MAGETAN, Desapenari.id – Kabupaten Magetan, Jawa Timur, kini menghadapi fenomena memprihatinkan. Lahan kedelai di wilayah ini terus menyusut drastis dari tahun ke tahun. Parahnya lagi, pada 2025, luas tanam kedelai hanya tersisa sekitar 214 hektare saja. Lahan sempit itu pun tersebar hanya di lima kecamatan.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata, minimnya program pengembangan palawija menjadi biang kerok utama. Selain itu, para petani juga mengeluhkan keuntungan panen kedelai yang sangat rendah. Akibatnya, mereka pun kompak beralih profesi ke tanaman padi. Dengan kata lain, padi kini lebih memikat hati para petani Magetan.
Penyusutan Dimulai Sejak 2022, Program Palawija Lenyap dari APBD
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Magetan, Romandhon, mengungkapkan fakta mengejutkan. Menurutnya, penyusutan lahan kedelai mulai terjadi sejak 2022. Pada tahun itu, program palawija tidak lagi masuk dalam kegiatan APBD. Akibatnya, petani pun kehilangan dukungan dan arahan.
“Data terbaru tahun 2025 kemarin, lahannya hanya tersisa 214 hektare. Lahan itu tersebar di lima kecamatan, seperti Kartoharjo dan sekitarnya,” jelas Romandhon saat ditemui pada Kamis (21/5/2026). Ia pun menambahkan bahwa kondisi ini sangat kontras dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Sekarang, pemerintah lebih memfokuskan diri pada peningkatan produksi padi. Mengapa demikian? Tujuannya jelas, yaitu mendukung program swasembada pangan nasional. Salah satu program unggulan yang mereka jalankan adalah peningkatan indeks pertanaman atau IP 400. Jadi, tidak heran jika palawija seperti kedelai semakin tersisihkan.
“Program untuk palawija seperti kedelai sudah tidak masuk lagi dalam kegiatan APBD sejak 2022. Pasalnya, Magetan kini fokus pada percepatan swasembada pangan melalui tanaman padi,” tegas Romandhon.
Harga Kedelai Jeblok, Petani Merugi Besar-besaran
Selain tidak adanya dukungan program, masalah lain ikut memperparah situasi. Rendahnya harga jual kedelai di tingkat petani menjadi pemicu utama penyusutan lahan. Bayangkan, dalam satu hektare lahan, hasil panen kedelai hanya berkisar 1,6 ton hingga 2,6 ton. Itu pun belum tentu laku dengan harga bagus.
Lebih parahnya lagi, harga jual kedelai pada 2022 hanya sekitar Rp7.000 per kilogram. Dengan harga semurah itu, para petani mengaku tidak memperoleh keuntungan yang sebanding. Bahkan, mereka cenderung merugi karena biaya produksi lebih tinggi dari pendapatan.
“Harga kedelai saat itu rendah sehingga petani merasa kurang untung, bahkan cenderung rugi. Akhirnya, banyak dari mereka yang beralih menanam padi,” papar Romandhon dengan nada prihatin.
Padi Lebih Menjanjikan, Harga Gabah Sedang Melambung Tinggi
Lantas, mengapa petani begitu antusias beralih ke padi? Jawabannya sederhana. Mereka kini lebih memilih menanam padi karena hasilnya jauh lebih menjanjikan. Apalagi, harga gabah saat ini sedang bagus-bagusnya. Kondisi ini jelas kontras dengan kedelai yang harganya tak kunjung membaik.
“Kalau dibandingkan dengan padi, tentu petani lebih memilih menanam padi karena hasilnya lebih menjanjikan. Apalagi harga gabah saat ini cukup bagus,” ungkap Romandhon tanpa ragu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa petani sangat responsif terhadap sinyal pasar dan kebijakan pemerintah. Ketika pemerintah gencar mendorong padi dan harga gabah tinggi, mereka pun berbondong-bondong meninggalkan kedelai. Sayangnya, hal ini berdampak pada menyusutnya lahan kedelai secara signifikan.
Masih Ada yang Menanam Kacang Tanah dan Kacang Hijau, Namun…
Meskipun lahan kedelai terus menyusut, kabar baiknya masih ada petani yang bertahan dengan palawija lain. Beberapa petani di sejumlah kecamatan masih menanam kacang tanah dan kacang hijau. Namun, jangan bayangkan luasnya besar. Luas tanam kedua komoditas itu sangat terbatas.
Bahkan, penanamannya pun tidak bisa dilakukan sepanjang tahun. Umumnya, para petani hanya melakukan penanaman sekali dalam setahun. Waktunya pun spesifik, yaitu pada periode Juni hingga Agustus. Artinya, di luar bulan-bulan itu, lahan-lahan tersebut kemungkinan besar akan ditanami padi atau dibiarkan kosong.
Dampak Jangka Panjang: Magetan Bisa Kehilangan Kedelai Selamanya?
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Magetan akan kehilangan komoditas kedelai selamanya. Pasalnya, dengan luas lahan yang terus menyusut hingga tinggal 214 hektare, produktivitas kedelai pun ikut merosot. Apalagi tanpa program pengembangan yang jelas dari pemerintah.
Petani jelas lebih memilih kepastian untung daripada spekulasi rugi. Selama harga kedelai masih rendah dan program pemerintah masih fokus ke padi, mereka akan terus beralih. Oleh karena itu, dibutuhkan terobosan kebijakan yang lebih berpihak pada palawija jika ingin menyelamatkan lahan kedelai di Magetan.
Kesimpulan: Nasib Kedelai di Tangan Kebijakan dan Harga
Kesimpulannya, penyusutan lahan kedelai di Magetan bukanlah isapan jempol belaka. Dimulai dari hilangnya program palawija dari APBD sejak 2022, lalu diperparah dengan harga jual yang murah meriah, petani pun tak punya pilihan lain. Mereka akhirnya memilih menanam padi yang lebih menguntungkan.
Kini, lahan kedelai hanya tersisa 214 hektare dan tersebar di lima kecamatan. Sementara itu, kacang tanah dan kacang hijau masih bertahan meski dengan luasan terbatas. Semuanya tergantung pada kebijakan pemerintah dan fluktuasi harga di masa depan. Apakah Magetan masih bisa mempertahankan kedelainya? Waktu yang akan menjawab.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

