GUNUNGKIDUL, Desapenari.id – Siapa sangka, bencana alam unik sekaligus mengerikan kini tengah terjadi di wilayah Banagung, Tileng, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ya, fenomena yang dikenal dengan sebutan sinkhole atau tanah berlubang ini terus menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dari waktu ke waktu.
Berdasarkan pantauan terbaru di lapangan, lubang raksasa yang pertama kali berhasil ditemukan pada tanggal 4 Maret 2026 itu kini dilaporkan telah bertambah besar secara drastis. Bahkan, berdasarkan hasil pengukuran terbaru, diameter sinkhole tersebut saat ini mencapai ukuran yang sungguh fantastis, yaitu sekitar 10 meter! Bayangkan, selebar itu, kira-kira sama dengan panjang dua mobil yang digabungkan menjadi satu.
Petugas Tagana Mengungkap Fakta Menarik di Balik Sinkhole
Menurut keterangan langsung dari personel Tagana Kalurahan Tileng, Bapak Ngatijan, awalnya lubang membahayakan ini hanya memiliki diameter sekitar 2 meter dengan kedalaman yang juga masih 2 meter. “Ceritanya bermula ketika pemilik lahan hendak melakukan aktivitas pertanian seperti biasa, lalu secara tidak sengaja ia mendapati area lahannya yang berada tepat di tengah kebun itu sudah ambles membentuk lubang,” ujar Ngatijan dengan nada prihatin saat ditemui pada Kamis (30/4/2026).
Yang membuat semua orang terkejut, seiring berjalannya waktu, ukuran sinkhole tersebut bertambah sangat pesat hingga beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan kondisi awalnya. Fenomena alam ini benar-benar terjadi begitu cepat di hadapan mata warga sekitar.
Hasil Pengukuran Terbaru Membuat Ternganga
Setelah melakukan pengukuran ulang secara saksama, Ngatijan kemudian membeberkan data yang sungguh mencengangkan. “Coba bayangkan, setelah saya ukur secara detail, lebarnya itu sekarang sudah mencapai 10 meter dan dalamnya juga ikut bertambah hingga menembus 4 meter. Itu sudah saya pastikan dengan alat ukur yang saya bawa ke lokasi,” jelasnya sambil menunjukkan ekspresi serius.
Lebih mengkhawatirkan lagi, lanjut Ngatijan, retakan-retakan tanah yang mengelilingi area amblesan tersebut saat ini panjangnya untuk per hari ini saja sudah mencapai 10 meter. “Dan yang perlu kita waspadai bersama, retakannya itu tidak hanya terdapat di satu sisi saja, melainkan ada beberapa retakan yang memang mengelilingi sinkhole ini dari berbagai arah. Ini indikasi bahwa tanah di sekitarnya masih terus bergerak,” tambahnya dengan nada waspada.
Warga setempat pun mulai dihantui rasa cemas karena selain lubang yang terus membesar, di sekeliling lokasi amblesan juga mulai muncul sejumlah retakan tanah yang membahayakan. Retakan-retakan ini mengelilingi area sinkhole bagaikan jaring laba-laba raksasa yang siap melahap apapun yang berada di dekatnya.
Lahan produktif milik warga yang sebelumnya masih rutin digunakan untuk aktivitas pertanian sehari-hari kini terpaksa harus ditinggalkan sementara waktu. Pasalnya, lubang menganga ini berada tepat di lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi keluarga pemiliknya. Jagung dan singkong yang sempat ditanam pun kini ikut “terdampar” di dasar lubang.
BPBD Bergerak Cepat dengan Langkah Cerdas
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Bapak Edy Winarta, menyampaikan bahwa laporan mengenai fenomena alam ini sudah resmi diterima oleh pihaknya sejak beberapa hari lalu. Saat ini, tim dari BPBD masih melakukan pendataan secara intensif di lokasi kejadian.
“Apa langkah konkret yang akan kami ambil? Untuk penanganan ke depan, biasanya kami akan menggandeng perguruan tinggi terpercaya untuk melakukan koordinasi yang matang dan pengecekan secara langsung di lapangan,” ujar Edy dengan penuh keyakinan saat ditemui di kantornya pada Kamis kemarin.
Pria yang akrab disapa Edy ini dengan tegas menegaskan bahwa setiap tindakan penanganan terhadap sinkhole tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. “Harus diingat, untuk menanggulangi fenomena seperti ini, dasarnya harus dari situ riset atau penelitian yang kredibel terlebih dahulu. Setelah hasil penelitian itu keluar, barulah kita bisa menentukan langkah tindak lanjutnya akan kami lakukan seperti apa. Tidak bisa terburu-buru karena ini menyangkut keselamatan warga dan lingkungan sekitar,” imbuhnya dengan nada penuh kehati-hatian.
BPBD pun saat ini terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah kalurahan setempat, untuk memastikan tidak ada korban jiwa yang jatuh akibat insiden alam ini. Masyarakat diimbau untuk sementara waktu menjauhi area yang telah dipasang garis pembatas demi keselamatan bersama.
Sementara itu, hasil kajian dari perguruan tinggi nantinya diharapkan dapat memberikan rekomendasi teknis yang tepat. Apakah lubang ini akan ditimbun kembali, dibiarkan sebagai objek geowisata, atau bahkan memerlukan evakuasi warga jika retakan terus merambat ke pemukiman? Semua jawaban itu, menurut Edy, akan bergantung pada hasil penelitian menyeluruh yang sedang dipersiapkan.
Yang jelas, fenomena alam yang tergolong langka di Gunungkidul ini kini menjadi perhatian serius tidak hanya bagi warga setempat, tetapi juga para peneliti kebumian dari berbagai universitas. Beberapa mahasiswa geologi bahkan dilaporkan sudah mulai berdatangan ke lokasi untuk melakukan observasi awal.
Satu hal yang pasti, lubang raksasa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa alam memiliki kekuatan luar biasa yang terkadang tidak bisa diprediksi oleh siapa pun. Warga pun berharap langkah cepat BPBD bersama perguruan tinggi dapat segera menghasilkan solusi terbaik demi keselamatan dan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

