LUMAJANG, Desapenari.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi atau Pertamina Dex baru-baru ini benar-benar bikin para pengusaha pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kehilangan akal. Bukan main, mereka akhirnya mengambil langkah drastis dengan menaikkan harga jual pasir sampai 30 persen dari harga sebelumnya. Situasi ini pun langsung menciptakan efek domino ke sektor lain.
Iwan, seorang sopir truk pasir yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi ini, menceritakan dengan nada sedikit frustrasi bahwa saat ini harga pasir untuk satu truk ukuran sedang mencapai Rp650.000. Jumlah ini melonjak cukup signifikan, yaitu naik sekitar Rp200.000 dari harga lama yang hanya Rp450.000 per truk. Dia pun menghela napas panjang saat menjelaskan kondisi ini.
Lebih lanjut, Iwan menerangkan dengan gamblang bahwa kenaikan harga tersebut sebenarnya tidak bersumber dari biaya operasional angkutan pasir yang menggunakan truk. Kok bisa? Ternyata, armada truk pasir miliknya masih menggunakan solar subsidi atau biosolar yang harganya tidak mengalami kenaikan sama sekali. Lantas, apa penyebab utamanya? Iwan dengan tegas menyebutkan bahwa biang keladinya adalah para penambang yang terpaksa menggunakan BBM nonsubsidi untuk mengoperasikan alat-alat berat mereka, seperti ekskavator dan mesin penyedot pasir.
“Kalau untuk operasional truk, Alhamdulillah tidak ada kendala berarti. Tapi, coba bayangkan, alat berat itu kan wajib pakai Dex, tidak boleh pakai biosolar. Makanya, otomatis harga pasir dari hulu langsung terdongkrak naik,” ujar Iwan dengan nada tegas saat ditemui pada Kamis (7/5/2026).
Untuk menyiasati kondisi pasar yang kian tidak bersahabat ini, Iwan pun mulai melakukan taktik tersendiri. Biasanya, dia sengaja membeli pasir dalam jumlah yang lebih banyak dari permintaan normal para penambang. Cara ini dia tempuh agar tetap bisa bernafas di tengah tekanan biaya produksi. Kelebihan pasir dari pembelian borongan itu tidak akan dijual semuanya.
“Nah, dalam satu truk itu kan kapasitasnya biasanya tujuh kubik. Sekarang, saya sering minta diisi delapan hingga sembilan kubik. Kelebihan sekitar 1,5 atau 2 kubik itu, sengaja saya turunkan dan timbun di rumah. Itulah tabungan kami untuk masa sulit. Hasil dari timbunan itulah yang nanti kami jual sedikit demi sedikit agar istri dan anak-anak tetap bisa makan,” jelasnya dengan polos.
Di sisi lain, Antok, seorang pengusaha yang memiliki stockpile pasir besar di Kecamatan Pasirian, Lumajang, mengungkapkan keresahan yang berbeda. Dia mengakui bahwa dirinya tidak berani menaikkan harga pasir terlalu tinggi meskipun tekanan biaya terus menggunung. Pria ini hanya mampu menaikkan harga pasir sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per truk. Mengapa ragu-ragu? Karena permintaan pasir Lumajang saat ini sedang sangat sepi pembeli.
“Kenaikan harga sudah mulai terasa sekitar tanggal 18 April 2026 lalu. Kenaikan harga solar nonsubsidi ini benar-benar membuat pekerjaan kami tambah bingung. Hari-hari seperti ini, kami hanya bisa pasrah dan berusaha tidak ambil untung banyak,” keluh Antok dengan wajah sumringah namun penuh beban.
Dampak naiknya harga pasir imbas kenaikan solar nonsubsidi ini juga langsung terasa hingga ke sektor hilir. Para penyedia jasa konstruksi dan pembuat bahan bangunan ikut terempas gelombang kenaikan. Achmad Ardiansyah, seorang kontraktor andal di Lumajang, dengan terpaksa mengonfirmasi bahwa dirinya sudah menaikkan harga jual batako hingga paving block sebesar Rp200 per biji. Keputusan pahit ini diambil bukan tanpa alasan.
Kenaikan itu terjadi karena harga beli pasir dengan kualitas super yang biasa dia pakai melonjak drastis. Dari sebelumnya Rp900.000, sekarang dia harus merogoh kocek hingga Rp1,1 juta untuk satu ritase pasir pilihan. Ardiansyah pun menegaskan bahwa kenaikan harga batako dan berbagai produk turunan pasir lainnya dilakukan semata-mata untuk menjaga kualitas barang produksinya. Dia tidak mau mengecewakan pelanggan setianya dengan menurunkan standar bahan baku.
“Memang di pasaran, ada juga pasir yang kenaikannya tidak terlalu signifikan atau murah. Namun, kadang barang seperti itu kualitasnya campuran atau kurang bagus. Karena itu, saya tetap memilih pasir yang paling bagus dan berkualitas tinggi. Dengan cara ini, kualitas produksi batako dan paving kami tetap terjaga dan tidak mengecewakan pelanggan,” tutur Ardian dengan penuh tanggung jawab.
Menariknya, meskipun tekanan ekonomi mulai terasa di berbagai lini, Ardian mengaku bahwa usahanya belum mengalami kerugian secara finansial. Namun, dia tidak menampik bahwa keuntungan yang biasa dia raih setiap bulannya pasti akan berkurang secara signifikan akibat kenaikan biaya bahan baku ini. Seluruh rantai pasok kini sedang beradaptasi dengan harga baru yang kurang bersahabat.
“Kalau sampai rugi sih belum, untungnya belum sampai ke arah sana. Namun, tentu saja, para pengusaha seperti saya harus lebih irit. Yang namanya keuntungan pasti akan tergerus dan berkurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya,” pungkas Ardiansyah sambil tersenyum tipis, mewakili kegundahan para pelaku usaha di Lumajang yang sedang berjuang di tengah badai kenaikan harga energi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

