Desapenari.id – Bayangkan, delapan bulan lamanya masyarakat Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, harus terkurung dan berjuang seorang diri. Akses utama mereka hancur diterjang banjir bandang dahsyat pada akhir November 2025 lalu, namun hingga kini tak kunjung tersentuh perbaikan dari pemerintah. Daripada terus menunggu dan berpasrah, warga sembilan desa di sana mengambil langkah berani: mereka patungan sukarela, mengumpulkan uang puluhan juta rupiah, dan bahu-membahu membangun sendiri jembatan darurat. Akses darurat inilah yang kini menjadi satu-satunya tali penghubung antara mereka dengan pusat pemerintahan, sekolah, pasar, dan harapan untuk bertahan hidup.
Ketika Kesabaran Habis, Warga Bergerak Sendiri
Sudah delapan bulan lamanya masyarakat Kecamatan Pining menanti-nanti janji perbaikan jembatan utama yang menjadi urat nadi kehidupan mereka. Sejak banjir bandang mengamuk pada akhir November 2025, jembatan permanen sepanjang 100 meter itu luluh lantak tersapu air. Akibatnya, akses ke ibu kota kabupaten, Blangkejeren, terputus total. Selama hampir tiga bulan pertama pascabencana, warga benar-benar terisolasi. Namun, alih-alih terus meratapi nasib, mereka memilih bangkit. Pada Februari 2026, untuk pertama kalinya, warga dari sembilan desa bergotong royong membangun jembatan kayu darurat. Inisiatif ini semata-mata lahir dari keprihatinan dan kemauan kuat untuk tidak terus bergantung pada bantuan yang tak kunjung datang.
Patungan yang dilakukan pun dilakukan dengan cara yang sangat manusiawi. Tidak ada pungutan wajib, tidak ada target mengikat. “Semua masyarakat menyumbang seikhlasnya, sesuai kemampuan masing-masing,” ujar Samudin, warga Kampung Pining yang akrab disapa Tgk Jarot. Dari sembilan desa—Pining, Pertik, Pintu Rime, Ekan, Gajah, Lesten, Pasir Putih, Pepelah, dan Uring—terkumpul dana sekitar Rp30 juta. Nominal yang terbilang kecil untuk ukuran pembangunan infrastruktur, namun nilainya sangat besar karena lahir dari kepedulian dan kerja sama yang tulus. Dengan dana tersebut, mereka membeli kayu, paku, dan peralatan sederhana lainnya, lalu bergotong royong mendirikan jembatan darurat sepanjang 50 meter. Meski jauh lebih pendek dari jembatan asli, bagi warga, itu adalah jembatan kehidupan.
Namun, perjuangan mereka tidak berhenti di situ. Tgk Jarot menceritakan dengan nada prihatin bahwa jembatan darurat yang pertama harus roboh juga karena diterjang banjir susulan. Bayangkan, setelah bersusah payah membangun, mereka harus menyaksikan jerih payah itu kembali hanyut terbawa arus. Tapi semangat warga Pining tidak padam. Mereka kembali menggalang dana, kembali patungan, dan membangun jembatan darurat untuk kedua kalinya. “Kami patungan lagi untuk membuatnya,” ujar Tgk Jarot dengan tegas. Kegigihan ini menunjukkan bahwa bertahan hidup bagi mereka adalah harga mati, bukan sekadar pilihan.
Jembatan Kayu Penopang Roda Kehidupan
Jembatan darurat ini bukan sekadar tumpukan kayu. Ia adalah satu-satunya akses yang menghubungkan Kecamatan Pining dengan pusat pemerintahan Kabupaten Gayo Lues di Blangkejeren. Melalui jembatan inilah anak-anak bisa pergi ke sekolah, para petani membawa hasil kebun ke pasar, dan warga biasa mengurus keperluan administrasi di kantor bupati. Tanpa jembatan ini, seluruh roda kehidupan di sembilan desa akan lumpuh total. Sebelum jembatan darurat berdiri, warga terpaksa menyeberangi sungai dengan risiko tinggi. Mereka mengarungi derasnya arus, terkadang sambil menggendong barang berharga, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Mau tidak mau kami harus memaksakan diri demi mencari nafkah. Sebab, ini satu-satunya jalur yang tersisa,” kenang Tgk Jarot dengan nada lirih.
Keputusan membangun jembatan secara swadaya ini muncul setelah kesabaran warga benar-benar habis. Delapan bulan sudah mereka menunggu tangan pemerintah turun, namun tak ada tanda-tanda perbaikan. “Kami sudah menunggu sekitar delapan bulan, tetapi belum ada penanganan. Karena itu masyarakat berinisiatif patungan,” jelas Tgk Jarot. Bukan tanpa alasan mereka bertindak cepat. Selama akses terputus, berbagai insiden memilukan terjadi. Mobil dan sepeda motor dilaporkan hanyut diterjang sungai. Barang-barang berharga milik warga juga ikut terbawa arus. Bahkan, beberapa warga nyaris kehilangan nyawa saat menyeberang. “Memang tidak sampai meninggal dunia, tetapi kerugiannya cukup banyak,” ungkapnya. Setiap hari, mereka mempertaruhkan keselamatan hanya demi sesuap nasi.
Meski jembatan darurat telah berdiri, kondisi ini tetap jauh dari kata aman. Keberadaannya sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan turun dan debit air sungai meningkat drastis, jembatan darurat tidak bisa dilintasi. Warga pun kembali terisolasi, terpaksa menginap di rumah kerabat di Blangkejeren atau di sisi seberang sungai hingga air surut. Rutinitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka, sebuah siklus yang melelahkan namun harus dijalani. “Kalau hujan, kami tidak bisa melewati jembatan. Terpaksa menginap di rumah saudara di Blangkejeren sampai air sungai surut,” keluh Tgk Jarot.
