kasus sebenarnya juga bisa mencerminkan sisi positif, yaitu semakin baiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi. Artinya, pemerintah mulai gencar mencari penderita yang selama ini “tersembunyi” di masyarakat.
Namun, ia juga tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan berat dalam pengendalian TBC. Mulai dari ketimpangan akses layanan kesehatan hingga stigma negatif di masyarakat yang masih mengakar kuat. Kondisi menyedihkan ini membuat banyak orang enggan memeriksakan diri, takut dijauhi atau dicap negatif.
“Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuh dokter yang juga pakar kesehatan paru ini. Semakin lama didiamkan, semakin parah kerusakan paru-paru dan semakin banyak orang terpapar.
WASPADA! BATUK BERKEPANJANGAN BISA JADI TANDA MEMATIKAN
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Jangan panik, tapi juga jangan cuek! Untuk menekan kasus TBC, diperlukan pendekatan komprehensif. Strateginya meliputi pencarian kasus secara aktif di masyarakat, pemberian pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pencegahan pada kelompok berisiko tinggi.
“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” pesan Rina dengan penuh harap.
Pemerintah sendiri patut diapresiasi karena terus berinovasi dalam mendeteksi kasus. Beberapa inovasi yang sudah berjalan antara lain pemanfaatan rontgen portable yang bisa menjangkau daerah terpencil, serta pengembangan layanan skrining terpadu di berbagai fasilitas kesehatan.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengabaikan gejala-gejala mencurigakan. Yang paling utama adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu. Jangan tunggu sampai batuk berdarah! Jika Anda atau keluarga mengalami batuk berkepanjangan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” ulang Rina sebagai pesan penutup yang sangat penting.
Ingat, deteksi dini adalah kunci kesembuhan! Jangan biarkan TBC menggerogoti tubuh Anda tanpa diketahui. Dengan mengenali fakta bahwa gejala tidak langsung muncul setelah tertular, kita bisa lebih waspada dan proaktif memeriksakan diri. Mari bersama-sama putus rantai penularan TBC di Indonesia!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

