BANDAR LAMPUNG, Desapenari.id – Harga plastik pembungkus tempe dan tahu kini meroket sampai Rp 1 juta per karung! Akibatnya, para perajin di Bandar Lampung pun kelabakan dan mulai berpikir keras agar usahanya tidak ambruk. Mereka terus memutar otak demi bertahan hidup di tengah tekanan biaya produksi yang kian mencekik.
Lonjakan harga kedelai yang dibarengi kenaikan plastik pembungkus yang tidak masuk akal ini memaksa para perajin lokal berinovasi dengan berbagai cara. Jika tidak, gulung tikar menjadi mimpi buruk yang nyata menghantui mereka.
Kondisi memprihatinkan ini nyata terlihat di sentra produksi tempe Jalan Pajajaran, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim. Di sinilah para pejuang usaha kecil merasakan langsung dampak inflasi yang menggila.
Harga Kedelai Naik Terus Sejak Sebelum Lebaran
Atika (35), seorang perajin setempat, dengan nada kesal mengungkapkan bahwa harga kedelai terus merangkak naik sejak sebelum momen Lebaran 2026. “Kedelai lagi naik, dari harga 9.000 sekarang sudah hampir 11.000 per kilo. Kenaikannya itu sudah terasa dari sebelum Lebaran kemarin,” ujar Atika dengan wajah lesu saat ditemui Selasa (7/4/2026).
Bisa Anda bayangkan, dalam beberapa minggu saja, kedelai melonjak lebih dari 20 persen! Kenaikan seperti ini tentu bukan main-main dampaknya bagi kantong para perajin kecil yang modalnya terbatas.
Plastik Meledak Sampai Sejuta Lebih!
Namun, beban para perajin ternyata tidak berhenti di situ. Mereka semakin terpukul dengan meroketnya harga plastik pembungkus yang benar-benar tidak wajar. Atika menyebutkan, harga plastik ukuran kecil kini naik drastis dari Rp 38.000 menjadi Rp 52.000 per bungkus. Coba bayangkan selisihnya yang mencapai Rp 14.000—uang sebesar itu bisa untuk beli beras sekilo!
Keadaan lebih parah lagi terjadi pada skala pabrik yang lebih besar. Manajer pabrik tahu H. Tikno di Jalan Pulau Morotai, Silvi, memaparkan fakta mengejutkan. Harga satu karung plastik yang sebelumnya hanya Rp 720.000 kini melonjak gila-gilaan hingga menembus Rp 1.000.000! Akibatnya, pengeluaran operasional untuk kemasan membengkak dua kali lipat dari biasanya.
“Biaya pembelian plastik yang sebelumnya sekitar Rp 2 juta per pekan, kini melonjak menjadi Rp 4 juta,” ungkap Silvi dengan nada frustrasi saat ditemui Kamis (9/4/2026). Jumlah fantastis yang membuat kantong perajin menjerit!
Strategi Nekat Bertahan: Kurangi Porsi hingga Bungkus Daun!
Lantas, apa yang dilakukan para perajin menghadapi situasi gila ini? Mereka tidak serta-merta menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan setianya akan kabur. Naikkan harga sedikit saja, pembeli bisa lari ke penjual lain. Karena itulah, mereka memilih jalan tengah yang lebih aman: melakukan efisiensi produksi dengan berbagai cara kreatif.
Atika, misalnya, mengambil langkah berani dengan sedikit mengurangi bobot tempe agar harga jual tetap terjangkau oleh masyarakat. “Paling isinya saya kurangi sedikit, kalau harga saya naikin kan enggak mungkin. Pasti orang-orang enggak mau beli. Untungnya pelanggan saya enggak terlalu komplain karena pengurangan yang saya lakukan tidak banyak,” tambah Atika sambil menghela napas lega Rabu lalu.
Sementara itu, pabrik tahu milik H. Tikno melakukan terobosan yang lebih radikal. Mereka mulai berinovasi dengan menguji penggunaan bahan kemasan ramah lingkungan berupa daun sebagai pengganti plastik! Ide cemerlang sekaligus nekat yang patut diapresiasi di tengah himpitan ekonomi.
“Sekarang kami mulai coba alternatif seperti daun untuk kemasan. Proses ini masih dalam tahap percobaan karena selama ini kami sepenuhnya menggunakan plastik,” jelas Silvi dengan penuh harap. Bayangkan, tahu dan tempe yang biasanya terbungkus plastik bening, kini perlahan berubah penampilan menjadi bungkus daun ala tradisional!
Kendala Bahan Baku Lokal: Pahit dan Tidak Mengembang!
Namun, perjuangan para perajin tidak semulus yang dibayangkan. Upaya mereka untuk beralih ke kedelai lokal sebagai solusi dari mahalnya kedelai impor pun masih menemui jalan buntu yang cukup mengecewakan.
Berdasarkan hasil uji coba yang sudah dilakukan, kualitas kedelai lokal dinilai belum memenuhi standar produksi tahu dan tempe yang baik. Hasilnya tidak mengembang sempurna dan yang lebih parah, cenderung meninggalkan rasa pahit yang tidak disukai pelanggan. Alhasil, mereka masih terjebak dengan kedelai impor yang harganya meroket.
Omzet Merosot Tajam, Untung Tinggal Rp 150 Ribu Per Hari
Penurunan omzet pun tak terelakkan lagi. Atika dengan jujur mengaku keuntungan bersih yang biasa ia kantongi kini menyusut drastis. Biasanya, ia bisa membawa pulang Rp 200.000 per hari. Namun sekarang, angka itu merosot menjadi hanya sekitar Rp 150.000 per hari. Kerugian Rp 50.000 setiap hari! Coba kalkulasikan sendiri dalam sebulan, berapa banyak pemasukan yang hilang dari kantong para perajin kecil ini.
Panggilan Darurat ke Pemerintah: Tolong Stabilkan Harga!
Di tengah keputusasaan, para perajin masih menyisakan secercah harapan. Mereka sangat berharap adanya intervensi nyata dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan baku. Bukan sekadar janji manis, tapi aksi konkret di lapangan.
“Penginnya pemerintah memperhatikan kami, para perajin kecil. Supaya harga kedelai itu tidak melonjak tinggi seperti sekarang. Kalau harga bahan baku stabil, kami kerja juga lebih tenang,” pungkas Atika dengan mata berkaca-kaca.
Kini, nasib para perajin tahu dan tempe di Bandar Lampung menggantung di ujung tanduk. Apakah pemerintah akan turun tangan menyelamatkan mereka? Atau justru kita akan semakin sering melihat tahu tempe unik berbungkus daun di pasaran? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

