Jakarta, Desapenari.id – Tepat pada Minggu (21/6/2026), Halte Setiabudi yang selama ini dikenal sebagai persinggahan para pekerja di kawasan Rasuna Said, secara resmi menyandang nama baru: Halte Setiabudi Integritas Satu. Pergantian nama ini bukan sekadar ganti papan, melainkan buah kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diumumkan secara meriah di lokasi halte tersebut.
Peresmian nama baru halte ini digelar bersamaan dengan acara yang lebih besar, yakni peresmian penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said yang dipimpin langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Dalam momentum yang sama, sang gubernur tak hanya meresmikan wajah baru jalan protokol tersebut, tetapi juga secara simbolis memperkenalkan nama baru halte yang diharapkan menjadi pengingat bagi setiap warga yang melintas.
Gubernur Pramono Anung dengan antusias menjelaskan kepada awak media bahwa perubahan nama halte ini merupakan salah satu terobosan baru dalam pengelolaan fasilitas umum di Jakarta. Ia menyebutkan, langkah ini memanfaatkan skema naming rights atau hak penamaan yang mulai populer di kota-kota besar dunia. “Kita akan punya halte yang namanya Setiabudi Integritas Satu,” ujar Pramono dengan penuh semangat di atas panggung peresmian, Minggu siang. Menurutnya, ini bukan hanya tentang ganti nama, tetapi tentang bagaimana Jakarta mulai berpikir kreatif dalam membangun kota.
Yang menarik dari skema ini, Pramono menekankan bahwa seluruh pembiayaan untuk penamaan dan penataan halte tersebut tidak menguras kantong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sama sekali. Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau menegaskan bahwa biayanya murni bersumber dari kerja sama hak penamaan dan iklan komersial yang dipasang di sekitar area halte. “Pembiayaannya sepenuhnya dari naming rights dan juga iklan yang ada. Sehingga inilah cara bagaimana Jakarta membangun kotanya, tidak semata-mata bergantung pada APBD, tetapi kita berikan kesempatan naming rights untuk itu,” tegasnya di hadapan para tamu undangan dan jajaran muspida. Dengan cara ini, Pemprov DKI memulai era baru pembangunan infrastruktur yang lebih mandiri dan inovatif.
Sementara itu, suasana haru dan penuh makna terpancar dari Ketua KPK, Setyo Budiyanto, ketika ia naik ke podium untuk menyampaikan sambutannya. Setyo membagikan kisah di balik lahirnya ide cemerlang tersebut kepada publik. Ternyata, gagasan untuk mengubah nama Halte Setiabudi berawal dari momen sederhana namun menginspirasi saat dirinya sedang melakukan perjalanan menggunakan transportasi umum menuju kawasan Kuningan. “Pada suatu saat perjalanan dari Ragunan ke sini tiba-tiba muncul sebuah ide. Kenapa sih kok Halte Setiabudi itu tidak diberikan nama sebuah nama yang bisa menampilkan identitas, baik dari provinsi maupun dari KPK,” kenang Setyo dengan nada reflektif.
Ide spontan itu kemudian dengan cepat ia tindaklanjuti dan koordinasikan dengan jajaran Pemprov DKI Jakarta. Setelah melalui serangkaian diskusi dan pertimbangan yang matang, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk mengusung nama “Setiabudi Integritas Satu” sebagai identitas resmi halte tersebut. Proses koordinasi yang intensif ini menunjukkan keseriusan kedua lembaga dalam menghadirkan nilai-nilai positif ke ruang publik.
Lebih lanjut, Setyo Budiyanto berharap penamaan ini tidak berhenti pada sekadar papan nama atau penanda lokasi bagi para pengguna transportasi umum. Dengan penuh keyakinan, ia menyampaikan bahwa halte ini harus membawa misi besar untuk menanamkan pesan tentang pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari. “Saya yakin ini bukan sekadar nama. Halte ini juga bukan sekadar untuk naik turunnya penumpang. Setidaknya harapan saya dengan sebuah penamaan yang menunjukkan identitas itu bisa menjadi sebuah memori kolektif,” ujar Setyo di hadapan para hadirin yang terdiri dari pejabat dan masyarakat umum.
Ia pun melanjutkan dengan harapan besar agar setiap orang yang singgah atau sekadar melewati halte tersebut akan teringat pada nilai-nilai luhur integritas. Menurutnya, kehadiran nama ini di ruang publik diharapkan mampu membentuk perilaku positif warga. “Orang akan mengingat, orang akan menjaga, akan melakukan sesuatu hal yang positif sesuai dengan namanya,” lanjut Setyo dengan optimisme tinggi. Dengan demikian, halte ini diharapkan menjelma menjadi ikon yang tidak hanya melayani mobilitas, tetapi juga mendidik karakter masyarakat.
Acara peresmian tersebut juga menjadi saksi bisu transformasi besar lainnya, yaitu penataan ulang Jalan HR Rasuna Said. Gubernur Pramono secara resmi meresmikan proyek penataan jalan sepanjang 3,8 kilometer yang dulunya merupakan lokasi “mengerikan” bagi pemandangan kota karena berdirinya tiang-tiang proyek monorel yang mangkrak puluhan tahun. Kini, kawasan tersebut telah berubah drastis menjadi area yang tertata rapi, hijau, dan nyaman bagi para pejalan kaki serta pengguna kendaraan.
Mengakhiri rangkaian acara yang khidmat, Pramono Anung kembali maju ke depan mikrofon untuk membacakan doa dan peresmian. Dengan suara lantang dan penuh kharisma, ia mengucapkan, “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya resmikan penataan Jalan HR Rasuna Said dan naming right Halte Setiabudi Integritas Satu.” Kalimat itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta yang hadir, menandai babak baru bagi wajah transportasi dan tata kota Jakarta yang lebih berintegritas dan modern.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

