CIREBON, Desapenari.id – Sudah empat bulan lamanya warga Desa Karangmulya, Kecamatan Plumbon, harus rela hidup berdampingan dengan gunungan sampah yang semakin meninggi. Tumpukan sampah yang hampir mencapai dua meter ini pun perlahan menutupi akses jalan Gang Bahagia dan membuat aktivitas warga menjadi kacau balau. Setelah sekian lama menunggu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon akhirnya angkat bicara dan memberikan penjelasan resmi mengenai persoalan yang meresahkan masyarakat tersebut.
Pihak DLH pun segera bergerak cepat dengan menjanjikan pengangkutan sampah dalam waktu dekat. Namun, warga tetap harus bersabar karena petugas masih harus menyelesaikan penanganan di wilayah lain yang dinilai lebih mendesak kondisinya. Kabar ini tentu menjadi angin segar sekaligus ujian kesabaran bagi masyarakat Karangmulya yang sudah lama mengeluhkan tumpukan sampah di depan rumah mereka.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pertanaman DLH Kabupaten Cirebon, Suyanto, dengan terus terang mengakui bahwa saat ini seluruh armada pengangkut masih dikerahkan secara maksimal untuk menuntaskan tumpukan sampah di Kecamatan Arjawinangun. Ia pun menjelaskan bahwa pihaknya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan di Arjawinangun karena kondisinya memang jauh lebih darurat.
“Iya, sementara kita lagi mengerjakan pengurasan di Arjawinangun. Mudah-mudahan untuk Karangmulya mungkin dua sampai tiga hari ke depan, atau mungkin lusa atau besok, sudah bisa diangkut ke TPA,” ujar Suyanto ketika ditemui di kantornya pada Senin (3/8/2026). Pernyataan ini tentu membuat warga Karangmulya berharap sekaligus cemas menanti realisasinya.
Mengapa Pengangkutan Sampah Karangmulya Terus Tertunda?
Pertanyaan besar pun menghantui benak warga: mengapa pengangkutan sampah di Karangmulya harus tertunda begitu lama? Suyanto dengan sigap menjelaskan bahwa prioritas penanganan saat ini memang masih terfokus pada wilayah Arjawinangun yang dinilai memiliki tingkat kedaruratan lebih tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, petugas DLH bahkan telah mengangkut hampir 40 truk sampah dari lokasi tersebut, tetapi volume sampah yang menggunung masih sangat tinggi dan proses pembersihan pun belum sepenuhnya rampung.
“Kalau kita sudah selesai di Arjawinangun, secara bertahap Karangmulya sudah mulai kita angkut,” ucapnya meyakinkan. Namun, penundaan ini ternyata bukan tanpa sebab. Ada dua faktor utama yang membuat pengangkutan sampah di Karangmulya tersendat cukup lama.
Pertama, permasalahan klasik yang kerap menghantui pengelolaan sampah adalah kendala di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Suyanto mengungkapkan bahwa proses perpanjangan sewa lahan TPA memakan waktu cukup lama, sehingga operasional pengangkutan sempat terganggu. Belum selesai dengan masalah sewa, TPA pun kembali mendapat trouble karena sempat ditutup selama beberapa hari.
“Iya, kemarin kita ada masalah di TPA. Pertama terkait proses perpanjangan sewa yang cukup lama. Setelah itu ada trouble lagi karena sempat ada penutupan beberapa hari. Jadi ya kita maklumi kondisi itu,” jelas dia dengan nada bersahabat.
Dampak Gunungan Sampah yang Mengancam Kenyamanan Warga
Bayangkan betapa sulitnya hidup dengan tumpukan sampah setinggi hampir dua meter yang menghalangi akses jalan. Inilah yang selama empat bulan terakhir dialami oleh warga Gang Bahagia, Desa Karangmulya. Gunungan sampah tersebut perlahan namun pasti telah menutup sebagian besar akses jalan dan membuat aktivitas warga menjadi sangat terganggu.
