PEKANBARU, Desapenari.id – Hanya dalam kurun waktu satu minggu, teror harimau sumatera kembali mengguncang areal perkebunan di Riau. Akibatnya, dua nyawa melayang dengan cara mengenaskan, sementara satu orang lainnya berhasil selamat meskipun dengan luka yang sangat mengerikan!
Insiden paling anyar terjadi di salah satu wilayah konsesi perusahaan di Kampung Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, pada Selasa malam (21/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Peristiwa nahas itu menimpa Hari Harianto (31), seorang operator pembantu alat berat eskavator yang tengah menjalani tugas rutinnya di area tersebut.
Saat kejadian berlangsung, Hari bersama dua orang rekannya yang bernama Rakha dan Herman memang tinggal bersama di sebuah camp atau pondok kerja yang berada di tengah hamparan lahan perkebunan. Pada malam yang kelam itu, korban memutuskan untuk pergi ke kanal di dekat camp guna buang air besar. Tanpa diduga, momen sederhana itu justru berubah menjadi pertarungan hidup dan mati melawan raja hutan!
Aiptu Dedek Prayoga yang menjabat sebagai Kasi Humas Polres Siak mengungkapkan kronologi mengerikan tersebut. Menurut penuturannya melalui pesan WhatsApp pada Rabu (22/7/2026), kedua rekan korban sontak dikejutkan oleh teriakan histeris minta tolong yang berasal dari arah kanal. Mereka pun langsung menyadari bahwa Hari sedang dalam bahaya besar setelah diterkam oleh satwa dilindungi yang sangat buas itu.
Begitu mendengar jeritan memilukan tersebut, Rakha dan Herman bertindak cepat dengan mengarahkan lampu sorot eskavator ke lokasi kejadian. Cahaya terang yang menyorot tajam itu akhirnya memperlihatkan pemandangan yang sangat mengerikan—tubuh Hari sedang diseret perlahan oleh harimau besar ke arah semak-semak gelap! Beruntungnya, ketajaman sinar lampu tersebut berhasil menyilaukan mata sang predator sehingga harimau itu pun kabur dan melarikan diri kembali ke dalam hutan.
Dengan sigap, kedua rekannya langsung menolong Hari yang saat itu masih dalam kondisi selamat meskipun luka-luka. “Akibat serangan harimau yang ganas, korban mengalami luka cakaran yang cukup parah di bagian dada, belakang telinga, dan bawah ketiak,” jelas Dedek menambahkan detail kondisi korban.
Meskipun Hari berhasil selamat dari maut, namun lukanya tidak bisa dianggap ringan. Ia pertama kali dilarikan ke Puskesmas Pembantu (Pustu) terdekat untuk mendapatkan penanganan awal. Namun karena kondisi lukanya tergolong sangat parah, pihak medis akhirnya memutuskan untuk merujuk korban ke RSUD Tengku Rafian di Kabupaten Siak guna mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan memadai.
Sementara itu, pekan sebelumnya terjadi peristiwa yang jauh lebih tragis di areal perusahaan lain yang berada di Kabupaten Pelalawan, Riau. Di lokasi tersebut, serangan harimau terhadap manusia terjadi secara beruntun dan mengakibatkan dua korban jiwa ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan!
Kasus pertama terjadi pada Selasa subuh (7/7/2026) yang menimpa Jerlin Zalukhu, seorang anak berusia 12 tahun yang masih polos. Jerlin tewas dengan luka menganga di bagian leher saat ia sedang menemani kakaknya mencuci piring di kamar mandi belakang camp tempat mereka tinggal. Ironisnya, korban merupakan anak dari salah satu pekerja perusahaan dan tinggal bersama orangtuanya di camp yang sama.
Tragedi kedua terjadi hanya tiga hari berselang, tepatnya pada Jumat malam (10/7/2026) di area yang tidak jauh berbeda. Kali ini, Eko Prasetyo (29) yang merupakan karyawan perusahaan menjadi korban keganasan harimau sumatera. Ketika ditemukan oleh tim pencari, kondisi Eko sudah sangat mengenaskan dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Menanggapi serangkaian peristiwa mematikan ini, pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bergerak cepat melakukan investigasi. Dari hasil analisis mereka, diketahui bahwa serangan harimau terjadi di lokasi camp yang saling berbeda. Jarak antara camp pertama dengan camp kedua hanya sekitar 6,5 kilometer saja, yang berarti kawasan tersebut memang merupakan habitat atau bahkan sarang dari harimau sumatera itu sendiri!
Sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi lagi serangan susulan yang memakan korban, BBKSDA Riau kini telah memasang dua kandang perangkap khusus untuk menangkap harimau tersebut. Upaya evakuasi ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan baik bagi para pekerja maupun satwa dilindungi itu sendiri.
Tim petugas gabungan dari berbagai instansi terkait masih bertahan di lokasi untuk memberikan rasa aman kepada para pekerja yang kini hidup dalam ketakutan. Keberadaan mereka diharapkan mampu mencegah terjadinya korban jiwa berikutnya, sekaligus menenangkan suasana yang mencekam di areal perkebunan tersebut.
Kronologi tragedi ini menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dengan satwa liar terutama harimau sumatera masih menjadi masalah serius yang perlu segera dicari solusi jangka panjangnya. Apalagi mengingat populasi harimau sumatera yang terus menyusut justru semakin mendorong mereka keluar dari habitat alaminya untuk mencari mangsa, termasuk mendekati pemukiman dan area kerja manusia.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

