BANYUWANGI, Desapenari.id – Detik-detik penentuan nasib Geopark Ijen kini resmi bergulir. Kawasan kebanggaan Jawa Timur yang baru setahun menyandang status UNESCO Global Geopark (UGG) pada 2023 itu kini menghadapi ujian besar bernama revalidasi. Bukan main-main, dua asesor senior dari lembaga dunia langsung mendarat di Banyuwangi untuk mengorek habis-habisan kelayakan geopark ini. Siapa mereka? Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China. Mereka datang bukan sekadar jalan-jalan, melainkan untuk memutuskan apakah Geopark Ijen layak mempertahankan mahkota kebanggaannya.
Proses penilaian sengit ini berlangsung selama lima hari penuh, terhitung dari 2 hingga 6 Agustus 2026. Wilayah yang disisir tak tanggung-tanggung, mencakup dua kabupaten sekaligus, Banyuwangi dan Bondowoso. Mengapa revalidasi ini begitu krusial? Karena UNESCO mewajibkan evaluasi rutin setiap empat tahun sekali. Hasilnya pun bakal menentukan segalanya lewat sistem kartu yang bikin deg-degan. Green Card berarti perpanjangan status dengan nilai sempurna, Yellow Card menjadi peringatan keras dengan waktu dua tahun untuk membenahi kekurangan, dan yang paling menakutkan, Red Card yang berarti status resmi dicabut! Bayangkan, predikat warisan dunia yang baru setahun didapat bisa melayang begitu saja.
Di Banyuwangi, rombongan asesor memulai petualangan evaluasi mereka dari Pusat Informasi Geologi dan Geopark Ijen atau yang akrab disapa PIGGI. Di tempat inilah tim penilai mengamati langsung koleksi batuan purba, fosil-fosil memukau, hingga mendengarkan paparan detail tentang warisan geologi dan budaya yang dimiliki kawasan Ijen. Ketua Badan Pengelola Geopark Ijen, Abdillah Baraas, menjelaskan dengan nada serius bahwa peninjauan di PIG menjadi bagian krusial dari evaluasi aspek edukasi dan interpretasi. Artinya, UNESCO tak hanya menilai keindahan alam, tetapi juga seberapa baik geopark ini mendidik pengunjung tentang kekayaan geologi dan budayanya. “Ini bukan sekadar pameran batu, tetapi ruang belajar hidup yang harus menunjukkan kualitasnya,” tegasnya saat ditemui, Minggu (2/8/2026).
Namun, penilaian tak berhenti di dalam ruangan. Tim asesor kemudian diajak menyusuri berbagai geosite dan destinasi berbasis masyarakat yang tersebar di kedua kabupaten. Mereka menyambangi keindahan eksotis Taman Nasional Alas Purwo yang menyimpan sejarah panjang, lalu menikmati pesona bawah laut Teluk Biru dan Teluk Pangpang yang memukau. Tak ketinggalan, mereka juga menjelajahi kearifan lokal di Desa Adat Kemiren dan melihat inovasi konservasi di Desa Wisata Wringin Putih. Abdillah menambahkan bahwa kunjungan lapangan ini memiliki tujuan khusus, yakni untuk melihat langsung bagaimana keterlibatan warga dalam menjaga dan mengelola warisan dunia ini. “Asesor juga akan mengunjungi kampung Desa Kemiren Banyuwangi yang berada di kawasan Kawah Ijen dan Desa Wisata Wringin Putih untuk melihat praktik pemberdayaan masyarakat di kawasan mangrove,” tambahnya dengan penuh harap.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tak bisa menyembunyikan rasa tanggung jawab besarnya. Dengan penuh keyakinan, ia menyatakan bahwa predikat dari UNESCO bukanlah sekadar plakat penghargaan, melainkan amanah yang harus dijaga mati-matian. “Geopark Ijen ini bukan lagi hanya milik Banyuwangi, tetapi sudah menjadi milik dunia. Karena itu, melalui revalidasi ini kita ingin memperlihatkan komitmen dan upaya terbaik dalam menjaga warisan dunia ini,” ujar Ipuk dengan mantap. Seluruh elemen masyarakat pun diminta untuk bahu-membahu menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi warisan dunia.
Pertaruhan besar ini tentu menjadi sorotan nasional. Bagaimana tidak, status UNESCO Global Geopark memberikan dampak luar biasa terhadap pariwisata, ekonomi lokal, dan pengakuan internasional bagi Indonesia. Jika Geopark Ijen berhasil mempertahankan statusnya, maka akan semakin banyak wisatawan mancanegara yang melirik keindahan Kawah Ijen yang magis. Namun, jika evaluasi ini berujung pada kartu kuning atau bahkan merah, maka semua upaya keras selama bertahun-tahun bisa sirna dalam sekejap. Semua mata kini tertuju pada hasil akhir asesmen yang akan menentukan masa depan geopark kebanggaan tanah air.
Proses revalidasi yang ketat ini memang menjadi ujian nyata bagi pengelolaan Geopark Ijen. Mulai dari aspek konservasi geologi, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga pemberdayaan masyarakat lokal, semuanya dinilai secara komprehensif. Para asesor bahkan tak segan menggali data-data lapangan secara mendetail untuk memastikan semua standar UNESCO terpenuhi dengan baik. Tim pengelola pun terus bekerja ekstra keras menyiapkan segala dokumentasi dan bukti-bukti konkret selama proses penilaian berlangsung.
Kehadiran dua asesor dari negara maju ini juga menjadi momentum penting untuk menunjukkan citra positif Indonesia di mata dunia. Mereka tidak hanya menilai fisik geopark, tetapi juga mengamati bagaimana sistem pengelolaan, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan program-program pemberdayaan yang dijalankan. Jika semua aspek ini dinilai memuaskan, maka Geopark Ijen berpeluang besar meraih Green Card dan memperpanjang statusnya sebagai warisan dunia.
Kepanikan, harapan, dan kerja keras kini menyatu dalam rangkaian panjang revalidasi Geopark Ijen. Dukungan penuh dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan terus mengalir demi mempertahankan status kebanggaan ini. Semoga hasil akhir dari asesmen ini membawa kabar baik bagi Banyuwangi, Bondowoso, dan seluruh Indonesia. Tunggu kabar selanjutnya, apakah Geopark Ijen akan tetap bersinar sebagai warisan dunia atau harus rela kehilangan mahkotanya? Kita doakan yang terbaik!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