Dampak yang dirasakan warga pun sangat beragam dan cukup mengkhawatirkan. Pertama, kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melintasi jalan yang sebagian tertutup sampah. Kedua, pengendara sepeda motor pun harus bergantian melintasi jalan sempit yang tersisa, sehingga sering terjadi kemacetan kecil dan antrean kendaraan. Ketiga, bau menyengat dari tumpukan sampah terus menguar dan mengganggu kenyamanan warga sehari-hari. Keempat, munculnya lalat dan belatung di sekitar permukiman tentu menambah derita warga yang harus menjaga kebersihan lingkungan.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan ini, Pemerintah Desa Karangmulya pun tidak tinggal diam. Mereka dengan sigap berinisiatif menyiapkan lahan di kawasan Sigundul sebagai tempat pembuangan sementara. Namun, DLH menilai langkah ini memang baik untuk jangka pendek, tetapi tidak cukup menjadi solusi permanen bagi permasalahan sampah yang terus bertambah.
“Itu sebenarnya sangat baik untuk sementara. Tapi sampah jangan hanya ditumpuk, harus diproses dulu. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sedangkan sampah plastik dipilah untuk dikirim ke bank sampah. Banyak desa yang sudah mulai melakukan pemilahan seperti itu,” kata Suyanto dengan penuh semangat.
Ia pun menekankan betapa pentingnya pengelolaan sampah berbasis desa agar volume sampah yang dibuang ke TPA dapat dikurangi secara signifikan. Dengan cara ini, beban TPA pun tidak akan terlalu berat dan pengangkutan sampah dapat berjalan lebih lancar.
Kendala Utama Penanganan Sampah di Cirebon
DLH pun dengan rendah hati mengakui bahwa keterbatasan armada menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penanganan sampah di Kabupaten Cirebon. Saat ini, jumlah armada yang tersedia masih sangat jauh dari kebutuhan ideal yang seharusnya terpenuhi.
“Kita sekarang hanya punya 64 armada aktif. Padahal idealnya minimal 120 armada,” ucap Suyanto dengan nada prihatin. Dengan jumlah armada yang terbatas ini, kemampuan pengangkutan sampah hanya mencapai sekitar 400 hingga 600 ton per hari. Sementara itu, produksi sampah harian di Kabupaten Cirebon mencapai sekitar 1.262 ton yang cukup fantastis.
“Artinya setiap hari masih ada sekitar 600 ton sampah yang belum terangkut. Itu terus bertambah setiap harinya,” jelas dia dengan gamblang. Kondisi ini otomatis menyebabkan penumpukan sampah sulit dihindari, terutama di wilayah dengan volume produksi sampah yang sangat tinggi seperti Karangmulya.
DLH pun tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Mereka telah menjalin kerja sama dengan pihak swasta dalam pengolahan sampah. Salah satu perusahaan bahkan telah menyelesaikan tahap studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) dan saat ini tengah menunggu proses lanjutan. Ini tentu menjadi secercah harapan bagi pengelolaan sampah di Kabupaten Cirebon ke depan.
“Kita sudah mengusulkan penambahan armada dan alat berat. Harapan kami sampah tidak semuanya harus dibawa ke TPA, tetapi bisa selesai pengelolaannya di desa. Sekarang juga ada Program Kampung Bersih dengan delapan pendamping yang mengedukasi masyarakat,” katanya optimistis.
Suyanto pun menutup pernyataannya dengan harapan besar. “Mudah-mudahan ada kabar baik untuk Kabupaten Cirebon terkait pengolahan sampah ini,” ujarnya penuh keyakinan. Warga Karangmulya pun kini hanya bisa berharap janji pengangkutan sampah dalam dua sampai tiga hari ke depan benar-benar terwujud, sehingga mereka dapat kembali bernapas lega dan menikmati lingkungan bersih tanpa gunungan sampah yang mengancam.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