Menyusuri Luka Pining: Perjalanan Panjang Menuju Kepedihan
Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana, yang turun langsung ke lokasi pada pertengahan Juli 2026, menyaksikan sendiri betapa memprihatinkannya kondisi ini. Rahmat Maulidin, salah satu anggota rombongan, menghela napas panjang saat pertama kali menginjakkan kaki di Kecamatan Pining. Perjalanan yang seharusnya dua jam dari Blangkejeren memakan waktu lebih dari empat jam karena ruas jalan hampir seluruhnya rusak. Sepanjang perjalanan, setiap satu hingga dua kilometer, mereka menemukan badan jalan amblas akibat longsor. Bahkan di beberapa titik, kendaraan harus bergantian melintas karena hanya tersisa setengah badan jalan. Pemandangan yang sama berulang: jalan terputus, tebing longsor, dan warga yang berjibaku membuat jalan alternatif di samping jalan yang ambrol.
“Kami ingin merekam kondisi di dua wilayah ini, khususnya Kecamatan Pining, karena selama ini luput dari perhatian,” ujar Maulidin. Setibanya di sana, mereka mendapati masyarakat seakan sudah pasrah. Bukan pasrah tanpa daya, melainkan pasrah yang diiringi tekad untuk bertahan dengan cara sendiri. Mereka tidak lagi berharap banyak pada bantuan yang tak kunjung datang. Yang mereka lakukan adalah menggerakkan tangan, mengumpulkan dana, dan membangun apa yang bisa dibangun. “Mereka sudah berdamai dengan keadaan, meski kondisi belum pulih sama sekali,” tambah Maulidin.
Kerusakan infrastruktur menjadi masalah paling dominan. Selain jembatan yang hancur, jalan-jalan penghubung antardesa juga dalam kondisi memprihatinkan. Maulidin menceritakan, ketika menuju ke Blangkejeren, mereka bahkan menjumpai sebuah jembatan yang sudah mereng. Meski bangunannya masih berdiri, warga terpaksa memasang papan tambahan agar bisa dilalui. “Sebenarnya jembatan itu tidak layak pakai,” katanya. Warga sudah berusaha membuat jembatan darurat, tetapi banjir susulan merobohkannya lagi. Begitulah perjuangan tak berujung yang mereka hadapi setiap hari.
Situasi ini sungguh memprihatinkan. Kecamatan Pining yang terdiri dari sembilan desa kini bagaikan pulau terpencil di tengah daratan. Padahal, sebelum bencana, wilayah ini cukup ramai dan menjadi lumbung pangan bagi Kabupaten Gayo Lues. Namun kini, petani kesulitan mengangkut hasil panen, harga kebutuhan pokok melonjak drastis, dan anak-anak terpaksa bolos sekolah karena tidak bisa menjangkau ruang kelas mereka. Roda ekonomi berputar sangat lambat, bahkan nyaris berhenti. Semua ini terjadi karena satu jembatan utama yang hancur dan belum kunjung diperbaiki hingga delapan bulan berlalu.
Tgk Jarot pun menyampaikan harapan terbesarnya kepada pemerintah. “Saya berharap pemerintah mempercepat penanganan bencana ini. Tolong turun langsung ke lapangan supaya tahu bagaimana kondisi masyarakat di sini,” pintanya dengan suara bergetar. Bukan kemewahan yang mereka minta, bukan fasilitas mewah. Mereka hanya ingin jembatan permanen yang bisa menghubungkan mereka kembali dengan dunia luar. Jembatan yang tidak roboh saat hujan datang. Jembatan yang memungkinkan mereka melintas dengan tenang tanpa rasa takut setiap hari. Itu saja, namun rasanya begitu jauh dari jangkauan.
Hingga kini, masyarakat masih hidup dalam ketidakpastian. Tidak ada kepastian kapan pemerintah kabupaten, provinsi, atau pusat akan bertindak. Jembatan darurat yang mereka bangun dengan susah payah tetap menjadi andalan, meski hanya berukuran 50 meter—setengah dari jembatan permanen sebelumnya. Setiap kali hujan turun, mereka kembali was-was. Akankah jembatan ini bertahan? Akankah mereka kembali terisolasi? Pertanyaan-pertanyaan ini menghantui mereka setiap hari.
Situasi ini menjadi cermin keprihatinan bagi kita semua. Bagaimana sebuah bencana bisa mengubah hidup ribuan orang, sementara bantuan yang dijanjikan tak kunjung tiba. Namun di balik itu semua, kita juga menyaksikan kekuatan gotong royong yang luar biasa. Masyarakat Pining membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, mereka masih memiliki modal sosial yang sangat kuat—saling peduli, saling membantu, dan tidak mudah menyerah. Mereka tidak menunggu, mereka bergerak. Mereka tidak mengeluh, mereka bertindak. Itulah sesungguhnya semangat yang patut kita contoh.
Kisah Kecamatan Pining adalah pengingat bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan tentang nyawa, mata pencaharian, dan masa depan ribuan manusia. Ketika jembatan hancur, yang ikut hancur adalah akses ke pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Delapan bulan sudah mereka bertahan dengan segala keterbatasan. Sekarang, giliran pemerintah yang harus bergerak cepat. Jangan biarkan mereka terus berjuang sendiri. Jangan biarkan jembatan darurat menjadi satu-satunya harapan mereka. Sudah saatnya pemerintah turun tangan, membangun kembali jembatan permanen, dan mengembalikan harapan yang sempat terkikis.
Karena pada akhirnya, rakyat hanya ingin hidup yang layak dan aman. Mereka layak mendapatkan itu. Dan mereka sudah menunggu terlalu lama.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

