BLORA, Desapenari.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Jawa Tengah lagi sibuk menambal lubang di ruas jalan Randublatung – Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Selasa (9/6/2026). Wakil rakyat pasti bertanya-tanya, dari mana dana darurat ini?
Nah, kegiatan penambalan lubang jalan pakai aspal panas ini dipantau langsung oleh Kepala DPUPR Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro. Beliau tidak datang sendirian, tapi bersama jajaran pejabat lainnya. Mereka semua turun tangan memastikan lubang-lubang menganga itu segera tertutup rapat.
Di tengah kesibukan itu, Henggar pun membocorkan kabar gembira. Menurut dia, ruas jalan provinsi Randublatung – Cepu bakal diperbaiki besar-besaran. Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 34 miliar pada tahun 2026 ini. Wow, fantastis!
Henggar menjelaskan lebih detail, “Jadi alokasi awal yang tersedia di kami ini kan cuma Rp 5,276 M. Jujur, itu kurang banget. Tetapi, berdasarkan perkada (peraturan kepala daerah) yang terakhir, kami mendapat tambahan anggaran lagi sebesar Rp 28,7 miliar.” Bayangkan, hampir enam kali lipat dari alokasi awal!
Dengan tambahan segar ini, Henggar pun optimistis. “Jadi harapannya nanti untuk ruas yang di Doplang Randublatung Cepu ini bisa terselesaikan dengan baik,” ucap dia kepada wartawan sambil tersenyum lega. Jalan mulus pasti dinanti warga.
Lalu, apa pemicu utama penambahan anggaran gila-gilaan ini? Ternyata, semuanya dipicu oleh aksi unjuk rasa warga yang kreatif. Mereka melakukan aksi tanam pohon pisang dan dilanjutkan dengan blokade jalan. Langkah ekstrem, tapi manjur!
Pihak DPUPR pun mengakui bahwa penambahan alokasi anggaran tersebut tidak lepas dari aksi tanam pohon pisang yang dilakukan warga Blora pada 31 Mei 2026. Aksi itu kemudian berlanjut menjadi blokade jalan dengan pohon pisang pada Kamis (4/6/2026). Efek pohon pisang ternyata dahsyat!
Henggar pun mengomentari aksi tersebut dengan bijak. “Jadi di satu sisi, walaupun itu sebenarnya juga salah satu pemicu ya, tapi pada sisi yang lain, langkah yang diambil oleh Pak Gubernur itu adalah langkah tepat.” Artinya, protes warga tidak sia-sia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Gubernur memang ingin meningkatkan infrastruktur. “Langkah itu kami lakukan untuk bagaimana kita melakukan peningkatan ruas jalan provinsi, utamanya di seluruh wilayah provinsi Jawa Tengah,” terang dia dengan tegas. Aspal mulus jadi prioritas utama.
Kabar lain yang tak kalah menggembirakan, pihak DPUPR menyebut ada alokasi tambahan anggaran raksasa sekitar Rp 200 miliar. Angka itu khusus untuk memperbaiki seluruh ruas jalan provinsi yang ada di Jawa Tengah. Banjir dana perbaikan jalan!
Namun, semua kabar baik itu harus dibaca dengan hati-hati. Meskipun penambahan anggaran sudah mengalir deras, pihak DPUPR justru mengakui adanya ancaman baru: naiknya harga dollar. Ya, nilai tukar yang bergerak liar ini ikut berpengaruh signifikan pada harga material.
Bukan rahasia lagi, kenaikan harga dollar secara otomatis membakar harga bahan baku aspal dan lainnya. Biaya perbaikan jalan pun ikut terimbas naik. Jangan kaget kalau proyek jadi lebih mahal dari hitungan awal.
Henggar pun mengeluh sedikit. “Ya pasti lah. Pasti hitungan itu semua sekarang berpengaruh.” Bahan bakar minyak (BBM) saja ikut terdampak. “Dex aja sekarang yang untuk solar industri itu nilainya juga tinggi,” keluhnya. Semua komponen merangkak naik.
Yang paling menyedihkan, harga aspal ikut melonjak drastis. “Di sisi yang lain, harga aspal pun sekarang ini naik kurang lebih kisaran Rp 2 jutaan ya per drum,” kata dia dengan nada sedikit frustrasi. Coba bayangkan, satu drum saja bisa lebih mahal dari harga sepeda motor bekas.
Kesimpulannya, perbaikan jalan di Blora memang mendapat suntikan dana besar berkat aksi pohon pisang. Namun, guncangan ekonomi global melalui kenaikan dollar ikut memukul biaya konstruksi. Aspal mahal dan solar industri tinggi menjadi momok baru yang tidak bisa dihindari.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

