MAGETAN, Desapenari.id — Bayangkan, dalam sebulan terakhir ini, Haryadi, seorang pedagang sapi kawakan di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur, mendapati harga sapi kurban terus meroket tajam. Menjelang Idul Adha, ia pun mengakui bahwa lonjakan permintaan pasar secara signifikan mendongkrak harga jual sapi di lapaknya. “Kenaikan sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir, persis saat umat Muslim mulai bersiap menyambut Iduladha. Rata-rata, harga melonjak antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per ekor. Namun, perlu dicatat, besaran kenaikan ini sangat tergantung pada bobot tubuh dan jenis sapi yang ditawarkan,” jelasnya dengan nada bersemangat kepada wartawan pada Rabu (13/5/2026).
Selain karena lonjakan kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi, para peternak juga mengamati bahwa populasi sapi di wilayah Magetan secara drastis mengalami penurunan. Oleh karena itu, banyak pengamat yang mencurigai fenomena kelangkaan stok inilah yang menjadi biang utama dari kenaikan harga yang meresahkan ini. Untuk mengatasi situasi tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, secara agresif menggencarkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di berbagai pasar hewan dan titik-titik kumpul ternak. Mereka tidak ingin warga mendapatkan hewan yang sakit.
Secara paralel, tim medis juga melakukan pemeriksaan kesehatan tersebut bersamaan dengan pelaksanaan vaksinasi massal Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terus digalakkan. Nur Haryani, selaku Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, menegaskan bahwa saat ini petugas kesehatan hewan harus bekerja ekstra keras atau bekerja ganda. Mengapa demikian? Karena mereka dituntut untuk memastikan setiap ternak yang dijual di pasaran benar-benar dalam kondisi prima dan layak dijadikan hewan kurban. “Kami memiliki tekad bulat untuk memastikan bahwa seluruh hewan kurban berada dalam kondisi sehat dan secara syariat memenuhi semua kriteria yang ditentukan,” ujar Nur Haryani dengan penuh keyakinan.
Populasi Sani Menurun Drastis, Peternak Mulai Kelimpungan
Lebih lanjut, Nur Haryani mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan. Populasi sapi di Magetan, menurutnya, mengalami penurunan yang sangat drastis pasca merebaknya wabah PMK beberapa waktu lalu. Sebagai gambaran, pada tahun 2020 yang lalu, populasi sapi di daerah ini mencapai angka sekitar 117.000 ekor. Namun, kondisi berubah seratus delapan puluh derajat karena kini jumlahnya tersisa hanya sekitar 68.900 ekor untuk sapi potong. “Pasca serangan PMK, tingkat reproduksi ternak ikut terpengaruh secara signifikan. Akibatnya, saat ini para peternak merasa cukup kesulitan untuk mendapatkan sapi bakalan yang berkualitas,” imbuhnya sambil menghela napas.
Wajib Tahu! Harga Sapi Naik, Tapi Kambing Justru Malah Merosot
Tidak bisa dipungkiri, penurunan populasi sapi ini langsung berdampak pada kenaikan harga hewan kurban pada tahun ini. Ironisnya, di saat yang bersamaan, harga kambing dan domba justru menunjukkan tren penurunan. Fenomena overproduksi menjadi penyebab utamanya, mengingat banyak peternak yang sebelumnya beralih memelihara kambing pasca wabah PMK melanda. Nur Haryani menyebutkan bahwa saat ini harga kambing yang sudah siap potong turun sekitar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per ekor. Sementara itu, harga sapi terus mengalami peningkatan karena keterbatasan stok yang sangat terbatas. “Untuk sapi, nominal pastinya masih terus kita pantau, namun yang jelas ada lonjakan harga. Sedangkan untuk kambing seperti domba, memang terjadi penurunan harga hingga Rp 500.000 dari harga normal,” katanya memberikan perbandingan yang kontras.
Meskipun harga sapi melesat tinggi, masyarakat Magetan tidak perlu panik. Dinas setempat menjamin bahwa kebutuhan hewan kurban untuk masyarakat Magetan tetap aman. Hal ini dapat terwujud meskipun sebagian pasokan sapi terpaksa harus didatangkan dari luar daerah untuk menutupi kekurangan lokal. Yang lebih menarik lagi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan saat ini tengah mengusulkan seekor sapi super berbobot lebih dari satu ton sebagai hewan kurban untuk Presiden Prabowo Subianto. “Kami masih terus mengusulkan dan saat ini kami masih menunggu hasil verifikasi apakah sapi tersebut memenuhi semua persyaratan. Bobotnya sudah di atas satu ton. Pemiliknya? Masih kami rahasiakan untuk sementara. Namun yang jelas, jika sudah dipastikan positif dibeli oleh Pak Prabowo, akan kami kabarkan kepada publik,” tutup Nur Haryani dengan nada misterius dan penuh antusias.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

